FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
PAGI itu saya hendak masuk kampus. Namun, di depan gerbang sudah terparkir mobil damkar. Bukan sedang berjaga, melainkan sedang bertarung. Di belakang Rusunawa, api melahap lahan tanpa ampun. Syukurlah parit di depan kampus masih menyimpan air sehingga selang-selang panjang masih bisa menyedot harapan untuk memadamkan bara.
Di balik asap yang menyesakkan, para petugas tetap berdiri. Wajah mereka tertutup masker, tetapi kelelahan mereka tak mungkin bisa disembunyikan.
Sementara sebagian orang masih menikmati kopi pagi atau tidur nyenyak, mereka justru sedang mempertaruhkan paru-parunya. Asap menjadi sarapan, panas menjadi teman, dan rasa lelah seolah bukan lagi pilihan. Mereka berjuang agar api tidak meluas, agar rumah-rumah tetap berdiri, agar anak-anak masih bisa berangkat sekolah tanpa melihat langit yang berubah menjadi neraka berwarna abu-abu.
Di saat yang sama, Kubu Raya kembali menjadi pusat amukan karhutla. Asap pekat merayap hingga Kota Pontianak sejak subuh. Langit kehilangan warna birunya. Ironisnya, masyarakat justru harus mengantre panjang di SPBU karena panic buying Pertalite. Mereka berdiri berjam-jam di tengah udara beracun demi mengisi tangki kendaraan, sementara paru-paru mereka sendiri perlahan ikut kosong. Beginilah negeri yang kadang lebih sibuk mengejar bensin dari menjaga udara bersih.
Karhutla di Kalimantan Barat seolah menjadi tamu tahunan selalu menemukan jalan pulang. Tahun 2015 sekitar 93.500–93.516 hektare lahan terbakar. Tahun 2019 melonjak menjadi 151.919 hektare. Tahun 2023 mencapai 111.848 hektare. Tahun 2024 sempat turun menjadi 22.463–24.155 hektare. Namun 2025 kembali naik menjadi 26.703 hektare. Hingga pertengahan 2026 saja luas kebakaran telah mencapai 28.216 hektare, tertinggi di Indonesia pada periode yang sama. Pada 27 Juli 2026, BMKG mencatat 1.083 hotspot hanya dalam 24 jam, dengan tingkat bahaya mudah hingga sangat mudah terbakar.
Api terbesar masih berkobar di Kubu Raya, dari Limbung dekat SMA Negeri 4, Rasau Jaya Tiga, Teluk Bakung yang menghanguskan area TPU, hingga titik-titik dekat Bandara Supadio. Ketapang ikut menyumbang ratusan hotspot, termasuk sekitar 216 titik pada 25 Juli. Sementara Mempawah tetap berada dalam ancaman. Kualitas udara Pontianak kini berada pada kategori buruk hingga tidak sehat, dengan AQI di kisaran 120 atau lebih, terutama saat malam dan pagi.
Belum ada lonjakan besar ISPA yang diumumkan secara resmi, tetapi anak-anak mulai batuk, lansia mulai sesak, ibu hamil diminta lebih waspada. Penderita asma kembali bergantung pada obat. Bandara Supadio memang masih beroperasi, tetapi ancaman kabut selalu mengintai sehingga BPBD harus memprioritaskan pemadaman di sekitar bandara.
Yang paling mengiris hati adalah mereka berada di garis depan. Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api, para sukarelawan, dan warga lokal terus berjibaku. Di Rasau Jaya saja sekitar 30 personel dikerahkan, sementara ratusan lainnya berpencar memadamkan api di lahan gambut menyimpan bara di bawah permukaan. Mereka melawan api sering kali lahir bukan karena alam, melainkan akibat ulah manusia yang memilih membakar demi jalan pintas.
Ketika malam tiba dan kita pulang ke rumah, mereka belum tentu selesai bekerja. Saat kita mengeluh karena baju berbau asap, mereka justru menghirup asap itu sepanjang hari. Mereka tidak meminta tepuk tangan, tidak mencari pujian. Mereka hanya berharap hujan datang lebih dulu sebelum tenaga mereka habis.
Mari kirimkan doa terbaik untuk para petugas damkar, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, sukarelawan, dan seluruh pejuang di garis depan. Semoga Tuhan menjaga setiap langkah mereka, menguatkan paru-paru mereka, melindungi mereka dari bahaya, serta mengantarkan mereka pulang dengan selamat kepada keluarga yang menunggu. Sebab di balik langit Kalbar kembali kelabu, masih ada manusia-manusia berhati terang rela mengorbankan dirinya agar kita semua masih bisa bernapas.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.
