FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
BEBERAPA hari ini media ramai membahas anjloknya tingkat kepuasan publik pada Prabowo. Hari ini, dikejutkan dengan ramainya pemberitaan popularitas KDM sudah melebihi Prabowo.
Apakah ini isyarat, KDM the nex president? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Konon, menurut teori konspirasi yang belum tentu salah dan belum tentu benar, rakyat Indonesia mulai bosan dengan pemimpin jagonya pidato. Rakyat sekarang maunya sederhana. Kalau jalan rusak, jangan dibahas di seminar. Datang. Pegang cangkul. Kalau ada warga ribut, jangan bikin tim kajian. Turun. Kalau ada masalah, jangan dibentuk satgas, gugus tugas, gugus tugas pengawas satgas, lalu gugus tugas pengawas pengawas satgas. Bereskan di tempat. Itu membuat nama Dedi Mulyadi sekarang melesat.
SMRC pun datang membawa bom atom politik. Elektabilitas Prabowo yang pada November 2025 masih 34,9 persen, mendadak melorot ke 14,5 persen pada Juli 2026. Turun 20,4 poin. Itu bukan turun lagi, wak. Itu sudah seperti durian jatuh dari monas. Sementara KDM justru naik dari 19,7 persen menjadi 35 persen. Kalau popularitas bisa dijual kiloan, KDM sekarang sudah layak buka gudang.
Lalu muncullah simulasi head-to-head. Hasilnya bikin elite politik salah menelan kopi. KDM memperoleh 59 persen. Sementara Prabowo hanya 28,3 persen. Selisihnya bukan tipis lagi. Itu seperti lomba lari antara cheetah melawan kambing yang baru bangun tidur. Indikator Politik Indonesia juga tak jauh beda. KDM 31,4 persen, Prabowo 18,8 persen. Angka-angka ini membuat para analis politik mendadak sibuk membuka kalkulator sambil pura-pura tenang.
Pertanyaannya, kenapa bisa begini?
Menurut teori konspirasi absurd versi warung kopi, rakyat Indonesia diam-diam membentuk organisasi rahasia bernama Persatuan Penyuka Pemimpin yang Jarang Pidato. Anggotanya tidak punya kartu anggota. Tidak ada kantor. Tidak ada struktur. Tapi jumlahnya diduga jutaan. Mereka punya satu prinsip hidup. Kalau pemimpin terlalu sering bicara, berarti waktunya kurang buat bekerja.
KDM seolah membaca isi hati mereka. Ia lebih sering terlihat di lapangan dari di balik mimbar. Kontennya berseliweran di media sosial. Ada warga mengeluh, dia datang. Ada jalan rusak, dia muncul. Ada persoalan viral, dia sudah lebih dulu nongkrong di lokasi. Ada begal tak ditangkap, ia buat sayembara. Netizen sampai bingung, jangan-jangan beliau punya jurus bayangan Naruto.
Sementara itu, publik sedang kurang ramah kepada pemerintah pusat. Kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo menurut SMRC turun dari 81,2 persen menjadi 51,1 persen. Persepsi ekonomi juga bikin dahi berkerut. Sebanyak 49,4 persen responden merasa kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk. Penegakan hukum hanya dipandang positif oleh 26,4 persen responden. Kondisi politik? Yang bilang baik cuma 13,5 persen. Angka-angka ini ibarat lampu indikator motor yang sudah berkedip semua, tinggal menunggu bengkel.
Di tengah suasana itu, KDM malah bikin kejutan. Ia berani mengusulkan penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis di Jawa Barat setelah muncul kasus keracunan. Pendukungnya melihat ini sebagai keberanian. Lawannya mungkin menyebutnya pembangkangan. Netizen? Ah, netizen mah kalau ada drama langsung rebus mi instan.
Lalu muncullah teori konspirasi paling nyeleneh. Jangan-jangan Gerindra tanpa sadar sedang mencetak pesaing terberat presidennya sendiri.
Akang bayangkan sebuah perusahaan yang melatih karyawan terbaik. Begitu karyawan itu makin hebat, pelanggan malah lebih hafal nama karyawannya dari nama direktur. Nah, kira-kira begitulah gosip beredar di warung kopi politik.
Apalagi Prabowo pernah bercanda kepada KDM, “Gubernur Jawa Barat kebetulan Gerindra, tapi kalau brengsek saya usut kau.” Semua tertawa. Tapi di dunia politik, kadang candaan adalah cara paling halus menyampaikan pesan paling serius. Singa tetap singa, walaupun sedang tersenyum.
Masalahnya, sekarang Mahkamah Konstitusi sudah menghapus presidential threshold. Artinya peluang partai mengusung calon presiden menjadi jauh lebih terbuka. Teori konspirasi berikutnya pun lahir. Kalau satu pintu ditutup, sembilan partai sudah antre membawa karpet merah. KDM bukan orang baru. Ia pernah di Golkar, kini di Gerindra. Bagi politisi, pindah kendaraan kadang lebih mudah dari pindah paket internet.
Memang masih ada wacana revisi UU Pemilu kabarnya ingin mewajibkan dukungan minimal tiga partai parlemen. Politik Indonesia memang unik. Begitu satu pagar roboh, tukang bangunan langsung datang membawa pagar baru. Tetapi sejarah negeri ini mengajarkan satu hal, kalau ada tembok, politisi selalu menemukan tangga.
Lantas, apakah KDM akan menjadi presiden berikutnya? Belum tentu. Politik Indonesia lebih sulit ditebak dari emas 74 kg apakah asli atau palsu. Hari ini dielu-elukan, besok bisa dihantam isu dari segala penjuru. Hari ini surveinya setinggi Monas, besok bisa turun seperti layangan putus.
Namun satu hal mulai terlihat jelas. Publik tampaknya sedang mengirim pesan keras. Mereka mulai menyukai pemimpin lebih banyak berkeringat dari berpidato. Yang lebih sering menginjak lumpur dari karpet merah. Yang menyelesaikan masalah di lokasi, bukan di ruang rapat berpendingin udara.
Kalau tren ini terus berlanjut, jangan kaget kalau nanti muncul teori konspirasi baru lebih absurd lagi. Bahwa mikrofon adalah musuh terbesar elektabilitas. Sedangkan sepatu penuh lumpur adalah mesin pendulang suara paling sakti di republik ini. Kalau itu benar-benar terjadi, para produsen podium mungkin sudah saatnya banting setir menjadi pembuat sepatu bot. Karena tampaknya, rakyat sedang lebih suka melihat pemimpinnya berjalan dari berbicara.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.
