FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
KALIMANTAN sedang berkabut. Sayangnya, ini bukan kabut romantis tempat orang pacaran sambil memutar lagu galau. Ini asap. Sudah berminggu-minggu. Warga sesak, sekolah di Kalbar sampai belajar online.
Dulu anak-anak belajar dari rumah karena pandemi. Sekarang karena asap. Yang lebih lucu, asap Kalimantan ternyata punya kemampuan diplomatik luar biasa. Ia berhasil menyeberang ke Malaysia tanpa paspor, visa, bahkan pemeriksaan imigrasi.
Sarawak ikut kena. Kualitas udara memburuk, ratusan sekolah ditutup. Malaysia pun menyampaikan kekhawatiran melalui jalur diplomatik dan mekanisme ASEAN.
Tenang, belum perang. Belum ada kapal perang berlayar ke Kalimantan. Negeri Upin Ipin ini cuma mengirim surat. Tapi dalam dunia pemerintahan, surat resmi kadang lebih menegangkan dari petasan Tahun Baru.
Mungkin karena asap sudah sampai negeri jiran, Presiden Prabowo Subianto akhirnya turun langsung ke Kalbar, Sabtu (22/8/2026). Pesawat kenegaraan mendarat di Pangkalan TNI AU Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya, pukul 11.42 WIB.
Presiden datang bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Seskab Teddy Indra Wijaya. Lengkap.
Kalau asap punya kabinet, mungkin langsung mengadakan rapat darurat, “Waduh, Presiden datang!”
Prabowo kemudian meninjau karhutla di Jalan A Yani 3, Desa Limbung, Sungai Raya, Kubu Raya, sekaligus memimpin rapat terbatas. Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto mengatakan Presiden memerintahkan Panglima TNI menurunkan pesawat bombing untuk membantu mengatasi karhutla.
Nah, ini baru menarik. Biasanya rakyat melihat asap, pejabat melihat laporan. Sekarang pejabat pusat ikut melihat asap secara langsung.
Data SiPongi per 22 Agustus pukul 11.36 WIB mencatat 13.591 hotspot nasional dalam 24 jam terakhir. Rinciannya: Kalbar 3.805, Kalteng 2.830, Kaltim 835, Kalsel 742, sedangkan Kaltara sekitar 90–100.
Kalbar jadi juara. Malu gue, daerah sendiri kok juaranya asap. Juara dapat emas 74 kg kek, ups. Beginilah nasib Kalbar setiap tahun. Asap yang tidak mau dipisahkan dari warganya.
BNPB juga mencatat Kalbar sekitar 198 hotspot tingkat kepercayaan tinggi, 3.100 menengah, dan 406 rendah. Namun jangan salah paham. Hotspot bukan berarti jumlah kebakaran aktif. Ia merupakan deteksi anomali suhu permukaan satelit. Satu kebakaran bisa menghasilkan beberapa hotspot. Tetap saja, angkanya bikin kepala panas. Padahal yang panas seharusnya cuma mesin pesawat.
Malaysia sendiri memilih pendekatan kooperatif. Surat diplomatik, mekanisme ASEAN, pemantauan hotspot bersama, penegakan hukum pembakaran terbuka, bahkan siap berbagi wilayah udara dan aset untuk cloud seeding jika diperlukan.
Ini penting. Sebab asap tidak mengenal batas administrasi. Dia tidak punya KTP. Tidak punya paspor. Tidak pernah ikut pemilu. Tapi bisa memengaruhi hubungan antarnegara.
Ironisnya, manusia sibuk berpolitik mencari siapa paling berjasa, sementara asap tidak peduli siapa presidennya, gubernurnya, bupatinya, termasuk tukang kopinya, ups.
Asap cuma tahu satu hal. Kalau hutan dibakar, dia naik. Maka kunjungan Presiden jangan berhenti menjadi tontonan. Jangan sampai rombongan datang, rapat digelar, kamera menyala, pidato berkobar, pesawat bombing diterbangkan, lalu setelah rombongan pulang…asap kembali menjadi pejabat paling berkuasa di Kalimantan.
Karena rakyat tidak butuh janji udara bersih. Rakyat cuma ingin bernapas tanpa merasa sedang mengisap knalpot satu provinsi. Kalau Malaysia sudah protes dengan sopan, barangkali ini saatnya Indonesia menjawab dengan tindakan.
Bukan dengan pidato. Sebab asap tidak bisa dimatikan menggunakan mikrofon. Asap butuh air, penegakan hukum, dan keberanian membakar habis kebiasaan buruk, bukan hutan.
Makasih Pak Presiden sudah sudi datang ke daerah kami, Kalbar. Bapak hebat, datang ke lokasi karthutla tanpa masker. Semoga tak kena ISPA. Semoga juga setelah bapak kembali ke Jakarta, asap hilang.
“Bang, Prabowo ke daerah kita, lihat karhutla.”
“Benar, wak. Sayangnya, ia tak sempat seruput Koptagul di Asiang.” Ups
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
