FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
KAGET juga saya. Rupanya ada buku berjudul Islam ala Prabowo. Bukan judul sinetron Ramadan, bukan pula nama paket isi ulang.
Buku ini benar-benar ada dan diluncurkan ketika Prabowo Subianto menjadi Presiden Republik Indonesia.
Kalau begitu, apakah sebentar lagi muncul Islam ala Partai Koptagul? Tenang. Tidak akan. Partai Koptagul cuma berkuasa di dunia maya. Ups! Yang bakal muncul Islam Borneo.
Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas diterbitkan Atmosphere Publishing House pada 2025. ISBN-nya 9786238967650. Tebalnya sekitar 346–400 halaman. Harganya Rp112.500–Rp125.000.
Penulisannya diinisiasi Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar. Peluncuran resminya dilakukan KH Anwar Iskandar bersama Ketua Baznas Prof. Dr. KH Noor Achmad pada 26 Agustus 2025 di Hotel Mercure Ancol Jakarta, dalam rangkaian Rakornas Baznas 2025. Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir mewakili Presiden.
Ada pula versi lebih awal, April 2025, oleh Media Luhur Sentosa dengan sampul berbeda. Nama Atmosphere Publishing House sempat tidak muncul dalam basis data ISBN Perpustakaan Nasional sehingga status penerbitannya pernah dipertanyakan Samudrafakta.
Isinya? Jangan bayangkan ada bab, “Prabowo Wudu Jam 04.30” atau “Zikir Prabowo Setelah Sarapan.” Bukan begitu. Buku ini merupakan mosaik tafsir tokoh-tokoh lain mengenai dimensi keislaman Prabowo dalam kehidupan pribadi, karier militer, dan kepemimpinannya.
Ahmad Muzani bicara integrasi spiritualitas dan visi kebangsaan. KH Asep Saifuddin Chalim membandingkan semangat Prabowo dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Said Aqil Siradj melihat nasionalisme Prabowo mencerminkan nilai Islam Nusantara. Abdul Mu’ti menyoroti Islam substansi yang pro-rakyat. Ada pula pandangan Yusril Ihza Mahendra, TGB Muhammad Zainul Majdi, AM Hendropriyono, dan Muhadjir Effendy.
Palestina juga menjadi sorotan, termasuk pidato Prabowo pada KTT D-8 Mesir 2024 yang diapresiasi Duta Besar Palestina Zuhair Al Syun.
Mabda Dzikara dari Sanad Media menilai buku ini penting sebagai peta wacana, tetapi lebih apresiatif dan normatif ketimbang catatan spiritual mendalam. Samudrafakta mempertanyakan penerbitan karena adanya dua versi.
Menarik. Sebab politik memang kadang begitu. Realitas berjalan di jalan raya, persepsi naik mobil dinas.
Nah, dari buku ini saya malah teringat gagasan Islam Borneo.
Ide itu saya lontarkan sebelum Rakorda MUI se-Kalimantan. Kemarin, setelah MUI Kalbar membubarkan panitia Rakorda, gagasan tersebut kembali dibicarakan. MUI Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kalsel, dan Kaltara akan membentuk tim penulis masing-masing melalui SK. Setelah resmi terbentuk, buku disusun bersama.
Target peluncuran, tahun depan, saat Kaltara menjadi tuan rumah Rakorda MUI se-Kalimantan. Ketika pertama kali saya lemparkan gagasan itu di media sosial, komentar langsung ramai. Ada yang mendukung, bahkan sudah pesan buku. Padahal bukunya belum lahir!
Ada pula keberatan dengan istilah Islam Borneo, sebagaimana kontroversi Islam Nusantara ketika diperkenalkan NU pada 2015. Ada mengusulkan Islam di Borneo, ada pula Perkembangan Islam di Kalimantan.
Saya justru menikmati perdebatan itu. Artinya, bukunya belum selesai ditulis, tetapi sudah berhasil bikin orang berdiskusi.
Islam Borneo bukan agama baru. Bukan pula mazhab yang harus dicari kiblatnya menggunakan Google Maps. Ia adalah ikhtiar membaca perjalanan, budaya, dakwah, kerukunan, dan praktik nilai Islam masyarakat Borneo.
Kalau Islam ala Prabowo membaca Islam melalui sosok presiden, Islam Borneo membaca Islam melalui perjalanan masyarakat. Pada akhirnya, mau namanya Islam ala Prabowo, Islam Nusantara, atau Islam Borneo, pertanyaan terpenting tetap sama, apakah Islam benar-benar hadir dalam keadilan, kejujuran, kesejahteraan, dan kemanusiaan?
Sebab rakyat tidak membaca agama dari sampul buku saja. Rakyat membaca agama dari perilaku penguasanya.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
