FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
BARU saja merayakan HUT RI ke-81 dengan warga kompleks. Baca doa, makan bersama, ujungnya undian. Tapi, kali ini saya mau membahas negara yang merdekanya se-zaman dengan Indonesia. Walau tahun merdekanya sama atau beda setahun, tapi nasibnya beda.
Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Kita mulai dari Islandia lebih dulu, memisahkan diri dari Denmark pada 17 Juni 1944. Tahun 1945, Korea Selatan dan Korea Utara memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus, Indonesia 17 Agustus, lalu Vietnam 2 September.
Tahun 1946 menyusul Suriah 17 April, Yordania 25 Mei, dan Filipina 4 Juli. Tahun 1947, Pakistan dan India merdeka masing-masing 14 dan 15 Agustus.
Sama-sama lahir di era yang hampir berdekatan. Tetapi hampir delapan dekade kemudian, nasib ekonominya seperti peserta lomba lari. Start berdekatan, tetapi sebagian sudah masuk hotel bintang lima, sebagian masih mencari sandal.
Berdasarkan PDB per kapita 2025, Islandia mencapai sekitar US$98.150, Korea Selatan US$36.107. Keduanya menjadi satu-satunya negara maju dalam daftar ini.
Yordania berada di US$5.348, Indonesia US$5.083, Vietnam US$5.026, Filipina US$4.850. India US$2.788, Pakistan US$1.901, Korea Utara sekitar US$1.366, dan Suriah hanya US$1.052.
Lalu muncul pertanyaan yang agak kurang sopan, kenapa bisa sejauh itu? Apakah negara yang jauh tertinggal mengalami salah urus? Jawabannya, sebagian bisa iya, tetapi tidak sesederhana itu.
Ada negara yang hancur karena perang, ada yang terjebak konflik, ada yang terisolasi, ada yang institusinya lemah. Namun ada pula yang terlalu lama mempertahankan kebijakan yang tidak menghasilkan kemajuan.
Kemerdekaan ternyata bukan tiket otomatis menuju kemakmuran. Faktor pertama, kualitas manusia. Korsel sejak era 1960-an sudah serius membangun pendidikan dan literasi. Dari sana mereka melompat ke industri berat, otomotif, elektronik dan teknologi. Lahir Samsung, Hyundai dan raksasa industri lainnya.
Faktor kedua, pemerintahan dan hukum. Investor membawa uang, bukan keberanian berjudi. Mereka membutuhkan kontrak jelas, hukum konsisten, perlindungan investasi dan birokrasi tidak menjadikan pungutan liar sebagai industri nasional.
Faktor ketiga, industrialisasi dan hilirisasi. Korsel menjual mobil, kapal, mesin dan elektronik. Vietnam kini agresif menarik pabrik manufaktur. Indonesia masih berjuang meningkatkan nilai tambah batu bara, sawit, nikel dan komoditas lainnya.
Kalau bahan mentah dijual murah lalu produk jadinya dibeli mahal, itu seperti menjual ayam hidup kemudian membeli ayam goreng lengkap dengan nasi. Kita menyediakan bahan, orang lain menikmati margin.
Ada pula infrastruktur, riset, tabungan nasional, stabilitas politik dan perdamaian. Jalan, pelabuhan, listrik dan internet menurunkan biaya ekonomi. R&D membuat negara tidak selamanya menjadi pelanggan teknologi.
Lalu bagaimana dengan agama dan ideologi? Keduanya berpengaruh, tetapi bukan tombol ajaib. Agama bisa membangun kejujuran, disiplin, solidaritas dan etos kerja. Tetapi agama juga bisa menjadi sumber konflik jika dipakai memperuncing identitas.
Ideologi juga demikian. Korea Selatan dan Korea Utara adalah contoh menarik. Berasal dari bangsa sama, tetapi mengambil jalan politik-ekonomi berbeda dan menghasilkan jurang kemakmuran luar biasa.
Maka persoalannya bukan sekadar agama apa atau ideologi apa, tetapi bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi institusi, pendidikan, hukum dan kebijakan ekonomi.
Di sinilah istilah salah urus penting. Salah urus bukan cuma korupsi. Ia juga bisa berupa salah prioritas, pendidikan buruk, hukum tidak pasti, industri lemah, riset minim, birokrasi gemuk, atau terus mempertahankan kebijakan terbukti gagal.
Ketika melihat Islandia US$98.150 dan Suriah US$1.052, jangan buru-buru menyebut semuanya sebagai takdir. Ada sejarah. Ada perang. Ada ideologi. Ada institusi. Ada kebijakan. Ada satu pertanyaan harus berani diajukan setiap negara, setelah merdeka puluhan tahun, apakah kita benar-benar sedang membangun negara, atau jangan-jangan terlalu lama salah mengurusnya?
Sebab merdeka itu satu hari. Makmur itu pekerjaan puluhan tahun. Salah urus bisa diwariskan kalau tidak pernah berani mengakuinya.
“Tapi, sedikit bangga juga, Bang. India masih di bawah kita.”
“Tapi negara Ladusing itu sudah meninggalkan jejak di bulan dan punya nuklir, wak.” Ups
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
