Keracunan MBG Mulai Masuk Babak Baru, SPPG Dilaporkan ke Polisi

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

KERACUNAN MBG akhirnya memasuki babak baru. Selama ini, anak-anak muntah, pusing, kejang, masuk rumah sakit, lalu bangsa ini seperti disuruh menunggu episode berikutnya. Evaluasi dilakukan. Pernyataan keluar. Dapur disegel. Kepala SPPG dicopot.

Setelah itu? Hening.

Tersangka belum kelihatan. Kini ceritanya berbeda. Orang tua korban mulai berani membawa perkara ke polisi. Ini bukan perkara kecil. Sebab yang disentuh bukan sekadar dapur katering, melainkan SPPG, yayasan, Badan Gizi Nasional, sekolah. Bahkan, ssst…dapur milik tentara dan polisi.

Drama MBG resmi naik genre. Dari dapur menuju ruang penyidikan. Di Berastagi, Tanah Karo, tragedi kuliner terjadi pada 13 Agustus 2026. Sebanyak 353 siswa dilaporkan tumbang setelah menyantap MBG mestinya menjadi bekal menuju Indonesia Emas.

Tetapi hari itu, menu masa depan berubah menjadi pesta mikroba. Bacillus cereus. Staphylococcus aureus. Escherichia coli. Tiga nama terdengar seperti trio boyband, tetapi sama sekali tidak romantis.

Ikan disebut disimpan di luar pendingin lebih dari 12 jam. Nasi menjadi arena kehidupan mikroorganisme. Melon pun ikut terseret dalam pusaran perkara. Anak-anak muntah, kejang, pusing, dan mengalami berbagai keluhan.

Febiona Purba, 16 tahun, masih bolak-balik ke RS Adam Malik. Ia dilaporkan kesulitan bicara dan pusing ketika mendengar suara ramai. Belasan korban lainnya masih menjalani rawat jalan.

Namun kali ini orang tua berkata, cukup. Pada 31 Agustus 2026, empat perwakilan dari sekitar 40 orang tua korban, didampingi kuasa hukum Aslia Rubianto dan Juliadi Kaban, mendatangi Polres Tanah Karo. Melaporkan pihak yang meracuni anak mereka.

Yang dilaporkan? SPPG Karo Berastagi Sempajaya, pengelola Yayasan Manunggal Kartika Jaya milik Kodim, BGN, serta guru-guru dinilai lalai menerima makanan. Laporan tercatat dengan nomor STTLP/B/395/VIII/2026.

Pidana dulu. Perdata menyusul. Kalimat yang membuat suasana dapur MBG mendadak seperti ruang sidang.

Karo ternyata bukan sendirian. Di Ketapang, Kalimantan Barat, 417 orang dilaporkan keracunan. LBH Kapuas Raya Indonesia mempolisikan Yayasan Surya Gizi Lestari. Di Agam, Sumatera Barat, 344 orang dilaporkan tumbang dan pemerintah daerah mempertimbangkan jalur hukum.

Di Sidoarjo, korban dilaporkan mencapai 748 santri. Polisi bergerak dan sebagian perkara naik ke tahap penyidikan. LBH Bandung membuka posko. YLBHI dan JPPI ikut mendorong langkah hukum, termasuk wacana class action.

Indonesia seperti baru menemukan tombol darurat, Keracunan → Laporkan!

Lalu muncul episode biaya. BGN menyatakan biaya pengobatan ditanggung. Dalam satu kasus, sekitar Rp350 juta telah dibayarkan dan miliaran rupiah disiapkan. Jika daerah menetapkan KLB, ada mekanisme asuransi. Jika tidak, BGN menyatakan siap membayar.

Di Sidoarjo, Bupati Subandi geram karena Pemkab harus menyiapkan BTT Rp20 miliar untuk menalangi biaya. Sementara SPPG Kalitengah disebut menghilang setelah dapurnya disegel.

Namun di tengah tragedi lahir teori paling spektakuler, Sabotase! Bukan ikan yang salah. Bukan penyimpanan. Bukan SOP. Ada tangan misterius!

Bayangkan tengah malam, seseorang menyusup membawa koper hitam. Isinya? Bacillus cereus. Di belakangnya Staphylococcus aureus turun dari helikopter. Escherichia coli menunggu di parkiran sambil memegang HT.

Misi mereka, menggagalkan MBG! Absurd? Tentu. Kalau benar sabotase, buktikan. Polisi punya pekerjaan. Jangan cuma menyebut “tangan jahat” sambil berharap masyarakat percaya bakteri punya paspor diplomatik.

Sebab makan bergizi memang harus gratis. Keracunan bergizi tidak boleh ikut gratis. Kalau benar ada menyewa bakteri untuk sabotase, satu pertanyaan sederhana, siapa membayar honornya? Jangan jawab “asing”. Sebut nama. Biar polisi yang memasak episode berikutnya.

“Bang, saya masih ragu diproses hukum. Semua punya dapur masalahnya.”

“Banyak bilang begitu. Kita tunggu aja. Kalau mandek, berarti benar. Kalau dihukum, barulah kita seruput Koptagul di Warkop MR. Mamu, wak.” Ups

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version