Elekta Prabowo Anjlok 9,8 Persen, Dibalas Kepuasan Publik 65,2 Persen

FOTO : Ilustrasi { Ai ]

KALIAN pasti merasakan ada unik soal hasil survei terbaru. Ketika SMRC mengeluarkan hasil surveinya, elektabilitas Prabowo anjlok tersisa 9,8 persen, esoknya muncul survei tandingan dari PPI. Hasilnya menyatakan kepuasan publik pada Prabowo 65,2%. Artinya masih banyak demen dengan RI-1.

Benarkah? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Asap karhutla mengepul di enam provinsi, titik panas ribuan, personel puluhan ribu, helikopter water bombing mondar-mandir macam setrikaan. Presiden bilang luas kebakaran turun drastis menjadi ratusan hektare berkat intervensi besar-besaran. Bantuan asing pun diterima. Api belum tentu menyerah, tetapi rapat sudah berkali-kali menang.

Di bursa, IHSG terjun 11,57 persen dalam sehari, terburuk sejak krisis moneter 1998. Sepekan merosot hampir 15 persen, sepanjang tahun ambruk sekitar 40 persen. Ancaman MSCI menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market membuat bursa kita seperti murid nakal yang dipanggil kepala sekolah.

Saham meleleh, investor berkeringat, sedangkan kabinet makin gemuk. Reshuffle sudah jilid kedelapan, bintang jenderal aktif TNI-Polri bertaburan dari kursi menteri, wakil menteri, kepala badan hingga badan baru pengelola gambut. Kalau bintang terus ditambah, sebentar lagi kabinet bisa membuka planetarium sendiri.

Tiba-tiba Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) datang membawa angka yang membuat kalkulator minta pensiun. Survei 1–10 Oktober 2026 menunjukkan elektabilitas Prabowo Subianto dalam simulasi semi terbuka 24 nama merosot dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 9,8 persen. Dedi Mulyadi 35,5 persen, Anies Baswedan 10,3 persen, Prabowo 9,8 persen, Gibran 8,4 persen.

Kepuasan terhadap kinerja Prabowo ikut terjun dari 81,2 persen menjadi 44,5 persen. Ketidakpuasan naik menjadi 53,4 persen. Rakyat seolah mengirim pesan, “Pak, asap masih mengepul, saham sudah jadi kerupuk gosong, kabinet penuh bintang. Tapi kami masih mencari siapa yang memegang alat pemadam!”

Belum sempat angka 9,8 persen itu dimasukkan ke ambulans politik, Parameter Politik Indonesia (PPI) muncul keesokan harinya membawa hasil berbeda. Survei 26 September–6 Oktober 2026 terhadap 1.200 responden mencatat kepuasan terhadap kinerja Prabowo 65,2 persen, kepuasan terhadap pemerintahan 65,4 persen.

Dalam pertanyaan terbuka, elektabilitas Prabowo masih 31,6 persen, disusul Dedi Mulyadi 11,4 persen dan Anies 10,1 persen.

Alasan kepuasan? Bansos makin banyak, koruptor ditangkap, Sekolah Rakyat, dan Makan Bergizi Gratis yang disebut semakin baik. Mendengar ini, kipas angin nasional langsung berputar kecepatan sebelas. Menurut SMRC, rakyat sedang manyun. Menurut PPI, rakyat masih tersenyum. Jangan-jangan respondennya tinggal di dua planet berbeda, tetapi sama-sama menggunakan KTP Indonesia.

Di X, netizen pun berkelahi seperti dua pendekar silat memperebutkan sandal jepit. Pendukung angka SMRC berteriak, “Elektabilitas 9,8 persen! Kepuasan 44,5 persen! Ini alarm bahaya!”

Kubu PPI membalas, “Kepuasan 65 persen lebih! Bansos jalan! Program pemerintah ada!”

Seorang warganet menyimpulkan, survei di negeri ini seperti water bombing. Satu menyiram angka rendah agar orang sadar rumahnya terbakar, satu lagi menyemprot angka tinggi supaya penghuni tetap tersenyum sambil menghirup asap.

Wak, jangan buru-buru menuduh salah satu lembaga salah pencet kalkulator. Periode survei, pertanyaan, metode, dan sampelnya perlu diperiksa sebelum hasilnya dibandingkan. Elektabilitas pun berbeda dari kepuasan terhadap pemerintah.

Namun, ironi negeri ini memang kelas dewa. Karhutla belum selesai, IHSG megap-megap, kabinet tambah bintang, survei tambah angka. Rakyat akhirnya punya dua pilihan hiburan, membaca SMRC sambil menangis atau membaca PPI sambil tersenyum.

Sambil menyeruput Koptagul, kita tunggu saja episode berikutnya. Sebab di Indonesia, kopi boleh tanpa gula, tetapi angka politik kadang bikin kepala semanis gulali, sepahit empedu, sekaligus sepanas knalpot helikopter pemadam.

“Bang, benarkah lembaga survei itu ada yang bayarin?”

“Pasti ada lah, mana ada makan siang gratis, wak!”

 

 

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version