FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
SEPERTI SMRC perlu dipanggil ke Istana. Dudukkan bersama para jenderal berbintang, sodorkan kalkulator, lalu interogasi, “Kalian salah pencet, ya? Masa elektabilitas Prabowo tinggal 9,8 persen?”
Ini pasti kiamat bagi kalkulator politik! Prabowo punya MBG. Ada Kopdes Merah Putih, Sekolah Rakyat, penambahan wakil menteri, plus jenderal-jenderal berbintang yang kalau dikumpulkan bisa bikin langit malam minder. Kabinet makin gemuk, kursi makin sesak. Mestinya elektabilitas ikut membengkak sampai perlu celana ukuran tenda hajatan!
Belum lagi pidatonya menggelegar. Mikrofon gemetar, speaker istighfar, burung di atap mengajukan pindah kewarganegaraan. Matematikanya pun sakti mandraguna. Angka-angka kalau bertemu mungkin langsung tiarap sambil berkata, “Ampun, Jenderal!”
Namun, SMRC malah mengumumkan kabar membuat kalkulator Istana mendadak masuk ICU. Menurut survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dukungan kepada Prabowo dalam simulasi semi terbuka merosot dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 9,8 persen pada Oktober 2026.
Dedi Mulyadi justru melesat ke 35,5 persen, disusul Anies Baswedan 10,3 persen, Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen, serta Purbaya Yudhi Sadewa dan Ganjar Pranowo masing-masing 5 persen. Sebanyak 13,9 persen belum menentukan pilihan.
Februari–Maret 2026, Prabowo masih 33,3 persen. Juli turun menjadi 14,5 persen. Oktober tinggal 9,8 persen. Dalam simulasi dua nama, Dedi meraih 69,3 persen, Prabowo 18,8 persen, dan 12 persen belum tahu.
Waduh! Dedi seperti naik roket, Prabowo seperti naik odong-odong yang bannya bocor empat sekaligus! Tapi jangan sembarangan menuduh SMRC lembaga survei hasil fotokopi warung kelontong. SMRC bukan lembaga kaleng-kaleng, cak!
Namanya dikenal di kalangan akademik dan media nasional, punya pengalaman survei serta hitung cepat pemilu, dan menjelaskan metodologinya secara terbuka. Tentu hasilnya tetap perlu dibandingkan dengan survei lain, tetapi tak bisa dibuang ke tong sampah hanya karena bikin pendukung meriang.
Survei 1–10 Oktober 2026 melibatkan 1.213 responden: 1.013 pemilik HP diwawancarai melalui telepon dan 200 orang tanpa HP secara tatap muka. Margin of error diperkirakan 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi simple random sampling.
Nah, Elon Musk baru saja memperkenalkan Tesla Roadster generasi terbaru yang didemonstrasikan melakukan manuver udara menggunakan teknologi pendorong atau thruster terinspirasi SpaceX. Musk sesumbar, “Flying cars are real.”
Mobil saja bisa terbang, Uda! Tetapi elektabilitas Prabowo justru terjun bebas tanpa sayap, tanpa parasut, tanpa tiket penerbangan. Tesla punya pendorong roket, elektabilitas punya pendorong program. Bedanya, mobil melayang, angka malah menghilang!
Belum lagi karhutla. Hutan terbakar, asap menyebar, ribuan orang terdampak ISPA, tetapi rapat tetap berjalan. Api membakar lahan, pejabat membakar waktu. Warga mencari udara bersih, pemerintah mencari ruangan ber-AC.
Pemberantasan korupsi juga ajaib. Anak buah korupsi bisa dipecat, sementara menteri dianggap sakti masih berkeliaran. Pemain cadangan disuruh mandi, pemain pelanggar malah diberi ban kapten!
Tentu survei bukan hasil pemilu. Angka bisa berubah, Prabowo masih punya waktu memperbaiki keadaan. Namun, elektabilitas bukan bawahan bisa dipanggil ke Istana lalu diperintahkan naik pangkat.
Seruput Koptagul, Wak! Kopi tanpa gula, akal sehat tanpa drama. Jangan sampai SMRC dituduh salah pencet hanya karena hasilnya tak sesuai harapan. Bisa jadi yang perlu dipencet justru tombol evaluasi, bukan tombol pembelaan. Sebab mobil terbang saja bisa didemonstrasikan, sedangkan kepercayaan rakyat harus dibuktikan!
Selamat malam minggu semua. Nikmatilah Koptagul dengan penuh kepercayaan. Dijamin waras, otak encer.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#Gym
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.
