FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
TULISAN kelima terkait buku “Islam Ala Prabowo.” Banyak komentar begini, itukan diluncurkan tahun 2025 lalu, kenapa diviralkan 2026? Apakah ini sebuah konspirasi besar?
Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas diluncurkan pada 26 Agustus 2025 dalam Rakornas BAZNAS. Saat itu hadir, Ketua MUI Anwar Iskandar. Ahmad Muzani menulis prolog tujuh halaman penuh pujian. BAZNAS menyediakan panggung, meski kemudian menegaskan tidak menggunakan dana ZIS untuk penerbitan buku.
Setelah peluncuran? Hening. Buku itu seperti masuk bunker. Tidak gaduh. Tidak viral. Tidak menjadi santapan utama media sosial. Saat itu hampir tak ada yang ngeh. Saya pun tahunya sekarang.
Setahun kemudian, awal September 2026, akun Instagram @trenggaleknow mengunggah foto sampul dan daftar isi. Lalu Indonesia seperti menemukan tombol “Auto Ribut”. Kurang dari 24 jam: 15.800 suka, 12.000 komentar, dan 21.100 share.
Netizen tadinya sibuk menebak kelamin Junaida Santi apakah cowok or cewek, mendadak menjadi ahli bibliografi politik.
“Siapa penulisnya?”
“Siapa yang diwawancarai?”
“Siapa yang dicantumkan?”
“Kenapa judulnya begitu?”
Bahkan Anwar Abbas ikut masuk ring. Ia menilai judul Islam ala Prabowo berpotensi memecah belah umat dan merusak nama baik Presiden. Ia mengusulkan judul lebih panjang “Sikap dan Pandangan Prabowo terhadap Kehidupan Kebangsaan dan Kemanusiaan Dilihat dari Perspektif Ajaran Islam.” Judulnya begitu panjang sampai pembaca belum selesai membaca, Prabowo sudah ganti periode.
Cuma, Pak Anwar ini saat peluncuran, kemana saja sih. Beliaukan Wakil Ketua MUI. Ah, sudahlah, wak!
Kemudian muncul episode “nama saya kok ada?” TGB Zainul Majdi, Gus Kautsar, dan Said Aqil Siraj mendapati nama mereka tercantum sebagai penulis. Padahal, mereka menyatakan tidak pernah mengirim tulisan.
Yusril Ihza Mahendra juga memberikan klarifikasi. Dirinya hanya diwawancarai jauh sebelum menjadi menteri, tidak pernah melihat transkrip, dan tidak pernah diajak membahas judul.
Nah, di titik ini, kaum konspirasi mulai berdiri. “Ini terlalu rapi!” Padahal bisa saja tidak rapi sama sekali. Namanya juga hidup. Kadang kejadian saling bertabrakan tanpa perlu sutradara.
Tetapi kalau memakai kacamata satire, skenarionya memang luar biasa.
Buku diluncurkan 2025. Tidur setahun. Kemudian sebuah unggahan Instagram membangunkannya. Tokoh-tokoh bermunculan. Kritik berdatangan. Nama-nama dipersoalkan. Publik penasaran.
Buku tadinya sepi mendadak menjadi bahan pembicaraan nasional. Kalau ini film, penontonnya sudah teriak, “Siapa dalangnya?”
Sementara Ahmad Muzani, sang inisiator, sampai saat ini belum nongol. Diam. Bukan diam biasa. Diam level Wi-Fi dimatikan tetapi router masih menyala.
Namun jangan dituduh sebagai operasi rahasia. Tidak ada bukti, viralnya buku itu memang dirancang sejak awal. Bisa jadi semuanya kebetulan. Bisa juga cuma efek media sosial memang hobinya membakar jerami lalu bertanya, “Kok panas?”
Satu hal yang pasti, buku itu membuktikan satu hukum baru internet Indonesia. Tidak semua buku mati karena tidak laku. Ada cuma tidur panjang sambil menunggu satu unggahan Instagram untuk bangun dan membuat satu negeri berdebat.
Konspirasi? Belum tentu. Tapi, ada yang komen, buku itu bisa saja mendongkrak kepuasan publik atas Prabowo yang lagi anjlok. Bisa juga upaya pembusukan Prabowo. Orang politik bisa menafsirkan seribu tafsir.
Kalau timing? Nah, itu bikin netizen mengernyitkan dahi sambil seruput Koptagul dan pajoh pisang goreng. Wak, jangan terlalu dianggap serius, anggap saja semua itu hiburan.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
