Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah
Opini

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

Last updated: 4 jam lalu
17 jam lalu
Opini
Share

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

TULISAN ke-21 Edisi Ramadan. Satu lagi tokoh antagonis dari sejarah Islam. Orangnya cerdas, hebat, memiliki pengaruh besar. Sayangnya ia pembohong. Dalam bahasa Dayak, “Pangalok” atau “Pak Ulak” dalam bahasa Sambas.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kalau ente baru pertama kali mendengar nama Musaylimah ibn Habib al-Hanafi, bersiaplah. Ini bukan sekadar kisah “nabi palsu” biasa. Ini drama politik abad ke-7 yang kalau difilmkan, rating-nya bisa menyalip serial intrik istana. Lahir sekitar 582 M dan tamat riwayatnya pada 632 M di Yamamah, wilayah yang kini kurang lebih sekitar Riyadh, Arab Saudi, Musaylimah tampil sebagai kombinasi unik antara orator, elit suku, dan politisi yang terlalu percaya diri.

Ia berasal dari Banu Hanifah, suku kuat penguasa lahan subur Najd. Dalam dunia Arab waktu itu, punya tanah subur berarti punya kuasa. Ini bukan sekadar petani biasa. Ini konglomerat agraria versi padang pasir. Fisiknya disebut kuat, lisannya fasih. Bayangkan tokoh yang bisa pidato berjam-jam tanpa teks, dengan gestur penuh wibawa, lalu pulang membawa tepuk tangan massa yang fanatik karena “dia orang kita”.

Menurut catatan klasik seperti Tarikh al-Tabari, Sirah Ibn Hisham, dan Tafsir Ibn Kathir, pada tahun 9 Hijriah atau sekitar 630 M, Musaylimah memimpin delegasi lebih dari sepuluh orang ke Madinah.

Ia menyatakan masuk Islam di hadapan Nabi Muhammad SAW. Ia diberi hadiah, diperlakukan baik. Perannya saat itu hanya menjaga barang bawaan di luar masjid. Namun dalam politik, kadang jabatan kecil bisa ditafsirkan sebagai “sinyal besar”. Sepulangnya ke Yamamah, narasinya berubah. Tiba-tiba ia merasa punya “mandat langit”.

Sekitar akhir 10 Hijriah atau 631 M, ia mulai mengklaim diri sebagai nabi. Tidak tanggung-tanggung, ia menyebut dirinya juga menerima wahyu dan bahkan menggunakan gelar “Rahman”. Ia lalu mengirim surat kepada Rasulullah yang isinya luar biasa percaya diri.

Ia mengaku sebagai mitra kenabian dan mengusulkan pembagian bumi. Setengah untuk Banu Hanifah, setengah untuk Quraisy. Proposal geopolitik ala abad ke-7 ini terdengar seperti negosiasi kursi kabinet. Bagi dua dulu, legitimasi belakangan. Jawaban Nabi tegas dan singkat, bumi milik Allah. Diterjemahkan ke bahasa Madura, “Tanah milik tohan.”

Namun bagian paling epik, dan sekaligus membuat orang modern geleng-geleng kepala, adalah “wahyu” versinya. Ia mencoba meniru gaya saj’ Alquran. Dramatis, berima, penuh repetisi. Hasilnya?

Tentang katak, ia menggubah:

“Yā ḍifdaʿ, yā binta ḍifdaʿayn,

naqī mā tunnaqīn.

Aʿlāki fī al-mā’,

wa asfaluki fī al-ṭīn.

Lā al-mā’a tukaddirīn,

wa lā al-shāriba tamnaʿīn.”

Wahai katak, anak dua katak, berkumurlah sesukamu. Bagian atasmu di air, bawahmu di lumpur. Engkau tidak mengeruhkan air dan tidak menghalangi orang minum. Dramatis? Ya. Revolusioner? Sulit dibuktikan. Lebih mirip lomba baca puisi tingkat RT dengan tema “Fauna Rawa”.

“Bang, katak di situ apakah sama dengan kodok?”

“Sama-sama hewan amfibi, wak.” Ups.

