FOTO : Ilustrasi [ Ai]
SELAMA ini kita sering dibuai dengan narasi, dana MBG tidak diambil dari dana pendidikan. Setelah putusan MK, sebuah terbelalak, oh gitu ya cara mainnya. Seandainya putusan itu langsung dieksekusi kayak putusan MK 90/PUU-XXI/2023, dana MBG tersisa Rp 30 triliun saja.
Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Jadi begini. Pada 30 Juli 2026, Mahkamah Konstitusi tiba-tiba buka-bukaan lewat Putusan Nomor 40/PUU-XXIV/2026. Mereka bilang, anggaran MBG selama ini numpang di pos pendidikan harus dipisah paling lambat APBN 2028. Kenapa? Karena dari total anggaran pendidikan 2026 yang katanya “suci” Rp769,1 triliun (20 persen APBN), ternyata Rp223,6 triliun langsung disedot buat MBG. Hampir sepertiga jatah pendidikan! MK bilang ini udah ngelanggar Pasal 31 ayat 4 UUD 1945, soalnya dana harusnya buat guru, bangku, atap sekolah, sama kurikulum, malah dipake buat masak bubur dan nasi omprengan.
Sehari kemudian, Anggota Komisi IX DPR Zainul Munasichin dari PKB bikin perhitungan lebih gila lagi. Katanya, kalau dana pendidikan itu langsung dicabut, anggaran MBG bakal ambruk dari sekitar Rp270 triliun jadi cuma tersisa Rp30-an triliun. Artinya, hampir Rp220 triliun selama ini emang diambil dari kantong pendidikan. Zainul sempat bilang bakal kena 63 juta penerima manfaat, ribuan mitra, dan 27 ribu fasilitas. Ada 63 juta orang tergantung sama program yang duitnya “pinjaman” dari sekolah.
Yang bikin ngakak sekaligus merinding adalah sikap istana sebelumnya. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya berbulan-bulan bilang “itu narasi keliru!” Sambil senyum manis dia jelasin, anggaran 20 persen udah disepakati, program pendidikan tetap jalan. Bahkan, ditambah Sekolah Rakyat. Dia juga bangga pamer data. Tahun 2025 aja 16.000 sampai 16.167 sekolah direnovasi dengan Rp16,9–17 triliun, dan target 2026 naik jadi 71.744 sekolah.
Seolah-olah bilang, “Liat nih, kami beneran perbaiki atap sekolah, kok bisa dibilang nyedot dana pendidikan?” Tapi MK dengan dingin bilang, “Maaf, fakta hukumnya, duitnya emang diambil dari situ.” Bantahan Teddy sekarang kedengeran kayak pembelaan orang ketahuan makan kue di kulkas tapi bilang “ini cuma nyicip.”
Ini dia bagian bikin nuan mungkin baru sadar. Di balik ratusan triliun itu, ada catatan lebih ngeri. Sampai awal Agustus 2026, total korban keracunan akibat program MBG udah mencapai sekitar 38.000 orang dari lebih dari 449 kejadian luar biasa keracunan pangan di 36 provinsi. Termasuk pelajar, ibu hamil, dan penerima manfaat lain. Program yang katanya “bergizi” malah bikin 38 ribu orang keracunan. Rasanya kayak nonton iklan susu formula yang tiba-tiba berubah jadi horror movie.
MK kasih masa transisi sampai 2028. Alasannya, APBN 2026 udah jalan, takut jatuh di bawah 20 persen. APBN 2027 juga udah dibahas dari awal tahun, jadi masih boleh “nyelundup” asalkan tidak mengurangi komponen utama pendidikan. Tapi MK sendiri bilang, “lebih baik dipisah sejak 2027.” Nah, di sinilah para kritikus langsung meledak. JPPI lewat Ubaid Matraji bilang, “Kalau APBN 2027 masih bisa diubah, kenapa dikasih waktu dua tahun?” PDIP bilang putusan ini aneh, kayak hakim nyatakan bersalah tapi izinin lanjut berbuat dosa sampai 2028. BEM UI dan koalisi sipil lebih sinis. Ini akal-akalan biar anggaran pendidikan tetap bisa “dibajak” sampai mendekati Pemilu 2029.
Sementara pemerintah? Sampai sekarang masih bilang “kami hitung dulu.” Menteri Keuangan Purbaya cuma janji bakalan patuh di 2028. BGN bilang siap ikut saja. Spekulasi soal pindah ke pos kesehatan atau perlindungan sosial masih mengambang. Tidak ada berani bilang dari mana duitnya nanti. Publik termasuk ente wak, disuruh nunggu. Sementara 38 ribu orang udah keracunan, Rp223,6 triliun udah tersedot, dan atap sekolah masih banyak bocor.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.
