FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
SAYA hanya bisa tarik napas. Entah setan apa merasuki seorang istri. Ia menusuk perut suaminya sampai puluhan kali. Ya, mati.
Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Senin, 21 September 2026. Matahari Kayuagung, Ogan Komering Ilir, terasa seperti sedang membakar bumi tanpa sedikit pun belas kasihan. Namun tragedi yang terjadi siang itu jauh lebih panas dari terik matahari.
Di areal perkantoran dekat Inspektorat Kabupaten OKI, tepat di depan Masjid At-Taqwa, Kelurahan Sukadana, seorang PNS berinisial A, 32 tahun, baru saja menyelesaikan salat Zuhur.
Barangkali ia keluar dari masjid dengan hati lebih tenang. Mungkin dalam doanya ada permintaan sederhana, semoga keluarga selamat, anak sedang sakit segera mendapat pengobatan, dan hari itu berlalu tanpa musibah.
Tetapi hidup kadang punya cara paling kejam untuk menjawab doa manusia.
Istrinya, berinisial DLA, datang menemuinya. Persoalannya berkaitan dengan biaya pengobatan anak mereka.
Seharusnya ini percakapan paling manusiawi antara dua orang yang pernah berjanji hidup bersama.
“Anak kita sakit. Kita butuh biaya.”
Namun dari dalam tas DLA tersimpan sebilah pisau sepanjang sekitar 30 sentimeter.
Tas yang seharusnya membawa barang-barang keluarga justru membawa benda mengubah masa depan keluarga itu untuk selamanya.
Pertemuan suami istri tersebut berubah menjadi perselisihan. Lalu kemarahan seperti kehilangan rem.
Puluhan tusukan menghujam tubuh A, terutama bagian perut.
Puluhan. Bukan satu luka. Bukan dua. Rentetan tusukan menjadi gambaran betapa dahsyatnya amarah meledak dalam pertemuan itu. Tubuh A seolah menjadi tempat seluruh kemarahan dilampiaskan.
Darah mengalir membasahi tubuh dan tanah. A tergeletak dengan senjata tajam masih tertancap. Tanah perkantoran biasanya hanya mengenal langkah pegawai, map dinas dan urusan birokrasi, mendadak menjadi saksi sebuah tragedi keluarga.
Tidak ada kamera film. Tidak ada adegan ulang. Tidak ada tombol berhenti.
Hanya seorang manusia sedang berjuang mempertahankan hidup.
A kemudian dibawa ke RSUD Kayuagung. Namun nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Seorang ayah berusia 32 tahun pergi untuk selamanya. Ironinya, ia pergi ketika anaknya sedang sakit.
Polres OKI bergerak mengamankan DLA, melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengumpulkan barang bukti, termasuk pisau serta pakaian korban. Foto-foto yang beredar memperlihatkan lokasi kejadian dan petugas yang bekerja, seolah kamera pun memahami, tragedi ini terlalu getir untuk dipertontonkan lebih jauh.
Di media sosial, spekulasi mengenai motif mulai bermunculan, termasuk dugaan persoalan ekonomi dan kecemburuan. Namun sebelum tragedi ini berubah menjadi bahan tebak-tebakan, ada satu fakta membuat semuanya terasa semakin menyayat: persoalan awalnya berkaitan dengan biaya pengobatan anak.
Uang yang seharusnya dicari untuk menyelamatkan kehidupan justru berujung pada kematian.
Inilah filsafat rumah tangga paling pahit, ketika masalah berhenti dibicarakan dan kemarahan mengambil alih, rumah tangga bisa berubah menjadi medan perang. Dalam perang keluarga, hampir selalu tidak ada pemenang.
Yang tersisa hanya seorang anak kehilangan ayah, seorang istri menghadapi proses hukum, dan keluarga harus hidup bersama kenangan paling menyakitkan.
Di depan Masjid At-Taqwa, siang itu akhirnya berlalu. Matahari turun. Kendaraan kembali melintas. Kehidupan kembali berjalan.
Tetapi bagi keluarga A, waktu seperti berhenti pada Senin siang itu. Sebab ada seorang ayah tidak akan pernah pulang lagi.
Mungkin, di antara tangis keluarga, ada satu pertanyaan terus menghantui, mengapa persoalan biaya pengobatan anak harus berakhir dengan puluhan tusukan?
Tidak ada jawaban bisa mengembalikan nyawa. Tidak ada penyesalan mampu menghapus luka. Tidak ada kata “maaf” dapat mengulang waktu.
So, wahai para suami, jangan sampai membuat istrimu hilang kendali. Ngeri kalau sudah esmosi, eh salah, emosi.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.
