FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
KALAU kemarin angka kepuasan Presiden Prabowo Subianto yang dirilis SMRC longsor sampai bikin warung kopi gaduh, mungkin masih ada yang bergumam, “Ah, maklumlah.” Soalnya, pendiri SMRC, Saiful Mujani, suka kritik keras terhadap Prabowo hingga berujung polemik hukum.
Akibatnya, hasil survei SMRC pun oleh sebagian orang langsung dicurigai macam-macam. Ada bilang ilmiah, ada bilang politis, ada pula menyuruh kalkulatornya diruqyah.
Eh, belum selesai perdebatan itu, datanglah Indikator Politik Indonesia. Lembaga yang dipimpin Prof. Burhanuddin Muhtadi MA Ph D, ini selama ini dikenal luas sebagai lembaga yang menjaga independensi dan metodologi ilmiah. Bukannya membantah hasil SMRC, survei Indikator justru membuat banyak orang tersedak koptagul. Kalau SMRC mencatat kepuasan publik 51,1 persen, Indikator malah menemukan angka 49,5 persen. Selisih dengan masyarakat tidak puas tinggal 0,7 poin. Ini bukan lagi unggul. Ini sudah seperti lomba lari yang ditentukan panjang kuku jempol.
Survei Indikator dilakukan pada 14–24 Juli 2026 terhadap 4.250 responden dengan wawancara tatap muka dan margin of error ±1,6 persen. Bandingkan dengan SMRC yang menggunakan 749 responden dengan margin of error ±3,7 persen. Secara statistik, responden Indikator jauh lebih besar sehingga tingkat presisinya lebih tinggi. Kalau dua termometer berbeda menunjukkan suhu hampir sama, mungkin yang perlu diperiksa bukan termometernya, tetapi badan yang sedang demam.
Lebih menarik lagi, penyakit yang ditemukan dua lembaga ini hampir identik. Sebanyak 39,6 persen responden Indikator menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk. Di sektor politik, 36,1 persen memberikan rapor merah. Penegakan hukum dinilai buruk oleh 37,4 persen responden. Sedangkan pemberantasan korupsi memperoleh nilai paling bikin dahi berkerut, yakni 42,9 persen menilai buruk atau sangat buruk. Koruptor yang ditangkapi setiap hari rupanya belum ngepek.
Padahal, di atas panggung program pemerintah sedang ramai-ramainya. Ada Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat, Universitas Republik Indonesia, dan seabrek program lain hampir setiap pekan muncul dengan nama baru. Sampai semua mau “dihijaukan” dan “dicokelatkan.” Secara logika warung kopi, kalau program bertambah, tepuk tangan juga mestinya bertambah. Nyatanya, grafik survei malah turun air terjun Nokan Nayan di pedalaman Sintang, Kalbar.
Tentu pemerintah tidak tinggal diam. Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menilai survei hanyalah potret sesaat bisa berubah sewaktu-waktu. Ia optimistis tingkat kepuasan Presiden Prabowo dapat kembali menyentuh 80 persen. Karena, fundamental ekonomi dan politik dinilai tetap stabil. Istana juga menegaskan hasil survei dijadikan bahan evaluasi, bukan vonis akhir terhadap kinerja pemerintah.
Pendapat itu tentu sah. Memang, survei bukan kitab suci. Ia hanyalah foto merekam satu momen. Masalahnya, kalau dua fotografer berdiri di sudut berbeda lalu menghasilkan gambar hampir sama, publik tentu mulai berhenti menyalahkan kameranya.
Akhirnya, rakyat kembali menjadi profesor dadakan. Ada menghitung margin of error, ada menghitung harga emas, ada menghitung saldo rekening semakin kurus. Sementara para politisi sibuk mencari penjelasan, warung kopi justru sudah menemukan kesimpulannya lebih dulu.
Di negeri ini, survei ternyata bukan sekadar angka. Ia sudah naik pangkat menjadi hiburan nasional. Setiap hasil keluar, yang satu bersorak, yang lain membantah, sisanya membuka termos, menyeruput koptagul pelan-pelan, lalu berkata, “Tenang wak… minggu depan paling keluar survei baru lagi.”
“Bang, kalau Qodari udah ngomong begitu, tandanya akan ada survei tandingan keluar, angkanya bisa saja di atas 80%.”
“Qodari masuk istana karena surveinya yang hebat. Kita tunggu sambil seruput Koptagul, wak!” Ups
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
