FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
BELUM sempat air mata mengering di Bali, luka yang sama kembali menganga di Morowali. Seolah negeri ini sedang menulis bab demi bab tragedi dengan tinta darah rakyat kecil. Baru beberapa hari lalu publik dibuat pilu oleh kisah KD di Tabanan, Bali.
Ia tewas setelah diduga mencuri seekor ayam. Yang lebih menyayat hati, putri kecilnya menangis histeris di samping jasad sang ayah hingga videonya mengguncang nurani bangsa. Kini, sebelum duka itu benar-benar usai, seorang lelaki lain kembali meregang nyawa setelah diteriaki, “Maling!”
Sabtu malam, 25 Juli 2026, sekitar pukul 23.05 WITA, di depan sebuah minimarket di Desa Bahomakmur, Morowali, Sulawesi Tengah, S, 33 tahun, seorang perantau asal Sinjai baru tujuh bulan bekerja di kawasan PT IMIP, mendadak berubah dari seorang pencari nafkah menjadi sasaran amukan massa.
Menurut keluarganya, ia dikenal sebagai pribadi baik dan tidak memiliki catatan kriminal. Namun malam itu, semua cerita tentang dirinya tenggelam oleh satu tuduhan hingga kini pun masih belum dipastikan secara hukum.
Peristiwa bermula ketika S diduga hendak membawa sepeda motor milik seorang perempuan yang sedang berbelanja. Kunci masih menggantung di motor. Sang pemilik berteriak meminta tolong. Dalam sekejap, kerumunan datang seperti gelombang yang tak lagi mengenal belas kasihan. S berlari menyelamatkan diri ke dalam minimarket. Ia bersembunyi di dekat kasir. Sementara massa terus mengepung. Sebagian bagian minimarket rusak akibat desakan warga memaksa masuk.
Dalam video beredar, S terdengar mengakui hendak mengambil motor tersebut. Namun pengakuan bukanlah putusan pengadilan. Hingga hari ini, Polres Morowali masih menyelidiki dugaan pencurian itu. Belum ada pernyataan resmi, S terbukti mencuri. Sayangnya, malam itu vonis telah dijatuhkan oleh kepalan tangan.
S diseret keluar. Tasnya digeledah. Saat mencoba berbicara, sebuah pukulan menghantam wajahnya. Setelah itu, tubuhnya menjadi sasaran bogem, tendangan, hingga hantaman helm dari puluhan orang. Ia sempat berusaha masuk kembali ke minimarket, tetapi kembali ditarik keluar. Tidak ada ruang bagi penjelasan. Tidak ada kesempatan mempertahankan hidup. Yang berbicara hanyalah amarah.
Polisi datang ketika tubuh S sudah tak sadarkan diri. Ia dilarikan ke Klinik IMIP, lalu dirujuk ke RSUD Bungku. Dokter berjuang, tetapi luka ditinggalkan amuk massa terlalu berat. S meninggal dunia. Senin, 27 Juli 2026, ia dimakamkan di kampung halamannya di Sinjai. Kini polisi mengusut dua perkara sekaligus, dugaan pencurian dan pengeroyokan yang merenggut nyawanya.
Lalu mata ini memandang ke arah lain. Di sana ada tiga anggota DPR yang telah berstatus tersangka korupsi, yakni Satori, Heri Gunawan, dan Anwar Sadad. Nilai dugaan kerugian negara mencapai puluhan miliar rupiah. Namun hingga akhir Juli 2026, ketiganya belum ditahan. Alasannya tetap sama, strategi penyidikan, kelengkapan berkas, dan proses hukum yang masih berjalan.
Ironinya begitu menyesakkan. Terduga pencuri ayam di Bali tewas. Terduga pencuri motor di Morowali juga tewas. Sementara mereka yang diduga menggerogoti uang rakyat dalam jumlah fantastis masih menjalani hari-harinya tanpa merasakan amuk massa ataupun dinginnya jeruji besi.
Sementara tanah kuburan S masih basah oleh air mata keluarganya, para tersangka korupsi bernilai puluhan miliar rupiah masih bisa tertawa, duduk di kursi terhormat, menerima salam hormat, dan menikmati kebebasan seolah tak pernah dituduh merampas uang rakyat.
Betapa mahal nyawa orang kecil di hadapan amarah massa. Betapa murahnya keadilan ketika berhadapan dengan kekuasaan. Luka paling menyakitkan bukan hanya kematian S, melainkan kenyataan, di negeri ini, rakyat kecil begitu mudah dikuburkan. Sementara mereka yang menggerogoti masa depan bangsa masih berjalan tegak tanpa tersentuh dinginnya jeruji besi.
“Bang, pagi-pagi sudah cerita sedih ni.”
“Maaf, wak. Emosi bawaannya. Yok seruput Koptagul.”
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
