Radar KalbarRadar Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Lainnya
    • Hukum
    • Olah Raga
    • Gaya Hidup
    • Bisnis
    • Figur
    • Tekno
    • Entertainment
Radar KalbarRadar Kalbar
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kalbar
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Hukum
  • Olah Raga
  • Gaya Hidup
  • Bisnis
  • Figur
  • Tekno
  • Entertainment
Radar Kalbar > Indeks > Opini > Saat Mahasiswa Disadarkan oleh Bank Indonesia
Opini

Saat Mahasiswa Disadarkan oleh Bank Indonesia

Last updated: 4 jam lalu
11 jam lalu
Opini
Share

FOTO : Saat para dosen dan mahasiswa mengikuti kuliah umum [ ist ]

KETIKA saya melakukan kritik, ada suara sumbang bilang begini, “Apa sumbangan lo pada negara ini, kritik doang bisanya!” Saya tidak tahu apakah mencerdaskan mahasiswa ini bukan termasuk sumbangan pada negeri.

Yang jelas siapkan dulu Koptagulnya, lalu nikmati narasinya, wak!

Pagi 22 April, saya dan rekan dosen membawa puluhan mahasiswa mengikuti kuliah umum di Bank Indonesia Pontianak. Saya bersama Pak Muhsin Anis (Dekan), Marhamah (Kaprodi), serta Tubagus Mahardhika dan Edi Surachman, mengawal generasi penerus itu. Mereka awalnya datang dengan wajah biasa saja. Lalu, perlahan berubah menjadi makhluk penuh takjub, antara lapar ilmu dan lapar makan siang.

Di sanalah panggung utama dimulai. Bukan konser, bukan stand-up comedy, tapi sesuatu yang jauh lebih menentukan nasib bangsa, kuliah umum tentang kebanksentralan. Di titik ini, mahasiswa mulai sadar, ada satu lembaga yang diam-diam lebih berpengaruh dari grup chat keluarga, Bank Indonesia.

Tugasnya? Tidak main-main. Menjaga kestabilan nilai rupiah. Kedengarannya sederhana, tapi praktiknya seperti menjaga keseimbangan di atas tali sambil ditiup angin badai global.

Nuan bayangkan, ketika harga cabai tiba-tiba naik dan ibu-ibu mulai panik seperti trailer film horor, di situlah peran BI diuji. Inflasi harus dijaga tetap jinak, tidak boleh liar seperti komentar netizen. Nilai tukar rupiah juga harus stabil, supaya impor tidak berubah jadi tragedi ekonomi berjilid-jilid.

Semua itu dilakukan lewat kebijakan moneter, pengaturan sistem pembayaran, dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Ini bukan pekerjaan biasa, ini pekerjaan yang kalau gagal, dampaknya bisa terasa sampai ke warung kopi pinggir jalan.

Mahasiswa mulai menegakkan badan ketika mendengar istilah-istilah seperti BI-7DRR, operasi pasar terbuka, dan cadangan wajib minimum. Wajah mereka berubah dari “ini apaan sih” menjadi “oh… jadi selama ini hidup saya dikendalikan angka-angka ini ya.” Uang beredar ternyata tidak dibiarkan bebas seperti anak kos tanggal tua. Semuanya diatur, dikendalikan, dan diarahkan agar ekonomi tetap waras. Ini bukan sihir, tapi rasanya lebih ajaib daripada trik sulap.

Masuk ke sistem pembayaran, suasana makin seru. Dari ATM, transfer, sampai QRIS—hal-hal yang selama ini dianggap remeh ternyata bagian dari sistem raksasa yang dijaga ketat. Setiap kali mahasiswa scan QR code untuk beli kopi kekinian, ada mekanisme kompleks yang memastikan uang itu benar-benar sampai, bukan nyasar seperti paket gratis ongkir.

Di titik ini, beberapa mahasiswa mulai terlihat seperti baru sadar, hidup mereka selama ini ditopang oleh sistem yang bekerja diam-diam, tanpa minta tepuk tangan.

