Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Drama Antagonis Dalam Kabinet Ekonomi Indonesia
Opini

Drama Antagonis Dalam Kabinet Ekonomi Indonesia

Last updated: 18/10/2025 22:52
18/10/2025
Opini
Share

FOTO : Benz Jono Hartono [ ist ]

“Antara Ilusi Kesejahteraan dan Realitas Politik Uang “

Oleh : Benz Jono Hartono [ Praktisi Media Massa dan Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat ]

*Sinopsis*

Dalam panggung besar bernama “Kabinet Ekonomi Indonesia”, kita seolah sedang menonton drama megah dengan skenario absurd yang ditulis entah oleh siapa. Pemeran utamanya adalah para pejabat ekonomi negara: mereka berbicara tentang pertumbuhan inklusif, stabilitas makro, dan keberpihakan pada rakyat kecil.

Namun di balik narasi heroik itu, ada aroma tajam dari permainan antagonis di mana yang tampak malaikat di depan kamera, ternyata memegang pisau di balik layar.

*Scene 1: Retorika Sebagai Narkotika

Setiap kali rakyat menjerit karena harga pangan naik, pemerintah muncul dengan kalimat yang menenangkan seperti lullaby: “Situasi ini hanya sementara”, “Inflasi terkendali”, “Subsidi akan tepat sasaran”.

Kalimat-kalimat itu seperti candu—membius logika publik agar percaya bahwa penderitaan adalah bagian dari proses menuju kemakmuran.
Namun faktanya, kemakmuran itu hanya mampir di meja rapat korporasi dan konglomerat yang menempel pada jantung kekuasaan.

Sementara rakyat kecil terus berjibaku di pasar tradisional, menukar keringat dengan utang dan harapan kosong.

*Scene 2: Ekonomi Sebagai Drama Kekuasaan

Kabinet ekonomi hari ini bukan sekadar kumpulan teknokrat; mereka adalah aktor politik yang bermain di medan kuasa, bukan di laboratorium ide. Di depan rakyat, mereka bicara visi ekonomi kerakyatan.

Tapi di belakang, mereka menandatangani kesepakatan yang memperkuat dominasi pasar bebas, menyerahkan urat nadi ekonomi nasional kepada investor asing, dan menundukkan kebijakan fiskal di bawah tekanan global.

Seolah-olah, Indonesia adalah panggung sandiwara neoliberal, di mana setiap menteri ekonomi hanya berperan sesuai naskah yang ditulis oleh lembaga donor internasional.

Ada yang berperan sebagai “reformis”, ada yang menjadi “pahlawan rakyat”, dan ada pula yang menjadi “penyelamat fiskal”. Tetapi semuanya tunduk pada satu sutradara besar: kepentingan modal.

Scene 3: Antagonis yang Menyamar

Ironisnya, antagonis dalam drama ini bukan mereka yang menolak pembangunan, tapi justru mereka yang mengaku membangun untuk rakyat.

Mereka menebar program populis, memberi ilusi bantuan langsung, membagi-bagi stimulus, tapi di balik itu mengunci rakyat dalam ketergantungan struktural terhadap negara.

Antagonisme mereka halus, seperti racun yang dibungkus madu. Mereka tidak menghancurkan ekonomi rakyat secara langsung, tetapi menciptakan sistem yang membuat rakyat tidak bisa hidup tanpa belas kasihan mereka.

*Scene 4: _Politik Ilusi dan Bayangan Krisis

Setiap pernyataan ekonomi kini berubah menjadi teater retorika. Rakyat diajak menatap statistik yang disajikan seolah menggembirakan—angka pertumbuhan, stabilitas rupiah, cadangan devisa padahal di lapangan, daya beli menurun, pengangguran terselubung meningkat, dan produktivitas pertanian tergerus impor.

Krisis yang nyata disulap menjadi ilusi optimisme. Dan di sinilah antagonisme mencapai puncaknya: ketika kebohongan disulap menjadi kebijakan, dan kebijakan disembunyikan dalam bahasa teknokratis agar rakyat tidak sempat bertanya.

*Epilog:*
Saat Rakyat Menjadi Penonton Setia

Rakyat kini hanya menjadi penonton setia drama yang diputar terus-menerus. Mereka menonton sambil berharap ada “aktor baru” yang benar-benar berpihak pada mereka.

Namun dalam sistem yang telah lama dikooptasi modal dan oligarki politik, pemeran boleh berganti, tetapi naskah tetap sama.

Satu-satunya harapan tersisa adalah kesadaran: bahwa drama ini tidak akan berakhir bila rakyat terus berperan sebagai penonton. Mereka harus menulis ulang naskah, merebut panggung, dan mengubah cerita—agar antagonis tidak lagi memimpin ekonomi bangsa ini dari balik layar kekuasaan.

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Benz Jono HartonoCAJ PWI
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Warga Mempawah Diminta Tak Panic Buying, Tokoh Pemuda : Stok BBM Nasional Aman dan Terkendali

17/03/2026
Bakar Sampah di Kebun, Warga Mempawah Timur Ditemukan Meninggal Dunia
26/03/2026
Rencana Pindah TPS ke Sungai Ambawang Dipertanyakan? Herman Hofi Munawar Desak Kajian Komprehensif, Jangan Asal Paksa
16/03/2026
Potret PT WHW Kendawangan, TKA Dominasi Posisi Penting Ditengah Keluhan Pekerja Lokal, Nelayan kian Terhimpit
10/03/2026
Bertahun-tahun Gelap, Warga Dusun Pangkalan Makmur Kini Terang Benderang Berkat Swadaya dan Donatur
30/03/2026

Berita Menarik Lainnya

Betapa Bobroknya Kejari Karo, Jangan-jangan Kejari Lain Juga Begitu

04/04/2026

Mengenal Afni Zulkifli, Bupati Siak, KDM Versi Perempuan

03/04/2026

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

03/04/2026

Kok Bisa Kejaksaaan Memamerkan Kebodohan, Bagus Diganti AI Saja

03/04/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang