Ada Indikasi Makar, 20.980 Prajurit TNI Mendadak Siaga di Jakarta

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

JAKARTA mendadak seperti mau diserbu alien dari galaksi sebelah. Bukan karena UFO mendarat di Monas, melainkan TNI mengerahkan 20.980 prajurit untuk memperkuat keamanan ibu kota.

Ini mau mengamankan Jakarta atau sedang mempersiapkan perang antar galaksi?

Yang bikin suasana semakin panas, pengerahan pasukan ini berdekatan dengan penetapan mantan Kapolri Listyo Sigit sebagai tersangka dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo.

TNI AL mengerahkan pasukan dalam empat tahap berdasarkan telegram perintah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Tahap pertama, 2 November, sebanyak 2.100 personel dari satuan di Jakarta. Tahap kedua dan ketiga, 4 November, sebanyak 5.740 personel didatangkan dari luar Jakarta melalui jalur darat dan kapal perang.

Tahap keempat, 13.140 personel dari Mabes TNI AL dan satuan di Jakarta disiapkan dalam status siaga penuh.

Totalnya 20.980 prajurit!

Kalau semuanya berbaris, mungkin burung merpati di Monas langsung mengajukan suaka politik. Ini jumlah pasukan tidak sedikit. Namun, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Muhammad Nas mengatakan pengerahan tersebut merupakan hal wajar karena TNI harus selalu siap melindungi rakyat dan menjaga NKRI.

Ketika ditanya apakah berkaitan dengan demonstrasi atau persoalan politik tertentu, TNI tidak memberikan penjelasan rinci dan meminta agar pengerahan tidak dikaitkan dengan isu apa pun.

Lho, Wak! Dua puluh ribu lebih prajurit sudah siaga, tetapi rakyat diminta jangan menghubungkan dengan apa-apa. Ini seperti melihat rumah tetangga dipenuhi mobil pemadam kebakaran, tetapi pemiliknya bilang sedang latihan menyiram bunga.

Gubernur DKI Pramono Anung menyebut penebalan keamanan merupakan kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah mendukung penuh.

Sekarang masuk ke dapur skandal. Pada 3 November, Listyo Sigit ditetapkan sebagai tersangka dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden dan ditahan di rumah tahanan Mabes Polri. Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan kasus tersebut tidak menggunakan pasal makar.

Penyidik hanya menerapkan pasal penyadapan ilegal dan akses ilegal dalam KUHP serta UU ITE.

Menurut Yusril, Listyo diperiksa sebagai saksi malam 2 November, dilepaskan dini hari 3 November, kemudian dipanggil lagi sore harinya sebelum akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

Tetapi Istana punya cerita berbeda. Mensesneg Prasetyo Hadi pada 4 November menyatakan penyadapan terhadap Presiden mungkin sudah masuk kategori tindakan dapat dianggap mengarah pada makar karena berpotensi membahayakan negara dan pemimpin negara.

Nah, ini menarik! Yusril bilang bukan makar, Istana bilang bisa mengarah ke makar. Kalau dijadikan laga sepak bola, penonton mungkin bingung siapa sebenarnya memegang peluit.

Gerindra melalui Sekjen Sugiono meminta proses hukum dihormati, tetapi kemungkinan unsur makar perlu diselidiki jika ditemukan bukti. Waketum Gerindra Dahnil menyebut era Prabowo sebagai era hukum tegas ke atas dan menyebut langkah ini sebagai pembersihan radikal.

PDIP melalui Sekjen Hasto mengapresiasi keberanian internal Polri mengungkap kasus. Sementara Waketum Golkar Doli mengingatkan, Presiden adalah simbol negara sehingga penyadapan tidak dapat dibenarkan.

Bagaimana dengan Seskab Teddy Indra Wijaya? Sampai informasi yang tersedia, belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi keterlibatannya. Kabar dirinya menghilang atau akan dicopot masih sebatas laporan spekulatif tanpa bukti resmi.

Pertanyaan rakyat sekarang sederhana, siapa sebenarnya yang memerintahkan penyadapan? Apa motifnya? Apakah ini murni perkara ilegal, konflik internal, atau ada jaringan kepentingan lebih besar?

Jangan sampai 20.980 prajurit sudah siaga, kapal perang sudah dipanaskan, tetapi dalangnya malah santai menyeruput kopi sambil menonton seluruh Indonesia sibuk mencari bayangannya.

Ini bukan lagi sekadar drama politik. Ini sudah seperti film konspirasi nasional. Pemainnya ramai, pasukannya puluhan ribu, istilah makar berseliweran, tetapi sutradaranya belum kelihatan. Seruput Koptagul dulu, wak!

 

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

 

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version