Belum Cukup Lecehkan Wartawan, Angpao Nikahan Anak Sendiri pun Diambil Hotman

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

KITA lanjutkan kisah si Hotman. Ternyata, belum cukup melecehkan profesi wartawan, ia malah ngambil angpao nikahan anak sendiri. Katanya, kaya raya. Jadi begitu kelakuan ente lae.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Selama ini Hotman Paris Hutapea dikenal sebagai pengacara dengan kemewahan level sultan multiverse. Cincinnya bisa bikin toko emas minder, mobilnya lebih banyak dari kursi rapat RT, dan jasnya mungkin dijahit langsung oleh dewa mode. Pokoknya, kalau bicara uang, publik mengira dompet Hotman sudah masuk kategori kawasan ekonomi khusus.

Makanya, ketika muncul isu angpau pernikahan anak sendiri diduga belum sampai ke tangan pemilik hajatan, netizen langsung bengong. Ini seperti mendengar paus biru rebutan ikan teri. Tidak masuk logika, tapi justru itulah yang membuat internet mendadak lebih ramai dari pasar malam diskon durian.

Padahal sebelumnya Hotman juga sedang dihantam badai dari berbagai arah. Ia lebih dulu dilaporkan PWI Pusat ke polisi setelah polemik soal wartawan. Setelah itu, kritik datang dari Gerindra karena dianggap menyeret nama Presiden Prabowo dalam polemik lain. Orang mengira serangan berikutnya akan datang dari lawan hukum, politisi, atau netizen yang hobinya buka kolom komentar sambil seruput Koptagul dan makan pisang goreng.

Eh, ternyata meleset. Yang datang justru darah daging sendiri. Ini bukan lagi tikungan, melainkan putaran balik sampai Google Maps ikut bingung.

Awalnya Hotman membuat video klarifikasi. Ia menjelaskan, pengusaha Prajogo Pangestu memberikan Rp200 juta kepada Fritz Hutapea. Sementara dirinya menerima Rp800 juta sebagai hadiah pribadi dari mantan klien. Hotman juga menegaskan seluruh uang angpau pesta pernikahan di Jakarta sudah diserahkan seratus persen kepada Fritz.

Kalimatnya mantap. Nadanya penuh keyakinan. Seolah perkara selesai. Tetapi internet memang lebih suka episode dua.

Tanpa aba-aba, Fritz Hutapea muncul di kolom komentar. Ia mengaku sebenarnya tidak ingin membuka urusan keluarga ke publik. Namun karena cerita sudah telanjur dilempar, ia merasa wajib meluruskan.

Fritz membenarkan, dirinya memang menerima Rp200 juta dari Prajogo Pangestu. Lalu datang kalimat yang membuat netizen tersedak kopi. “Tapi sisanya angpao di pesta Jakarta itu saya TIDAK TERIMA dan tidak diinfokan juga sampai saat ini.”

Seketika kolom komentar berubah menjadi ruang sidang terbesar di Indonesia. Hakimnya netizen, paniteranya akun gosip, saksi ahlinya tetangga yang tidak diundang ke pesta.

Belum cukup sampai di situ, kakaknya, Frank Alexander Hutapea, ikut turun gunung. Kalau Fritz melempar batu, Frank membawa ekskavator.

Frank menyindir ayahnya terlalu banyak pencitraan. Ia menohok, “Fritz married aja angpaonya lo ambil,” sambil mempertanyakan klaim, sang ayah tidak mengejar uang. Ia juga mengkritik Hotman karena menyeret nama Presiden dalam polemik Febrie.

Masih kurang pedas? Tentu belum.

Frank juga menyerang program Hotman 911. Menurutnya, program bantuan hukum gratis itu sudah melenceng dari tujuan awal dan hanya menjadi alat marketing bisnis Holywings. Bahkan ia menyebut masyarakat kecil dijadikan senjata promosi dan meminta akun Hotman 911 ditutup.

Sebagai penutup yang bikin dada makin sesak, Frank mengaku sudah setahun tidak berkomunikasi dengan sang ayah. Ia kini memilih membangun kantor hukumnya sendiri.

Kalau benar harta melimpah sampai parkiran rumah penuh mobil mewah, publik tentu heran mengapa yang bikin heboh justru angpao anak sendiri. Entah siapa yang benar, biarlah waktu yang menjawab. Namun satu hal sudah pasti, tahun 2026 berhasil menghadirkan drama paling absurd. Musuh paling berat seorang pengacara top ternyata bukan jaksa, bukan hakim, bukan lawan perkara, melainkan kolom komentar yang diisi anak kandung sendiri. Plot twist seperti ini membuat penulis sinetron pun mungkin akan berkata, “Wah, ini terlalu liar.”

 

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

Tulisan ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version