Mestinya LSP Belajar Kesaktian Sama Nusron, Ia Tiba-tiba Nongol di KPK

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

SEMUA tahu power dan kehebatan seorang eks Kapolri, Listyo Sigit Prabowo (LSP). Ia pernah mengomandoi 473.214 personel polisi. Sayang nasibnya tragis, dijebloskan ke penjara. Makanya, belajar kesaktian sama Nusron, Pak! Dua kali mangkir, tiba-tiba nongol di kantor KPK, padahal tak dipanggil.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kesaktian Nusron sangat digdaya. Amalan apa yang dipakainya? Sebelumnya dua kali dipanggil KPK, dia tak muncul-muncul. Publik sampai mengira mantan santri ini sedang bertapa di Goa Hantu, mencari kitab ilmu kebal panggilan. Eh, tiba-tiba Rabu, 4 November 2026, dia nongol sendiri di Gedung Merah Putih KPK. Hebatnya lagi, hari itu tidak ada jadwal pemeriksaan untuk dirinya.

Ini ilmu kanuragan tingkat dewa, cak! Biasanya orang dipanggil baru datang. Nusron justru datang ketika tidak dijadwalkan. Kalau dalam dunia persilatan, ini namanya ilmu Sukma Muncul Tanpa Diundang. Dua kali menghilang, kemudian muncul sendiri seperti jin keluar dari teko Aladin.

Coba nuan bayangkan wajah para pendekar KPK. Gedung Merah Putih megah mendadak kedatangan tamu istimewa. Ketua KPK Setyo Budiyanto mengaku tidak menerima pemberitahuan sebelumnya dari penyidik mengenai rencana kedatangan Nusron. Bahkan, ia menduga Nusron datang atas inisiatif sendiri.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo juga membenarkan, hari itu sebenarnya tidak ada jadwal pemeriksaan Nusron. Namun, sang pendekar datang untuk merapel dua pemanggilan sebelumnya.

Waduh! Ini lebih hebat dari pesulap kelas dunia. Biasanya pesulap menghilangkan burung merpati dari dalam topi. Nusron menghilangkan diri ketika dipanggil, lalu muncul sendiri ketika tidak dijadwalkan. Kalau punya ilmu begini, KPK bisa menghemat biaya pengiriman surat panggilan. Cukup pasang dupa di halaman gedung, barangkali pendekarnya muncul sendiri.

Pukul 09.22 WIB Nusron tiba. Ia kemudian diperiksa sekitar lima setengah jam dan baru keluar sekitar pukul 14.51 WIB. Pemeriksaan berkaitan dengan perkara dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk serta dugaan penerimaan lainnya di lingkungan ATR/BPN.

Selama lima setengah jam, penyidik mengorek keterangan mengenai pengetahuannya atas dugaan penerimaan uang oleh sejumlah orang kepercayaannya, termasuk persoalan pengurusan HGB dan mutasi jabatan.

Engkok bayangkan, cak, lima setengah jam berada di padepokan antirasuah. Kalau pendekar biasa mungkin sudah kehabisan tenaga, tenggorokan kering, dan minta izin pulang untuk minum es kelapa. Nusron akhirnya keluar dengan pengawalan tiga ajudan. Wartawan langsung mengerubunginya seperti lebah menemukan sarang madu.

Namun, jawabannya singkat. Ia hanya menjelaskan soal izin perjalanan dinas ke luar negeri.

“Saya pejabat, menteri, seorang menteri, kalau dinas ke luar kota, apalagi ke luar negeri, dipastikan ada surat izin perjalanan dari Kementerian Sekretariat Negara, jadi kita tidak mengada-ada.”

Ketika ditanya soal perkara, ia tidak banyak memberikan jawaban. Langsung menuju mobil. Inilah yang membuat cerita kesaktian Nusron semakin menarik. Kemarin dipanggil dua kali tidak datang. Sekarang datang tanpa jadwal. KPK tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya dari penyidik kepada ketuanya.

Apakah ini ilmu menghilang tingkat tinggi? Entahlah. Yang jelas, Nusron akhirnya memenuhi pemeriksaan sebagai saksi. Kehadirannya bukan berarti perkara selesai, apalagi otomatis menghapus pertanyaan penyidik.

Kalau begini, KPK sebaiknya menyiapkan buku khusus, Panduan Menghadapi Pendekar yang Datang Tanpa Jadwal. Siapa tahu besok Nusron datang lagi ketika gedung tutup, petugas piket sedang tidur, dan Ketua KPK sedang menghadiri rapat.

Luar biasa sakti, wak! Surat panggilan saja bisa dibuat menunggu, tetapi ketika sang pendekar berkehendak, pintu Merah Putih pun didatanginya sendiri! Gerombolan Dewan Jenderal pimpinan LSP patut belajar kesaktian sama Nusron. Infonya, Teddy mulai belajar sama beliau ini, ups.

 

 

 

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version