Milyaran Rupiah Lenyap Semalam: Petani Keramba Mempawah Menjerit, Dinas Terkesan “Meraba-raba”

FOTO : Tumpukan ikan mati misterius [ hamzah ]

Pewarta : Hamzah | Editor/publisher : admin radarkalbar com

MEMPAWAH – Jerit tangis dan keputusasaan menyelimuti ratusan petani keramba ikan air tawar di Kabupaten Mempawah. Tanpa ada tanda-tanda peringatan, jutaan ekor ikan mas yang menjadi tumpuan hidup mereka mati mendadak pada Kamis pagi (11/6/2026).

Kerugian masif yang ditaksir mencapai miliaran rupiah ini memaksa para petani gigit jari dan terpaksa “mengemis” di pasar, menjual bangkai ikan dengan harga tiarap hanya Rp10.000 per kilogram demi menyelamatkan sisa-sisa modal yang hancur lebur.

Kronologi Petaka : Air Sungai Menghijau Misterius

​Ketua BPD Desa Sejegi sekaligus salah satu petani terdampak, Dul Karim, mengungkapkan kekecewaannya atas lambatnya antisipasi terhadap gejala alam ini. Menurutnya, tanda-tanda petaka sudah terlihat sejak Rabu sore (10/6), saat ikan-ikan mulai megap-megap di permukaan.

​”Ikan mulai mangap-mangap mengambang dari Rabu sore. Puncaknya Kamis pagi ini, habis semua, mati mendadak!” keluh Dul Karim dengan nada lirih.

​Dul Karim menyoroti adanya keanehan fisik pada air sungai pasca-hujan deras Selasa malam lalu. Air sungai tiba-tiba berubah warna menjadi hijau pekat sepanjang dua kilometer, tepat dari arah atas pusat sumb air PDAM Tirta Galaherang Mempawah.

Namun, hingga jutaan ikan menjadi bangkai, para petani dibiarkan tanpa jawaban pasti mengenai zat apa yang sebenarnya mencemari sungai mereka.

Respons Dinas: Hanya “Menduga” di Tengah Kerugian Miliaran

​Di sisi lain, respons dari pihak otoritas terkait dinilai belum memberikan solusi konkret bagi dapur petani yang terancam ngebul. Saat dikonfirmasi via WhatsApp, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Mempawah, Arifin, terkesan hanya menyodorkan data normatif di atas kertas tanpa kepastian penanganan jangka panjang.

​Arifin berdalih bahwa berdasarkan pengecekan tim di lapangan, tingkat keasaman (pH) air sungai anjlok drastis ke angka 5, bahkan sempat menyentuh 4,5. Padahal, angka normal untuk kelangsungan hidup ikan berada di kisaran 6,5 hingga 7.

​”Diduga penyebab kematian karena tingkat keasaman air tinggi akibat turunnya pH. Semakin rendah pH, air semakin asam,” jelas Arifin berlindung di balik argumen teknis.

Ketidakpastian yang Menggantung 

Ketika dicecar mengenai fenomena berubahnya warna air sungai Mempawah menjadi hijau yang diduga kuat oleh warga sebagai pemicu utama racun bagi ikan pihak Dinas justru mengaku belum bisa memastikan penyebabnya.

Arifin hanya melemparkan dugaan sementara bahwa fenomena ini terjadi akibat siklus cuaca kemarau panjang yang dihantam curah hujan tinggi dalam semalam.

​Bagi ratusan petani yang kini menghadapi kebangkrutan massal, retorika “faktor cuaca” dan “dugaan sementara” dari birokrat tentu tidak bisa membayar utang modal pakan yang telanjur menumpuk.

Warga mendesak adanya investigasi mendalam dan langkah nyata, bukan sekadar pengecekan kertas lakmus di saat ikan mereka sudah telanjur menjadi bangkai. [ red ]

Share This Article
Exit mobile version