Warga Parit Banjar Buat Kursi Belajar, Ketika Cinta Pendidikan Mengalahkan Keterbatasan

FOTO : Pembuatan kursi belajar [ Hamzah ]

Pewarta/editor : Hamzah

MEMPAWAH [ radarkalbar.com ] – Di bawah temaram lampu dan keheningan malam Desa Parit Banjar, gemuruh deru gergaji dan dentukan palu memecah kesunyian pada Kamis (30/7/2026).

Tak ada keluh kesah, yang ada hanyalah peluh yang menetes dari dahi para warga, kepala desa, hingga pengurus yayasan yang bahu-membahu merakit potongan kayu menjadi kursi-kursi belajar.

​Langkah ini terpaksa diambil demi satu alasan yang menyentuh hati, memastikan 180 anak-anak mereka tak perlu belajar melantai saat tahun ajaran baru bergulir.

Lonjakan murid di Yayasan Pendidikan Bustanul Ulum mulai dari jenjang RA, MI, MTs, hingga MA seharusnya menjadi kabar yang membahagiakan. Namun, di balik senyum bahagia menyambut siswa baru, ada kecemasan mendalam dari para pengurus. Kas yayasan yang amat terbatas tak sanggup membeli fasilitas baru.

Tak ingin impian anak-anak mereka terkikis oleh keterbatasan, Pembina Yayasan, Ust. Muhammad Guntur, S.Pd.I., M.Pd.I., bersama warga memilih mengetuk pintu kepedulian masyarakat dibanding meratapi keadaan.

​”Alhamdulillah, masyarakat begitu antusias. Gotong royong ini adalah wujud kebersamaan demi anak-anak kita. Tapi kami harus jujur, kemampuan yayasan sangat terbatas,” tutur Ust. Guntur dengan nada getar penuh harap.

​Hal senada diungkapkan Ketua Yayasan, Ust. Mat Soim. Menatap bangku-bangku rakitan tangan warga, ia menyimpan harapan besar agar uluran tangan dari Kementerian Agama (Kemenag) Mempawah dapat segera datang menyapa madrasah mereka.

​”Jumlah siswa terus melonjak, kepercayaan warga begitu besar. Namun kebutuhan fasilitas makin tak terbendung. Kami sangat berharap ada perhatian nyata dari Kemenag untuk penyediaan kursi, meja, dan sarana belajar yang layak,” ucapnya penuh haru.

Pemandangan mengharukan juga terlihat saat Kepala Desa Parit Banjar, Marlito, merelakan malamnya untuk ikut memegang palu dan memotong kayu bersama warga hingga larut malam.

Bagi Marlito, setiap paku yang ditancapkan malam itu adalah investasi masa depan bagi anak-anak desa. Ia menegaskan bahwa desa tak akan tinggal diam, meski uluran tangan pemerintah pusat tetap sangat dinantikan.

Malam kian larut, namun semangat di Parit Banjar tak sedikit pun surut. Di balik setiap bangku kayu sederhana yang selesai dirakit malam itu, tersimpan doa dan ketulusan masyarakat desa.

Mereka telah membuktikan besarnya cinta pada pendidikan; kini, giliran kepekaan pemerintah yang ditunggu untuk melengkapi senyum anak-anak Bustanul Ulum. [ red ]

 

 

 

 

 

 

 

 

Publisher : Admin radarkalbar.com

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version