Inovasi Korupsi Simpan Duit di Tong Plastik, Bupati Klaten Penemunya

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

DUNIA persilatan korupsi tampaknya memasuki era Revolusi Industri 5.0. Ketika orang menyimpan duit di bank, brankas, atau koper, muncul inovasi terbaru, tong plastik biru! Inilah teknologi perkorupsian di negeri MBG.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Siapa penemunya? Hamenang Wajar Ismoyo, S.I.Kom., Bupati Klaten periode 2025–2030. Lahir 26 November 1988, putra seniman teater Nanang Sugeng Atmanto dan politikus PDIP Hj. Kadarwati ini punya riwayat karier yang lumayan panjang. Pernah menjadi reporter Trans7, bekerja di bank, aktif dalam organisasi, menjadi anggota DPRD Klaten 2014–2019, lalu Ketua DPRD 2019–2024.

Pada Pilkada 2024, ia berpasangan dengan Benny Indra Ardhianto dari Gerindra. Mereka meraih 395.092 suara atau 52,63 persen. Dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, Hamenang menjadi bupati hingga 2030. Kekayaannya menurut LHKPN Maret 2026 mencapai Rp5,98 miliar.

Pendidikan S1 Ilmu Komunikasi ditempuh di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2006–2011. Ia menikah dengan Fahrani Ekawati Budiana dan dikaruniai dua putra, Arsya Nendradiasta Hamenang Putra serta Girinda Nawasena Hamenang Putra.

Semua tampak seperti brosur kesuksesan. Sampai 15 Oktober 2026, ketika KPK melakukan operasi tangkap tangan yang menyeret Hamenang, Kepala Perwakilan BPK Jawa Tengah Ahmad Luthfi H. Rahmatullah, dan pihak swasta Muhammad Amin Wahyu Utomo dari PT Madani Winasis Creative. Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan selama 20 hari pertama.

Lima klaster perkara mencuat: pengadaan barang dan jasa, perizinan, upah pungut, setoran rutin OPD/SKPD, serta dugaan pemberian uang kepada oknum BPK untuk mengondisikan audit, termasuk menghapus temuan Rp5 miliar. Uang yang disita disebut berkisar Rp1,2 miliar hingga Rp1,9 miliar. Uang segini sebenarnya receh di mata pejabat pusat, ups.

Namun, seluruh perkara itu seolah punya maskot resmi: Tong Biru! Di rumah adik kandungnya, Hanaku Agni Sadewo, ditemukan tong plastik biru berisi Rp934 juta dalam pecahan rupiah dibungkus plastik bening.

Astaga, wak! Tong biasanya menampung air hujan atau pakaian cucian mendadak menjadi brankas kelas kakap. Bank punya satpam, CCTV, kode keamanan, dan pintu baja. Tong biru cukup punya tutup! Kalau mengikuti logika ini, mungkin koperasi harus mengganti seluruh lemari besinya dengan ember, galon, dan bak mandi.

Tong itu dibawa ke Gedung Merah Putih KPK, lalu menjadi tontonan publik. Nuan bayangkan perasaan tong-tong lain di seluruh Indonesia. Selama ini mereka bekerja keras menampung air, tiba-tiba saudara sebangsanya menjadi selebritas nasional. Ember minta naik jabatan, galon mengajukan proposal, drum bekas mengetuk pintu kementerian. Semua ingin ikut seleksi brankas!

Belum selesai, ditemukan pula Rp300 juta dalam amplop-amplop dan 5.972 yuan senilai sekitar Rp16 juta. Duit berjejer, publik melongo, tong membisu. Kalau ada penghargaan inovasi perlengkapan rumah tangga, tong biru mungkin menang mutlak tanpa perlu debat panel.

Tetapi, di balik absurditas itu, persoalannya bukan sekadar warna tong. Ada kepercayaan rakyat, dugaan penyimpangan, dan proses hukum yang harus membuktikan tanggung jawab setiap pihak. Tong biru tidak bersalah. Ia cuma benda mati mendadak memperoleh popularitas mengalahkan pemiliknya.

Inilah inovasi tak perlu ditiru. Ketika rakyat menabung di celengan ayam, tong plastik malah terseret menjadi simbol perkara korupsi. Tongnya biru, duitnya merah-putih, muka publik merah padam!

“Bang, di rumah ada juga tong biru macam itu. Tapi, isinya air hujan.”

“Berarti tong itu naik kasta, wak. Kalau di Thailand ngetrend meja bundar oranye, di negeri kita punya tong biru.” Ups

 

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

TAGGED:
Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version