FOTO : Ilsutrasi [ Ai ]
KONON, di ujung galaksi sebelah kiri belokan Planet Ubi Rebus, berdirilah sebuah negeri paling sakti bernama Embegia. Negeri ini tidak tunduk pada hukum Newton, Einstein, apalagi hukum warung kopi.
Di sana, ikan memancing manusia, hujan turun dari bawah ke atas, dan ayam bertelur langsung jadi sepeda motor.
Yang paling hebat bukan itu.
Di Embegia ada satu konstitusi yang diukir memakai sambal tempoyak.
“Ada fulus, semua lurus. Tak ada fulus, mampus.”
Bahkan mesin pendeteksi uang bisa mengeluarkan air mata haru.
Suatu hari, datanglah tiga pendatang baru. Namanya Qorun Nasiku, Siplester Galon, dan Pelery Fansury. Di negeri asal mereka, ketiganya adalah pentolan tersangka. Foto mereka lebih terkenal dari foto keluarga sendiri. Polisi mengejar, jaksa mengejar, wartawan mengejar, bahkan nyamuk pun ikut mengejar demi wawancara eksklusif.
Capek sembunyi. Mereka pun memilih hijrah ke Embegia.
Masuk imigrasi? Gampang. Mereka cukup membuka koper. Petugas imigrasi langsung berdiri hormat sampai tulang punggung berbunyi “kriuk”. Polisi mendadak lupa pasal. Jaksa mendadak alergi surat dakwaan. Lima menit kemudian, ketiganya resmi jadi warga negara Embegia.
Rekor dunia. Lebih cepat dari mi instan matang. Lebih cepat dari gosip ibu-ibu soal kegantengan Presiden Koptagul.
Sore harinya mereka ngopi di warkop elite tepat di depan istana. Tak ada lagi sembunyi di hutan, gua, atau menyamar jadi dispenser.
Qorun memesan kopi hitam. Siplester pesan kopi susu.
Peler, ups salah, Pelery pesan solar. Pelayan mengangguk. Di Embegia semua minuman legal selama dibayar.
Televisi menyiarkan hasil survei dari negeri sebelah. Presidennya bernama Bofafu, yang konon masih punya hubungan keluarga dengan alien. Ada yang bilang sepupu UFO, ada pula yang bilang lahir dari telur satelit.
Penyiar membaca angka. “Dulu kepuasan publik pernah 81 persen…”
Sendok kopi langsung tepuk tangan. “Lalu turun menjadi 66 persen…”
Gelas mulai berkeringat. “Sekarang tinggal 50,1 persen.”
Meja warkop mendadak minta cuti. Pelery melongo.
“Lho… bukankah waktu pemilu dia didukung sekitar 58 persen? Berarti pendukungnya sendiri banyak yang pindah jalur?”
Qorun mengangguk sambil mengaduk kopi pakai antena parabola.
“Lihat datanya.”
Ekonomi dinilai baik cuma 15,7 persen, sementara 49,4 persen bilang buruk.
Politik lebih megap-megap. Yang bilang baik tinggal 13,5 persen, sedangkan 42,8 persen menganggap buruk.
Hukum juga ikut batuk. Yang puas 26,4 persen, sementara 37,6 persen merasa penegakan hukum sedang nyasar naik becak terbang.
Siplester garuk kepala memakai garpu.
“Padahal programnya bejibun. Geng Kapak Hijau turun. Kapak Cokelat turun. Relawan tumbuh lebih cepat dari jamur habis hujan. Kok bisa anjlok?”
Qorun tertawa sampai awan copot. “Karena rakyat itu makhluk aneh.”
“Kalau dompet terasa kurus, baliho tidak bisa digoreng.”
“Kalau harga bikin dahi berkerut, pidato sepanjang rel kereta tidak otomatis bikin senyum.”
“Kalau hukum dianggap pilih-pilih sasaran, masyarakat menghitung rasa, bukan spanduk.”
Saat itu seekor kambing profesor statistik turun dari langit memakai jas dan dasi kupu-kupu.
Ia mengembik lantang. “Survei itu seperti termometer. Dia tidak menyebabkan demam. Dia cuma menunjukkan suhu.”
Semua pelanggan langsung berdiri memberi tepuk tangan. Bahkan teko kopi ikut standing ovation.
Qorun menghabiskan kopinya. “Lumayan juga tinggal di Embegia.”
Pelery mengangguk. “Di sini paspor bisa dibeli.”
Siplester menyahut sambil tertawa. “Tapi satu barang tetap tidak dijual.”
“Apa?”
“Isi hati rakyat.”
Mendadak seluruh warkop hening. Bahkan lalat parkir rapi.
Lalu matahari berubah jadi gorengan, bulan jadi kerupuk, dan gravitasi mengajukan pensiun dini.
Begitulah Negeri Embegia. Negeri tempat hukum bisa diajak karaoke, grafik ekonomi bisa disulap, tetapi satu hal tetap sulit ditaklukkan, perasaan publik. Sebab ketika persepsi soal ekonomi, politik, dan hukum ikut merosot, angka survei bisa meluncur lebih cepat dari durian jatuh dari langit. Koper uang sebesar gunung dan emas seberat 74 kg pun belum tentu sanggup menghentikannya.
Ketiganya selesai ngopi. Lalu, mereka healing ke karaoke sekaligus ngecek brankas.
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ruang Gagasan & Penyangkalan :
Tulisan ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.
