Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Cerpen “Detik-detik Tujuh Koruptor Ngopi sebelum Ditangkap”
Opini

Cerpen “Detik-detik Tujuh Koruptor Ngopi sebelum Ditangkap”

Last updated: 26/02/2025 06:33
26/02/2025
Opini
Share

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

DI sudut kota yang hampir terlupakan, berdiri sebuah warung kopi tua yang nyaris roboh. Letaknya di pinggiran PIK Jakarta.

Dari luar terlihat reot, di dalamnya ada ruang rahasia.

Atapnya berlubang, dindingnya miring, dan meja-meja kayunya penuh noda kopi yang tak pernah benar-benar bersih. Siapa sangka, ruangan rahasia di bawahnya itu menjadi tempat tujuh pria berpakaian perlente berkumpul.

Di ruangan inilah mereka selalu merencanakan cara elegan menggarong uang rakyat secara elegan, tak tersentuh hukum.

Kepala geng, Riva Siahaan menyesap kopinya dengan santai. “Rp 193,7 triliun itu cuma angka di laporan. Kalau dikonversi ke loyang martabak, kita bisa nutupin Jakarta dari Monas sampai Bekasi.”

Sani Dinar Saifuddin tertawa kecil. Ia menyelonjorkan kaki ke kursi sebelah, tanpa peduli kalau kayunya nyaris patah. “Yang penting bukan jumlahnya, tapi siapa yang ngitung. Kalau auditor bisa disulap, angka bisa berubah. Dunia ini fana, Bro.”

Di sebelahnya, Yoki Firnandi mengepulkan asap rokok ke langit-langit warung yang sudah hitam legam. “Lu ingat mafia migas 2014? Kita ini cuma melanjutkan tradisi. Budaya harus dilestarikan.”

“Tapi kalau kena OTT gimana?” Agus Purwono mengetuk meja dengan sendok, tampak gelisah. “Gue nggak siap masuk sel tanpa Wi-Fi, cuy.”

Muhammad Kerry Andrianto Riza mengaduk kopi dengan sendok emas, iya, sendok emas, di warung kopi reyot ini. “Santai aja. Duit kita lebih banyak dari APBD satu provinsi. Kalau masuk, kita bisa bikin napi lain jadi anak buah.”

Dimas Werhaspati mencuri gorengan terakhir di piring dan nyengir ke Gading. “Lu pernah lihat koruptor kelas kita beneran menderita? Penjara itu cuma staycation versi hemat.”

Namun, Gading Ramadhan Joedo justru menepuk jidat. “Bro, staycation dari mana? Lu nggak lihat berita? Jaksa Agung Muda udah tanda tangan buat nendang kita ke sel!”

Mendadak, suasana berubah tegang. Gorengan jatuh dari tangan Dimas, rokok Yoki terlepas ke lantai, dan Riva menumpahkan kopinya ke meja.

Sani Dinar meneguk ludah. “Gue masih ada tabungan di Swiss. Kalau lari sekarang, keburu nggak ya?”

Agus Purwono melirik pintu belakang. “Gue usul kita kabur lewat sana.”

Muhammad Kerry mengangkat tangan. “Terlambat.”

Dari luar, suara derap sepatu boots menggema. Sekejap kemudian, pintu warung yang sudah setengah copot itu didobrak, dan belasan petugas Jampidsus menyerbu masuk.

Tujuh pria itu hanya bisa saling pandang. Selama bertahun-tahun, mereka terbiasa membeli segalanya, jabatan, kemewahan, bahkan diamnya hukum. Tapi kali ini, hukum berbicara lebih keras dari uang mereka.

Di warung kopi reyot itu, kisah mereka berakhir bukan dengan gelak tawa, tapi dengan borgol di pergelangan tangan.

#camanewak

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:JakartaKorupsi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Kecelakaan Maut di Kuala Mempawah, Tiga Pelajar Asal Sungai Bakau Kecil Tewas di Tempat

25/02/2026
Mengenal Ridwan, Ketua Bawaslu Kota Pontianak Tersangka Korupsi
02/03/2026
Hindari Tabrakan dengan Pikap di Depan SPBU, Truk Muatan Cangkang Sawit Terperosok ke Parit
02/03/2026
Usut Korupsi Tata Kelola Pertambangan Bauksit, Penyidik Kejati Kalbar Geledah Sebuah di Jalan Pak Benceng Pontianak
19/02/2026
Resmi Dilantik, Utin Risty Emilya Putri Sulung Raja Sanggau Perkuat Layanan Kenotariatan
04/03/2026

Berita Menarik Lainnya

Bukit Peniraman Kabupaten Mempawah Dikeruk, Ketegasan Pemerintah Jangan Hanya di Atas Kertas!

10 jam lalu

Korupsi Dana Hibah Pilkada, Kejari Pontianak Periksa eks Koorsek Bawaslu

11/03/2026

Amr bin Ash, Pembuka Gerbang Benua Afrika

11/03/2026

PDIP Larang Kadernya Kelola SPPG, tapi Dukung MBG

06/03/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang