FOTO : Saat para dosen dan mahasiswa mengikuti kuliah umum [ ist ]
KETIKA saya melakukan kritik, ada suara sumbang bilang begini, “Apa sumbangan lo pada negara ini, kritik doang bisanya!” Saya tidak tahu apakah mencerdaskan mahasiswa ini bukan termasuk sumbangan pada negeri.
Yang jelas siapkan dulu Koptagulnya, lalu nikmati narasinya, wak!
Pagi 22 April, saya dan rekan dosen membawa puluhan mahasiswa mengikuti kuliah umum di Bank Indonesia Pontianak. Saya bersama Pak Muhsin Anis (Dekan), Marhamah (Kaprodi), serta Tubagus Mahardhika dan Edi Surachman, mengawal generasi penerus itu. Mereka awalnya datang dengan wajah biasa saja. Lalu, perlahan berubah menjadi makhluk penuh takjub, antara lapar ilmu dan lapar makan siang.
Di sanalah panggung utama dimulai. Bukan konser, bukan stand-up comedy, tapi sesuatu yang jauh lebih menentukan nasib bangsa, kuliah umum tentang kebanksentralan. Di titik ini, mahasiswa mulai sadar, ada satu lembaga yang diam-diam lebih berpengaruh dari grup chat keluarga, Bank Indonesia.
Tugasnya? Tidak main-main. Menjaga kestabilan nilai rupiah. Kedengarannya sederhana, tapi praktiknya seperti menjaga keseimbangan di atas tali sambil ditiup angin badai global.
Nuan bayangkan, ketika harga cabai tiba-tiba naik dan ibu-ibu mulai panik seperti trailer film horor, di situlah peran BI diuji. Inflasi harus dijaga tetap jinak, tidak boleh liar seperti komentar netizen. Nilai tukar rupiah juga harus stabil, supaya impor tidak berubah jadi tragedi ekonomi berjilid-jilid.
Semua itu dilakukan lewat kebijakan moneter, pengaturan sistem pembayaran, dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Ini bukan pekerjaan biasa, ini pekerjaan yang kalau gagal, dampaknya bisa terasa sampai ke warung kopi pinggir jalan.
Mahasiswa mulai menegakkan badan ketika mendengar istilah-istilah seperti BI-7DRR, operasi pasar terbuka, dan cadangan wajib minimum. Wajah mereka berubah dari “ini apaan sih” menjadi “oh… jadi selama ini hidup saya dikendalikan angka-angka ini ya.” Uang beredar ternyata tidak dibiarkan bebas seperti anak kos tanggal tua. Semuanya diatur, dikendalikan, dan diarahkan agar ekonomi tetap waras. Ini bukan sihir, tapi rasanya lebih ajaib daripada trik sulap.
Masuk ke sistem pembayaran, suasana makin seru. Dari ATM, transfer, sampai QRIS—hal-hal yang selama ini dianggap remeh ternyata bagian dari sistem raksasa yang dijaga ketat. Setiap kali mahasiswa scan QR code untuk beli kopi kekinian, ada mekanisme kompleks yang memastikan uang itu benar-benar sampai, bukan nyasar seperti paket gratis ongkir.
Di titik ini, beberapa mahasiswa mulai terlihat seperti baru sadar, hidup mereka selama ini ditopang oleh sistem yang bekerja diam-diam, tanpa minta tepuk tangan.
Lalu datang bagian yang tampak sederhana tapi menghantam kesadaran, 7J Bank Indonesia. Jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan distapler, jangan direkatkan, jangan dipelintir, jangan dipotong.
Tujuh larangan yang terdengar seperti aturan di rumah nenek, tapi sebenarnya adalah bentuk penghormatan terhadap uang sebagai simbol kedaulatan. Ironisnya, kita sering memperlakukan uang seperti kertas biasa. Padahal nasib kita sering bergantung padanya. Tragis? Sedikit. Lucu? Jelas.
Tiga jam di ruangan itu terasa seperti satu semester yang diperas jadi espresso shot. Pekat, kuat, dan bikin melek. Materi yang tidak diajarkan di kelas itu membuka mata, ekonomi bukan sekadar teori di buku, tapi denyut nadi kehidupan yang menentukan apakah besok kita masih bisa makan enak atau harus kompromi dengan mie instan rasa “harapan tipis.”
Tentu saja, bagian paling jujur datang di akhir. Mahasiswa ramai-ramai meminta agar kegiatan seperti ini diadakan lagi. Alasannya? Belajar lebih dalam. Tapi di balik senyum dan tawa, ada bisikan jujur yang tidak bisa disembunyikan, makan gratisnya mantap. Sebuah motivasi yang sederhana, tapi sangat manusiawi. Bahkan mungkin lebih jujur dari grafik ekonomi.
Namun di balik semua adegan, candaan, dan kenyamanan ruang ber-AC itu, ada satu momen yang diam-diam monumental, ketika mahasiswa mulai memahami, dunia tidak berjalan secara acak. Ada sistem, ada kebijakan, ada tangan-tangan tak terlihat yang menjaga agar semuanya tidak runtuh.
Di situlah rasa kagum itu lahir. Bukan hanya pada Bank Indonesia, tapi pada kompleksitas dunia yang selama ini mereka anggap biasa saja.
Siapa sangka, dari ruangan dingin dengan snack mewah itu, lahir kesadaran hangat. Untuk memahami ekonomi bukan hanya soal nilai, tapi soal masa depan. Mungkin, suatu hari nanti, dari barisan mahasiswa yang hari ini datang karena penasaran dan lapar, akan muncul sosok yang tidak hanya memahami sistem, tapi mampu menjaganya tetap berdiri, bahkan saat dunia di luar sana sibuk mencoba menjatuhkannya.
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
