FOTO : ilustrasi [ Ai ]
KITA update hasil demo rakyat Kaltim. Usai memaksa tujuh fraksi meneken Hak Angket, sorotan ditujukan pada adik kandung Gubernur Kaltim, Hijrah Mas’ud.
Derasnya sorotan publik membuat Rudy Mas’ud memecat sang adik. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, resmi mencopot adiknya sendiri, Hijrah Mas’ud. Iya, adik kandung. Bukan adik kelas, bukan adik ideologi, tapi adik sedarah yang tadinya duduk manis di kursi Wakil Ketua Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP). Tim yang kalau ditimbang bisa kalah sama karung beras Bulog.
Tekanan rakyat Kaltim itu sekarang bukan lagi tekanan. Ini sudah kayak kompor gas bocor disulut korek, “whoosh!” meledak di mana-mana. Setelah sebelumnya tujuh fraksi DPRD dipaksa tanda tangan pakta integritas buat gulirin hak angket, kali ini targetnya langsung ke ring satu keluarga.
Boom…27 April 2026, Hijrah resmi dicopot. Satu langkah kecil buat gubernur, tapi buat rakyat? Ini seperti nemu parkiran kosong di mall pas Lebaran, langka dan bikin haru.
Padahal belum lama ini si abang masih tampil bak pendekar konstitusi. Ia membela penunjukan adiknya sebagai “hak prerogatif suci nan sakral”. Bahkan dengan penuh percaya diri, beliau membandingkan kasus ini dengan Hashim Djojohadikusumo, adiknya Prabowo Subianto. Katanya, “sama dong.” Nah loh. Ini logika yang kalau dijual kiloan, mungkin laku di Pasar Segiri. Internal Gerindra Kaltim langsung manas.
Tapi rakyat Kaltim bukan penonton pasif, pian. Mereka turun ke jalan di Aksi Kaltim Darurat 214, 21 April lalu. Ribuan massa, tiga tuntutan sakral, yakni audit kebijakan yang boros kayak belanja pakai kartu kredit orang lain, stop KKN plus politik dinasti, dan paksa DPRD kerja bener, bukan cuma jadi penonton VIP.
Demo sempat ricuh, water cannon menyemprot kayak lagi nyuci truk tambang, kawat berduri dipasang kayak dekorasi konser metal. Tapi rakyat? Tetap berdiri. Ini bukan demo, ini audisi keberanian massal.
Hasilnya? Gubernur muncul dengan video minta maaf. Janji perbaikan tata kelola dilontarkan. Yang paling epik, deklarasi mulai sekarang tidak ada lagi keluarga Mas’ud yang duduk santai di jabatan eksekutif atau tim ahli berbayar APBD. Kalimatnya manis. Manisnya kayak teh botol dingin habis panas-panasan. Tapi rakyat sudah belajar, yang manis belum tentu sehat. Kecuali, Koptagul, ups.
Soalnya cerita belum tamat. Kakaknya, Hasanuddin Mas’ud, masih duduk gagah sebagai Ketua DPRD Kaltim. Daeng bayangkan! Satu keluarga pegang eksekutif, legislatif, dan entah cabang mana lagi, ini bukan lagi dinasti, ini sudah franchise politik. Tinggal buka cabang di kabupaten sebelah, dapat bonus kursi empuk.
Publik juga belum lupa daftar belanja yang bikin alis naik, mobil dinas Rp8,5 miliar (ini mobil apa, bisa nyetir sendiri sambil ngopi?), renovasi rumah jabatan Rp25 miliar (ini rumah atau resort?), dan anggaran tim ahli yang gemuk seperti dompet pejabat habis perjalanan dinas. Semua ini sekarang masuk radar tuntutan. Bongkar, audit, telanjangi sampai transparan kayak kaca jendela baru.
Rakyat Kaltim lagi nulis sejarah. Bukan pakai tinta, tapi pakai suara serak di jalanan, spanduk “Kaltim Darurat KKN”, dan tekad yang lebih keras dari beton proyek mangkrak. Meski gubernur sudah copot adiknya dan minta maaf atas analogi yang melayang terlalu jauh ke orbit presiden, publik tetap pasang mode waspada. Jangan sampai ini cuma episode filler. Reda sebentar, lalu balik lagi ke pola lama seperti sinetron yang kehabisan ide.
Jadi begini, Bumi Etam, terus gas. Hari ini satu adik tumbang, besok siapa lagi kalau masih nekat main dinasti. Karena satu hal sudah terbukti, kalau rakyat kompak, kursi empuk pun bisa goyang kayak odong-odong kena gempa. Rakyat menang? Belum final. Tapi setidaknya, scoreboard sudah mulai bergerak. Bola panas ada di DPRD Kaltim. Rakyat menanti janji hak angket.
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