Lalu datang bagian yang tampak sederhana tapi menghantam kesadaran, 7J Bank Indonesia. Jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan distapler, jangan direkatkan, jangan dipelintir, jangan dipotong.

Tujuh larangan yang terdengar seperti aturan di rumah nenek, tapi sebenarnya adalah bentuk penghormatan terhadap uang sebagai simbol kedaulatan. Ironisnya, kita sering memperlakukan uang seperti kertas biasa. Padahal nasib kita sering bergantung padanya. Tragis? Sedikit. Lucu? Jelas.

Tiga jam di ruangan itu terasa seperti satu semester yang diperas jadi espresso shot. Pekat, kuat, dan bikin melek. Materi yang tidak diajarkan di kelas itu membuka mata, ekonomi bukan sekadar teori di buku, tapi denyut nadi kehidupan yang menentukan apakah besok kita masih bisa makan enak atau harus kompromi dengan mie instan rasa “harapan tipis.”

Tentu saja, bagian paling jujur datang di akhir. Mahasiswa ramai-ramai meminta agar kegiatan seperti ini diadakan lagi. Alasannya? Belajar lebih dalam. Tapi di balik senyum dan tawa, ada bisikan jujur yang tidak bisa disembunyikan, makan gratisnya mantap. Sebuah motivasi yang sederhana, tapi sangat manusiawi. Bahkan mungkin lebih jujur dari grafik ekonomi.

Namun di balik semua adegan, candaan, dan kenyamanan ruang ber-AC itu, ada satu momen yang diam-diam monumental, ketika mahasiswa mulai memahami, dunia tidak berjalan secara acak. Ada sistem, ada kebijakan, ada tangan-tangan tak terlihat yang menjaga agar semuanya tidak runtuh.

Di situlah rasa kagum itu lahir. Bukan hanya pada Bank Indonesia, tapi pada kompleksitas dunia yang selama ini mereka anggap biasa saja.

Siapa sangka, dari ruangan dingin dengan snack mewah itu, lahir kesadaran hangat. Untuk memahami ekonomi bukan hanya soal nilai, tapi soal masa depan. Mungkin, suatu hari nanti, dari barisan mahasiswa yang hari ini datang karena penasaran dan lapar, akan muncul sosok yang tidak hanya memahami sistem, tapi mampu menjaganya tetap berdiri, bahkan saat dunia di luar sana sibuk mencoba menjatuhkannya.

Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
TAGGED:Bank IndonesiaUNU
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link

Terpopuler Bulan Ini

Bakar Sampah di Kebun, Warga Mempawah Timur Ditemukan Meninggal Dunia

26/03/2026
Bertahun-tahun Gelap, Warga Dusun Pangkalan Makmur Kini Terang Benderang Berkat Swadaya dan Donatur
30/03/2026
Warga Sukadana Masih Jerit Krisis Air Bersih, Proyek SR Milyaran Rupiah Disorot
28/03/2026
Sikapi Isu “Pungli” di Imigrasi Entikong, Pengamat Hukum Desak Audit Investigatif Menyeluruh
29/03/2026
Kejari Singkawang Selidiki Alur Dana Hibah PSDKU Polnep, Mantan Direktur Dipanggil
08/04/2026

Berita Menarik Lainnya

Dari Selat Hormuz ke Cina Selatan : Analisa Permintaan Banket Overflight Clearance Amerika ke Indonesia

22/04/2026

Rakyatnya Ingin Ketemu, Abang Adik Ini Memilih Sembunyi dan Bungkam

22/04/2026

Aksi Premanisme, Ketua Golkar Ditikam Hingga Tewas, Ngeri Wak!

20/04/2026

Mengenal Aris Mukiyono, Kadis ESDM Jatim Suka Pungli Akhirnya Ditangkap Kejati

19/04/2026
AFM Printing
⁠Jl. Imam Bonjol No.54, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243, Indonesia
0812-5012-1216

Terkait

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi

Regional

  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang