Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Joko Pekik Diantara Ketakutan dan Kekejaman Politik
Opini

Joko Pekik Diantara Ketakutan dan Kekejaman Politik

Last updated: 13/08/2023 18:15
13/08/2023
Opini
Share

FOTO : Wina Armada Sukardi (Ist)

Oleh : Wina Armada Sukardi (Pengamat Seni Rupa)

PELUKIS beken, Joko Pekik, meninggal dunia Sabtu,12/8/2023. Dia menghembuskan nafas terakhir pada usia 86 tahun. Almarhum
meninggal lantaran sepuh.

Pelukis kelahiran 2 Januari 1937 yang karyanya sering diklasifikasi sebagai aliran “realis ekspresif,” sebagaimana banyak pelukis terkenal lainya pada eranya, pernah dikirim ke bui oleh pemerintah Orde Baru.

Tak tanggung-tanggung, Joko Pekik dituduh menjadi salah satu orang yang terlibat dalam peristiwa G 3O PKI, khususnya pembunuhan para jenderal.

Bagaimana Joko Pekik dapat terlilit problem serumit itu, semua
masih abstrak, lantaran Joko Pekik tidak pernah diadili.

Dengan kata lain, dia sudah dirampas hak-hak asasi manusianya tanpa diberi kejelasan apa alasanya, apalagi diberi kesempatan membela diri di pengadilan.

*Tanpa Kata Maaf*

Pelukis ini ketika ditahan, nyaris beberapa kali merenggang nyawanya lantaran perlakuan sewenang-sewenang di luar prikamanusiaan dari rezim yang berkuasa.

Dengan izin Sang Pencipta, Joko Pekik kala itu masih bertahan hidup. Beberapa tahanan yang ikut dipenjara bersamanya, sudah banyak yang lebih dahulu menghembuskan nafas terakhir karena tak tahan lagi menderita siksaan lahir batin dari antek-antek penguasa kala itu.

Setelah dilepas, tak ada kata maaf kepada para tahanan seperti, juga kepada Joko Pekik, dan beberapa pelukis lain yang mengalami “nasib serupa,” dari mereka yang melakukan penahanan dan penyiksaan.

Seakan-akan perlakuan tak berprikanusiaan atas nama penguasa yang menang, dengan tuduhan yng bersifat politis, termasuk jika dituding terlibat PKI, boleh diperlakuaan sesuka hati sampai di luar batas-batas kemanusiaan.

Soal terbukti salah atau tidak bersalah, menjadi sama sekali tidak diperhatikan. Untung , Joko Pekik masih bertahan hidup sampai dia dibebaskan.

Pengalamannya ditahan, disiksa dan dirampas harkat martabatnya, membuat Joko Pekik menjadi begitu membenci langkah-langkah politik yang keji dan tidak berprikanusiaan.

Itu, antara lain, tercemin dari karya lukisanya yang terkenal dan pernah memegang rekor harga lukisan termahal di Indonesia “Berburu Celeng”.

*Disobek dan Diberikan Lukisan*

Saya pribadi tidak pernah berinteraksi langsung dengan sosok Jokok Pekik. Beberapa kali saya berencana ingin bertemu dengan beliau, tetapi selalu saja gagal.

Sudah beberapa kali janjian, ada saja alasan pembatalannya, baik dari sisi saya maupun dari sisi almarhum.

Kendatai begitu, secara tidak langsung saya beberapa kali terlibat dalam interaksi dengannya. Misalnya, pernah saya meminta “orang saya” membawa sebuah lukisan dari penjual yang mengaku karya itu karya asli Joko Pekik.

Saya ingin kepastian itu karya Joko Pekik atau bukan. Meski saya agak ragu itu karya Joko Pekik, tapi guratan-guratannya memang ada yang sangat mirip, ditambah cerita penjualnya yang menyakinkan, saya minta “orang saya” menghadap langsung ke Jokok Pekik untuk diperiksa keasliannya langsung oleh Joko Pekik.

Dibawalah lukisan itu ke Yogjakarta. Tanpa kesulitan “orang saya” berhasil menemukan rumah kedimanan Joko Pekik. Mungkin sedang mujur, “orang saya” pun berhasil ketemu berhadap-hadapan dengan Joko Pekik.

