FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
“O..UDAH MAIN KASAR YE !” Sebuah ungkapan dari P Ramli. Kalbar yang adem-ayem, tiba-tiba dikacaukan oleh aksi premanisme. Saat mahasiswa demo di Kantor Gubernur Kalbar, Bundaran Untan, mereka justru dibubarkan oleh preman.
Ntah dari mana, siapa yang nyuruh, apakah dibayar, ntahlah. Yang jelas Kalbar sudah main kasar. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Pontianak, Selasa, 20 Oktober 2026. Demokrasi rupanya sedang mengikuti latihan bela diri. Mahasiswa datang membawa aspirasi, tetapi video yang beredar di media sosial justru memperlihatkan pemukulan oleh sekelompok orang berpakaian preman. Kalau begini, jangan-jangan kebebasan berpendapat sudah berganti cabang olahraga, siapa berani mengkritik, dia harus siap dipiting!
Peristiwa ini menjadi sorotan setelah video-video dugaan kekerasan beredar luas di X dan Instagram. Lokasinya disebut-sebut di Bundaran Digulis alias Bundaran Untan, Pontianak. Sejumlah unggahan mengaitkannya dengan aksi mahasiswa Untan yang mengkritik dua tahun pemerintahan.
Mahasiswa semestinya bebas menyampaikan pendapat di ruang publik justru terlihat berada dalam situasi tegang, berhadapan dengan kelompok tak dikenal berpakaian preman.
Menurut video dan kesaksian yang beredar, kekerasan bukan sekadar dorong-dorongan manja. Ada mahasiswa disebut dipukul, dipiting lehernya, dicekik sampai kesulitan bernapas. Sejumlah korban dilaporkan mengalami cedera, tangan terasa sakit, dan leher lebam.
Mereka datang membawa suara, tetapi malah berhadapan dengan pukulan. Ini demonstrasi atau ujian praktik masuk perguruan tinggi jurusan ilmu perkelahian?
Yang bikin alis publik naik sampai hampir menyentuh genting adalah informasi, polisi disebut berada di lokasi ketika kejadian berlangsung. Kalau benar demikian, pertanyaan pun beranak-pinak. Bagaimana orang-orang berpakaian preman bisa menyerang mahasiswa di ruang publik? Siapa mereka? Apa motifnya? Yang paling penting, bagaimana kejadian seperti itu bisa berlangsung?
Apakah sekarang ada program baru bernama Premanisme Merdeka, dengan fasilitas pukul gratis bagi siapa saja kebetulan sedang menyampaikan kritik? Tentu ini sindiran, bukan kesimpulan. Identitas para pelaku, kronologi kejadian, dan peran aparat harus diperiksa berdasarkan bukti.
Pada hari sama, di halaman Kantor Gubernur Kalbar, mahasiswa juga menggelar aksi menuntut keseriusan pemerintah menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), keadilan, pendidikan, serta kebijakan pemerintah. Sekitar pukul 15.45 WIB, terjadi tarik-menarik ban antara mahasiswa dan Satpol PP. Mahasiswa kemudian membakar ban, sementara ketegangan meningkat.
Menurut klaim mahasiswa, orang-orang berpakaian preman turut memukuli massa. Perwakilan IAIN Pontianak, Muhammad Hafi, menyebut rekan-rekannya dipukul mundur. Sekitar pukul 16.15 WIB, massa sudah digiring keluar halaman. Seorang mahasiswa dilaporkan sesak napas, sementara lainnya mengeluhkan sakit pada tangan.
Sementara itu, mahasiswa yang berdialog di Gedung DPRD Kalbar pada hari yang sama masih dapat menyampaikan tujuh tuntutan, termasuk persoalan anggaran karhutla sebesar Rp60 miliar, dan memperoleh tanggapan secara dialogis.
Ironis betul. Mahasiswa menuntut penyelesaian karhutla, tetapi aksi mereka justru diwarnai dugaan kekerasan. Mereka meminta keadilan, tetapi publik kini menunggu kejelasan tentang siapa yang diduga melakukan pemukulan. Mereka ingin didengar, bukan dijadikan samsak berjalan.
Jika kekerasan itu terbukti, pelaku harus diproses sesuai hukum. Aparat juga perlu menjelaskan apa yang terjadi, terlebih jika benar berada di lokasi. Tidak boleh ada kelompok merasa kebal hukum hanya karena berpakaian preman atau bergerombol.
“Wah, ngeri juga kalau Kalbar udah main preman. Jangan-jangan kita ngopi di Jalan Merapi ni didatangi preman, Bang.”
“Ingat, wak. Kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Mahasiswa digitukan bakalan makin rame.” Ups
Oleh : Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
