Reyhan Meninggal Usai Menyantap Kelengkeng MBG

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

AJAL datang tidak ada yang tahu. Begitulah yang dialami bocah SD, Reyhan. Gara-gara menyantap buah kelengkeng dari menu MBG di sekolahnya, ia harus menghembuskan nafas terakhirnya. Kisah MBG semakin menyesakkan saja.

Simak kisah duka ini sambil seruput Koptagul, wak!

Selasa, 22 September 2026, Reyhan Arisyah, 9 tahun, siswa kelas 3 SDN 03 Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Lampung Tengah, masuk sekolah seperti anak-anak lainnya. Ia mungkin datang dengan tas di punggung, senyum di wajah, dan sejuta urusan kecil khas anak-anak.

Tak ada yang tahu, hari itu adalah hari terakhirnya. Reyhan meninggal dunia setelah tersedak buah kelengkeng dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Kelengkeng. Buah kecil yang manis. Buah yang mungkin membuat anak-anak bersorak. Tetapi hari itu, bagi Reyhan, kelengkeng berubah menjadi benda terakhir yang masuk ke mulutnya.

Kasatreskrim Polres Lampung Tengah AKP M Prenanta Al Ghazali mengatakan Reyhan sedang menyantap kelengkeng di ruang kelas sambil bermain dan berlari-larian. Tiba-tiba ia tersedak.

Anak itu panik. Ia meminta bantuan kepada temannya, Davin. Kemudian Reyhan berlari keluar kelas sambil memegang leher. Ia mencari pertolongan kepada penjaga sekolah, Ahmad Surahman.

Punggungnya ditepuk. Pertolongan diberikan. Guru-guru kemudian ikut berusaha menyelamatkannya. Reyhan dibawa ke ruang kepala sekolah. Ia sempat memuntahkan sisa makanan, tetapi kelengkeng yang tertelan tak juga keluar.

Nuan bayangkan detik-detik itu. Beberapa menit sebelumnya mungkin terdengar suara anak-anak bercanda. Lalu mendadak berubah menjadi kepanikan. Guru berlari. Teman-temannya mungkin terpaku. Seorang bocah berusia sembilan tahun berjuang mendapatkan udara.

Reyhan kemudian dibawa ke Puskesmas Poncowarno, sekitar 500 meter dari sekolah. Namun kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut. Ia dirujuk ke RS Kartini Kalirejo.

Di ruang UGD, harapan itu akhirnya runtuh. Reyhan dinyatakan meninggal dunia. Selesai. Innalilahi wainna ilahirojiun.

Seorang anak pagi harinya datang membawa tubuh kecil dan mimpi besar, sore harinya pulang sebagai jenazah. Keluarga menolak autopsi. Jenazah kemudian diserahkan untuk dimakamkan.

Di sinilah tragedi itu terasa semakin menusuk. Programnya bernama Makan Bergizi Gratis.
Gratis. Bergizi. Tetapi tragedi Reyhan mengingatkan, makanan untuk anak-anak bukan sekadar soal kandungan gizi. Ada keselamatan. Ada cara penyajian. Ada edukasi. Ada pengawasan.

Kepala Kampung Poncowarno Heri Eliyanto mengatakan sekolah sebenarnya sudah mengimbau siswa agar makan dengan tertib. Guru pendamping juga mengawasi. Namun jumlah siswa puluhan, sementara pengawas terbatas. Anak-anak melihat kelengkeng dan merasa senang.

“Namenye budak-budak,” kata orang Pontianak. Mereka belum mengenal bahaya seperti orang dewasa. Mereka hanya tahu buah itu manis. Mereka tidak tahu ada anggaran besar, program nasional, rapat, target, laporan, dan pidato tentang generasi emas 2045. Mereka hanya tahu satu hal, ada makanan.

Ironisnya, di tengah negeri begitu rajin berbicara tentang masa depan anak-anak, seorang anak justru kehilangan masa depannya di meja makan sekolah. Bagi birokrasi, mungkin ini akan menjadi laporan. Bagi program, mungkin menjadi evaluasi. Bagi pejabat, mungkin menjadi bahan rapat.

Tetapi bagi keluarga Reyhan, ini bukan laporan. Ini kehilangan seorang anak. Bagi Davin, ini mungkin menjadi kenangan tak mudah hilang. Teman yang tadi meminta pertolongan, tetapi akhirnya tak pernah kembali.

Bagi satu kelas di SDN 03 Poncowarno, akan ada satu tempat kelak terasa terlalu sunyi. Satu kursi kosong. Satu nama tak lagi dipanggil. Reyhan. Sembilan tahun. Terlalu muda untuk mengenal kematian. Terlalu kecil untuk menjadi korban dari segala kelalaian manusia.

Semoga tragedi ini tidak berhenti sebagai angka dalam berita. Sebab bagi negara, Reyhan mungkin satu anak. Tetapi bagi keluarganya, Reyhan adalah seluruh dunia.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

 

 

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version