Menurut cerita “orang saya“ sebenarnya dia disambut hangat Joko Pekik. Namun begitu diperlikatkan lukisan yang haru diperiksa oleh Joko Pekik, lukisan tersebut dicoret silang bagian belakangnya, dan sesuah itu, dengan emosional lukisanya langsung disobek-sobek.

“Palsu. Elek,” tandas Joko Pekik kepada “orang saya, “ sebagainana diceritakan oleh “orang saya “kepada saya.

Lalu Joko Pekik membuka beberapa tahasiab “tip ciri khas” lukisan Joko Pekik yang asli.

Di luar dugaan, setelah itu, “orang saya,” malah dibuatkan sebuah lukisan sketasa dan diberikan kepada “orang saya. “

Pulangnya “orang saya” lapor ke saya dengan wajah berseri-seri. Dia dapat lukisan karya Joko Pekik langsung dibuat dari tangan sang maestro.

*Poliki dan Seni Rupa*

Setelah keluar dari kamp penyiksaan, Joko Pekik rupanya masih terus berkarya. Pengalaman batinya membuat karya-karya Joko Pekik mendapat perhatiaan dan harga khusus. Lukisan-lukisan baru yang lahir dari tangannya menjadi benda-benda peradaban yang berharga.

Figur Joko Pekik juga dapat menjadi bahan renungan dan pelajaran kita terkait hubungan antara seni rupandengan kekuasaan, dan arti yang sesungguhnya.

Pada kasus ini bagaimana Joko Pekik sebagai seorang pelukis dapat dituding sebagai salah satu orang yang terlibat dalam gerakan G 30 PKI, lebih khusus lagi dalam drama pembunuhan para jenderal.

Waktu itu, penguasa sedemikian paranoid hanya kepada pelukis semacam Joko Pekik.

Ini menunjukan karya-karya pelukis dan pemikiran para seniman, termasuk para pelukis, sampai sedemikian ditakuti oleh rezim penguasa.

Dalam terjemahannya, dunia seni rupa juga memberik efek kepada dunia politik. Jika pemegang kekuasaan sedang mabuk ketakutan dan kerasukan kekuasaan, maka seorang pelukis pun dapat dijadikan korban kekejaman dari kekuasaan itu.

Joko Pekik salah satu contohnya. Sebagai pelukis, sebenarnya apa sih yang perlu ditakutkan dari seniman seperti Joko Pekik ? Apa karya-karya seorang pelukis dapat benar-benar dapat menjadi media pengasut masayang yanh efektif ?.

Apa pemikiran-pemikiran di bidang seni rupa dapat menjadi propaganda politik yang ditakuti, sehingga pelukisnya harus dibenam dalam penderitaan tanpa bukti apapun-appun. Itu menjadi bahas diskusi yang menarik, sampai sekarang.

Joko Pekik telah meninggalkan kita selamanya. Tapi jejak sejarahnya dalam lintas dunia seni rupa, justeru menjadi semakin jelas.***

Tegal Besar, Klungkung, Bali, 13 Agustus 2023.

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Joko PekikPolitikWina Armada Sukardi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Bertahun-tahun Gelap, Warga Dusun Pangkalan Makmur Kini Terang Benderang Berkat Swadaya dan Donatur

30/03/2026
Sikapi Isu “Pungli” di Imigrasi Entikong, Pengamat Hukum Desak Audit Investigatif Menyeluruh
29/03/2026
Kejari Singkawang Selidiki Alur Dana Hibah PSDKU Polnep, Mantan Direktur Dipanggil
08/04/2026
Keluarga Pasien Keluhkan Layanan RSUD MTh Djaman Sanggau, Soroti Prosedur Medis dan Administrasi BPJS
20/04/2026
Tuntut Keadilan dari “Raksasa”, Warga Kubu Raya Kirim Surat Terbuka ke Presiden Prabowo
15/04/2026

Berita Menarik Lainnya

VinFast Mobil Listrik Asal Vietnam Mogok Sebabkan 7 Tewas

17 menit lalu

Akhirnya Gubernur Kaltim Memecat Adiknya, Hijrah Mas’ud

22 jam lalu

Mengenal Ustaz Al Misry, Juri Hafiz Quran Jadi Tersangka Kekerasan Seksual

26/04/2026

Saat Mahasiswa Disadarkan oleh Bank Indonesia

24/04/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang