Sekarang Siapa Kekurangan Gizi, SPPG atau Pelajar?

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

MUNGKIN sudah lama dicuekin gizi, SPPG merasa tidak tahan lagi. Akhirnya, mereka memutuskan akan unjuk rasa. Sekarang, sudah terbukti, siapa sebenarnya kekurangan gizi.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di negeri yang katanya lagi perang melawan stunting, tiba-tiba muncul perang baru jauh lebih epik. Perang antara perut anak sekolah dan rekening mitra SPPG. Tanggal 1 Oktober 2026, di depan Gedung DPR RI, ratusan ribu jiwa berencana datang bukan karena lapar nasi kotak, melainkan lapar kepastian.

Koordinator aksi Sawaludin Aweng, sang jenderal dapur yang juga Ketua Umum DPP Asosiasi Mitra BGN, sudah mengibarkan bendera perang. Dia mengaku mendapat mandat dari kawan-kawan yang sudah mengeluarkan modal gila-gilaan. Ada pinjaman bank, dana pribadi, investasi bareng untuk buat bangun dapur SPPG. Dapur itu sekarang nganggur. Sementara cicilan bank terus berbunyi seperti alarm kelaparan.

Target massa 50 sampai 100 ribu orang, Jawa Barat saja siap kirim 20 ribu pasukan. Konsolidasi sudah digelar di mana-mana, seolah-olah ini bukan demo, tapi tur nasional “Kami Sudah Bayar, Kapan Makan?”

Empat tuntutan mereka terdengar seperti doa orang sudah terlalu lapar. Pertama, mereka tetap mendukung Program Makan Bergizi Gratis. Kedua, minta BGN segera cabut moratorium SPPG, baik di kota maupun di ujung dunia 3T. Ketiga, minta mekanisme pengembalian investasi, khususnya buat di pelosok, biar modal sudah keluar nggak berubah jadi fosil. Keempat, minta undang-undang khusus MBG supaya kemitraan mereka punya payung hukum, bukan cuma payung sobek di musim hujan. Singkatnya, “Kami dukung anak-anak makan, tapi tolong biarkan kami juga makan dari investasi kami.”

Ironinya, beberapa bulan sebelumnya mereka sudah mengancam “gembok nasional”. Mereka mau nyegel seluruh dapur SPPG se-Indonesia kalau tata kelola nggak dibenahi. Sekarang justru turun ke jalan, seolah-olah gembok terlalu kejam, lebih baik demo dulu biar kelihatan beradab.

Netizen di X sudah mulai tawa-tawa sampai perut kram. Ada yang bilang, “Udah minjem duit terus nasib nggak jelas, emang kalau demo ke DPR nasib jadi jelas? Setan aja takut masuk gedung itu.” Ada lagi yang sinis, “Minta UU biar bebas ngeracunin kali ya?” Yang lain cuma geleng-geleng, “Yaelah, isinya orang-orang serakah dengan tagline demi kesehatan anak-anak.”

Sekarang siapa yang benar-benar kekurangan gizi? Pelajar yang setiap hari nunggu jatah MBG, atau mitra SPPG yang dapur mereka sudah dibangun tapi operasionalnya lebih kosong dari isi kantong pejabat? Anak-anak mungkin cuma kurang protein, tapi para mitra ini kurang segalanya. Kurang kepastian, kurang pengembalian modal, kurang undang-undang, kurang ketenangan tidur. Mereka sudah berinvestasi di “kepedulian terhadap gizi bangsa”, tapi yang balik cuma cicilan bank semakin gendut.

Kalau demo 1 Oktober benar-benar meledak, mungkin datang bukan cuma 100 ribu orang, tapi juga bayangan hutang ikut orasi di bawah terik matahari. DPR ditunggu, entah akan kasih solusi atau cuma kasih senyum tipikal “kami akan kaji lebih lanjut”.

Di tengah semua drama ini, satu hal yang pasti, di negeri ini, kadang paling lapar bukan perut anak sekolah, melainkan rekening orang-orang yang sudah terlalu banyak mengeluarkan duit demi “kebaikan bersama”. Selamat menonton, 1 Oktober. Bawa bekal sendiri, soalnya jatah MBG mungkin lagi diprioritaskan buat yang lebih “penting”.

 

 

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version