Lalu, ada wahyu tentang gajah pula. Yang jelas ini bukan gajah yang itu ya!

Ayat tentang gajah:

“Al-fīl, wa mā al-fīl,

wa mā adrāka mā al-fīl.

Lahu dhanabun wabīl,

wa khurṭūmun ṭawīl.”

Gajah. Apa itu gajah? Tahukah engkau apa itu gajah? Ia punya ekor besar dan belalai panjang. Struktur retoriknya jelas meniru pola Alquran. Namun isinya terdengar seperti deskripsi buku IPA kelas dasar. Jika ini kampanye, mungkin slogannya: “Kenali Gajah, Selamatkan Najd.”

Menariknya, program sosialnya sangat “populis”. Pengikutnya dibebaskan dari salat. Alkohol dibolehkan. Zina dilegalkan. Aturan dipermudah. Dalam setiap zaman, janji pelonggaran aturan selalu punya pasar. Ribuan orang bergabung. Beberapa riwayat menyebut pasukannya mencapai 40.000 orang. Identitas kesukuan ditambah janji kenyamanan hidup menjadi kombinasi memikat.

Setelah Rasulullah wafat, situasi politik Jazirah Arab memanas. Perang Riddah meletus. Musaylimah tampil sebagai tokoh utama pemberontakan. Ia bahkan beraliansi dengan Sajah bint al-Harith, sesama pengklaim kenabian. Koalisi duo “nabi” ini seperti merger dua partai yang sama-sama yakin elektabilitasnya paling tinggi.

Puncaknya adalah Pertempuran Yamamah pada Desember 632 M. Pertempuran brutal. Ribuan prajurit gugur. Banyak huffaz Alquran wafat di medan perang. Di tengah kekacauan itu, akhir Musaylimah datang melalui tombak Wahshi ibn Harb, orang yang sebelumnya pernah membunuh Hamzah dalam Perang Uhud sebelum masuk Islam. Ironi sejarah terasa kental. Satu tombak, dua babak sejarah.

Dampaknya tidak kecil. Karena banyak penghafal Alquran gugur di Yamamah, Khalifah Abu Bakar memerintahkan pengumpulan dan kodifikasi Alquran secara resmi agar tidak hilang. Dari tragedi lahir langkah monumental.

Kisah Musaylimah al-Kadhab bukan sekadar cerita masa lalu. Ia menunjukkan bagaimana retorika bisa dipoles menyerupai wahyu, bagaimana kekuasaan bisa dibungkus bahasa suci, dan bagaimana massa bisa terpesona oleh janji manis yang terdengar indah. Sejarah abad ke-7 ini terasa sangat modern. Bedanya hanya satu, dulu panggungnya padang pasir, sekarang mungkin layar gawai.

Nantikan kisah menarik selanjutnya, ditunggu ya!

Oleh : Rosadi Jamani [Ketua Satupena Kalbar]

#camanewak

#jurnalismeyang menyapa

#JYM

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Ini bukan sekadar kisah “nabi palsu” biasaIni drama politik abad ke-7 yang kalau difilmkanLahir sekitar 582 M dan tamat riwayatnya pada 632 M di YamamahMusaylimah ibn Habib al-Hanafirating-nya bisa menyalip serial intrik istana
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Syarif Mahmud Alkadrie Pimpin Massa Datangi Polresta Pontianak, Pertanyakan Penanganan Kasus Dugaan SARA
13/02/2026
Polisi Bekuk Pemilik Puluhan Gram Sabu di Jalan Sepakat Ketapang
06/02/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Aksi Bejat di Bak Truk…!! Pemuda Asal Sekadau Hulu Terancam Pidana Berlapis
16/02/2026

Berita Menarik Lainnya

Mengenal Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan yang Baru Saja Di-OTT KPK

5 jam lalu

Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi

02/03/2026

75 Lembaga dan 64 Tokoh Keluarkan Petisi untuk Prabowo agar Keluar dari BoP

22 jam lalu

Perlawanan Guru Honorer dan PDIP terhadap Program MBG

28/02/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang