FOTO : Warga mendorong sepeda motor saat melintas di jalan yang mengalami kerusakan [ ist ]
Pewarta/editor : redaksi
BENGKAYANG [ radarkalbar.com ] – Buruknya infrastruktur di pedalaman Kabupaten Bengkayang tak lagi sekadar merintangi mobilitas, melainkan telah menjelma menjadi ancaman keselamatan jiwa yang menyiksa warga setiap hari.
Jalur ekstrem Jalan Kapot yang populer dengan sebutan Tanjakan S, sebagai akses vital menuju Sungkung I dan Sungkung II, kini berada dalam kondisi hancur lebur dan kian mengisolasi kehidupan masyarakat setempat.
Bagi warga pedalaman, melintasi Tanjakan S bukan lagi soal menempuh perjalanan biasa, melainkan pertaruhan fisik dan nyawa. Beban hidup terasa kian menindih ketika mereka harus mengangkut pasokan bahan pokok dan hasil bumi seberat ratusan kilogram melintasi jalanan licin, curam, serta berlubang dalam. Setiap sentimeter tanjakan curam tersebut menguras tenaga, merusak kendaraan, hingga tak jarang memicu kecelakaan akibat kendali rem yang terlepas di medan terjal.
Kondisi nestapa ini diperparah saat situasi darurat kesehatan terjadi. Warga yang sakit keras atau ibu hendak melahirkan terpaksa ditandu secara manual menembus kubangan lumpur Tanjakan S karena ambulans maupun kendaraan roda empat tak mampu melintas. Ketimpangan fasilitas ini menegaskan betapa tertinggalnya hak dasar warga di perbatasan untuk mendapatkan akses jalan yang layak dan aman.
Jeritan penderitaan tersebut memicu desakan keras dari masyarakat Sungkung kepada Pemerintah Kabupaten Bengkayang dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Warga menuntut aksi nyata berupa pengaspalan permanen dan perbaikan struktur jalan secara menyeluruh, bukan sekadar penanganan ala kadar yang selalu hancur saat musim hujan tiba.
Pemerintah didesak segera turun tangan membongkar isolasi ekonomi dan sosial ini sebelum Tanjakan S menelan lebih banyak korban jiwa. [ Red ]
Publisher : Admin radarkalbar.com
