FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
VIDEONYA sering muncul di beranda. Sering sidak sana, sidak sini. Selalu di lapangan. Kok mirip KDM ya. Saya coba juluki beliau, KDM versi perempuan.
Mari kita kenalan dengan beliau sambil seruput Koptagul, wak!
Negeri Siak itu seperti Istana Asserayah Hasyimiah, megah, anggun, berdiri tenang di tepi Sungai Siak yang alirannya kalem tapi dalam. Lalu datang seorang perempuan, lahir 28 Juni 1985 di Siak Sri Indrapura. Anak keluarga biasa, konon dari penjual lontong, tapi nyalinya? Itu bukan lagi segede gajah, itu sudah level kawanan gajah yang lagi demo di tengah kota.
Namanya Dr. Afni Zulkifli S AP M Si. Bupati Siak ke-5 sejak dilantik 4 Juni 2025. Perempuan pertama di Negeri Istana. Umur 40 tahun, tapi energinya macam arus Sungai Siak pas banjir kiriman, deras, tak kenal rem, dan kalau ikut arusnya, bisa sampai ke hilir tanpa sadar.
Afni ini bukan tipe pejabat duduk manis sambil senyum ke kamera. Dia itu KDM versi perempuan. Tapi, jangan salah. Ini bukan sekadar versi, ini edisi “turbo”. Blak-blakan, tanpa filter, ditambah sarkasme halus yang rasanya seperti sambal belacan, pedasnya pelan, tapi nendang sampai ubun-ubun.
Kariernya pun bukan jalur tol bebas hambatan. Dari jurnalis tajam, dosen Universitas Lancang Kuning, sampai tenaga ahli Menteri KLHK di usia 30-an. Saat orang lain sibuk cari parkiran hidup, dia sudah parkir di halaman kebijakan negara. Lalu pulang ke Siak, bukan untuk nostalgia, tapi untuk “bersih-bersih mesin” pemerintahan.
Hari kedua Lebaran 2026 jadi bukti. Orang lain masih sibuk rebahan sambil seruput sirup, Afni sudah blusukan. Bagi ketupat serundeng, cek pos pelayanan, masuk RSUD, lanjut napak tilas ke SDN 02 Kampung Dalam. Ini bukan kunjungan biasa. Ini seperti ratu turun dari singgasana, tapi langsung masuk dapur rakyat.
Warga langsung bengong, “Ini bupati apa CCTV berjalan?”
Lalu kita ingat momen legendarisnya saat di KLHK. Konflik manusia dan gajah liar. Dengan nada dingin tapi menghantam, dia bilang, “Bukan gajah yang masuk kebun bapak, tapi bapak yang masuk kebun gajah.” Itu bukan sekadar kalimat, itu tamparan ekologis pakai sarung tangan sutra.
Masuk bab yang bikin kepala pening tapi hati senang, mobil dinas. Tahun 2025, vendor datang nagih Rp4,8 miliar. Afni? Bukannya rapat diam-diam, malah bikin video sendiri. Ekspresi polos macam orang baru tahu harga emas naik. “Saya kira ini aset, rupanya sewa.” Dia tolak mobil baru Rp3 miliar, minta keringanan karena anggaran lagi seret. Transparansi level “buka kartu sampai ke joker”.
Belum habis, September 2025 dia geber RX King di drag bike. Gaspol. Siak yang biasanya tenang macam perpustakaan mendadak jadi sirkuit. Netizen teriak, “Ini bupati apa pembalap MotoGP nyasar?”
Masuk ke dapur rakyat, program MBG. Afni dukung, tapi tak mau jadi penonton. Dia tekan, dapur SPPG wajib pakai produk lokal. Perputaran uang bisa Rp1 miliar per dapur per bulan. Kalau uang itu keluar daerah? Sama saja Sungai Siak dialihkan ke negeri sebelah, keringlah ekonomi sendiri.
Saat Ramadan 2026 muncul keluhan makanan tak layak, bahkan busuk, Afni langsung gerak. Surati Badan Gizi Nasional. Di depan guru, dia bilang, “Kalau tak layak, tolak!” Ini bukan sekadar berani. Ini nekat dengan akal sehat. Kecamatan Pusako yang belum tersentuh pun dia sorot tanpa ampun.
Belum lagi urusan sampah. Oktober 2025 di Pasar Tuah Serumpun, Tualang, dia lihat sampah menggunung gara-gara BBM petugas seret. Langsung disemprot, “Rakyat bayar pajak, kok sampah dibiarkan?” Januari 2026 di Dayun, pasar liar KM 55, sampah berserakan, tak ada PAD. Afni ultimatum, benahi atau tutup. Ini bukan marah biasa, ini marah yang ada roadmap-nya.
Bahkan dia pernah pungut sampah sendiri di kawasan Istana. Tanpa sarung tangan. Itu momen yang bikin orang sadar, kadang perubahan bukan dimulai dari rapat, tapi dari tangan yang mau kotor.
Riwayatnya lengkap. SDN 002 Siak, MTs Darul Hikmah, SMAN 1 Siak, S1 Universitas Islam Malang, S2 Universitas Riau, doktor Universitas Pasundan 2020. Dari lontong ke doktor, dari pena ke palu kebijakan.
Afni itu seperti Sungai Siak saat pasang besa, tak bisa dihentikan, hanya bisa diikuti atau disiapkan perahu. Di tengah pejabat yang sibuk poles citra, dia malah poles realita.
Kalau ada yang bilang pemimpin ideal cuma ada di film, suruh datang ke Siak. Di Negeri Istana ini, ada satu perempuan yang bukan cuma duduk di singgasana, tapi berani turun, mengalir, bahkan melawan arus.
2029? Jangan kaget kalau dia naik panggung lebih tinggi. Karena gasnya sudah diinjak dalam-dalam. Lalu, Siak? Lagi menikmati sensasi dipimpin oleh badai yang tahu arah.
“Bang, jangan terlalu dipuji, sedang-sedang saja. Khawatir doa wakil terkabul.”
“Yang bagus tetap kita puji. Tapi, kalau sempat menyimpang, kita siak, eh salah, sikat juga, wak.” Ups
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
