Islam Borneo, Dari Ide Receh Jadi Rekomendasi se-Kalimantan

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

SAYA sangat senang, ide sederhana saya soal penulisan buku “Islam Borneo” diterima dan masuk rekomendasi resmi. Sekarang, ide itu mulai masuk ke persoalan teknis. Dari mana memulainya, siapa saja penulisnya, dan gimana seterusnya.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Saya sendiri awalnya tidak menyangka. Ide yang mungkin waktu itu terdengar seperti obrolan sambil ngopi, ternyata pada Rakorda MUI se-Kalimantan di Grand Mahkota Hotel, Pontianak, 22 Agustus 2026, mendadak naik kelas.

Bukan lagi ide pribadi. Bukan lagi wacana. Tetapi menjadi rekomendasi resmi MUI se-Kalimantan. Waduh! Kalau begini, ide jangan sembarangan dilontarkan. Bisa-bisa besok pagi sudah menjadi keputusan sejarah.

Rapat Komisi B dipimpin Dr. Zulkifli dan Dr. Hamzah Tawil. Seluruh utusan ulama dari lima wilayah Kalimantan hadir. Menariknya, usulan “Islam Borneo” sebenarnya tidak ada dalam draft rekomendasi yang disiapkan panitia steering committee.

Alias, buku ini tadinya tidak masuk daftar. Namun, ketika Dr. Zulkifli, yang juga dosen Sejarah Islam di IAIN Pontianak, melihat saya duduk di barisan depan, ia justru mengangkat kembali gagasan tersebut.

Nah! Di sinilah rapat mulai berubah suasana. Ide sederhana itu malah menjadi pembahasan utama.

Wakil Kalimantan Tengah langsung menyatakan setuju. Bahkan, sudah ada menulis tentang Islam di Kotawaringin. Utusan Kalimantan Timur juga menyatakan siap mendukung. Dari MUI Sambas, Kalimantan Barat, Sumar’in juga menyatakan siap ikut berpartisipasi.

Tentu saja, tidak semua langsung mulus. Ada yang merasa nama “Islam Borneo” agak janggal. Usul alternatifnya: “Perkembangan Islam di Kalimantan.” Masuk akal. Tetapi ada satu persoalan.

Kalau ingin buku ini berbicara kepada saudara-saudara kita di Sarawak dan Brunei Darussalam, istilah “Borneo” justru lebih familiar. Mereka mungkin tidak terlalu akrab dengan istilah “Kalimantan” untuk menyebut seluruh pulau.

Di akhir sesi, Dr Zulkifli malah berkeinginan, saat buku itu selesai ditulis, dibuat versi Bahasa Inggris, Arab, dan Melayu. Usulan yang luar biasa tentunya. Dr Zul menambahkan, pihak Brunei yang hadir di hari pertama Rakorda tentu akan dinformasikan. Begitu juga pihak Sarawak dan Sabah. “Kita punya koneksi kuat ke negeri jiran,” katanya.

So, debat nama pun selesai. Bukan soal merek mi instan. Yang penting misinya sama, merekam perjalanan Islam di Pulau Borneo.

Akhirnya, Komisi B mengetuk palu. “Islam Borneo” resmi menjadi rekomendasi bersama, berdampingan dengan isu penting lainnya seperti narkoba, ekoteologi, sampai LGBT.

Belum sempat peserta mencerna hasil rapat, sekitar setengah jam kemudian, rekomendasi Komisi B dibacakan dalam sidang paripurna di ballroom. Lagi-lagi…Disepakati! Bahkan masing-masing MUI diminta mengirimkan satu nama untuk menjadi tim penulis bersama.

Nah, di titik ini saya mulai berpikir, ternyata ide kecil itu punya kaki. Ia berjalan sendiri. Dari rapat kecil, masuk Komisi B. Dari Komisi B, masuk sidang paripurna. Dari sidang paripurna, menjadi rekomendasi MUI se-Kalimantan. Tinggal satu langkah lagi, menjadi buku.

Islam Borneo kelak bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia bisa menjadi dokumentasi intelektual tentang bagaimana Islam tumbuh, berdialog dengan budaya, beradaptasi dengan masyarakat, dan membentuk peradaban di Borneo.

Ini penting. Sebab Kalimantan bukan cuma hutan, sungai, sawit, tambang, orangutan, dan berita kebakaran yang membuat langit kadang seperti filter Instagram gratis.

Maka, kalau suatu hari buku ini terbit, saya ingin mengenangnya begini, sebuah ide sederhana pernah duduk manis di barisan depan sebuah rapat. Lalu tiba-tiba berdiri, berjalan keliling Kalimantan, dan pulang membawa mandat sejarah.

Dari Pontianak untuk Kalimantan. Dari Kalimantan untuk Borneo. Semoga kelak menjadi ikon intelektual Borneo. Ternyata benar. Jangan remehkan ide sederhana. Kadang ia cuma menunggu palu diketuk agar berubah menjadi sejarah.

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version