Kubu Raya Gusur Mempawah, Tujuh Tahun Berkuasa, Akhirnya Turun Podium

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

WAK, mohon maaf saya mau bercerita daerah sendiri. MTQ baru saja selesai. Saya mau cerita hasilnya. Kalau politik punya istilah pergantian rezim, MTQ Kalbar ternyata juga punya. Setelah tujuh kali berturut-turut menjadi juara umum, Kabupaten Mempawah akhirnya harus menyerahkan mahkota kepada Kubu Raya.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul.

MTQ ke-34 tingkat Provinsi Kalbar di Kabupaten Kayong Utara tahun 2026 resmi melahirkan Kubu Raya sebagai juara umum. Menangnya tidak brutal. Tidak sampai bikin lawan minta audit. Cuma beda 11 poin.

Kubu Raya mengoleksi 213 poin. Sementara Mempawah 202 poin. Tipisnya seperti hasil rapat politik membuat semua pihak masih sibuk menghitung siapa sebenarnya paling menang.

Bagi Kubu Raya, kemenangan ini terasa istimewa. Terakhir kali menjadi juara umum terjadi pada 2016. Hampir satu dekade menunggu. Lama sekali. Kalau manusia, mungkin sudah sempat ganti kendaraan, ganti gaya rambut, bahkan ganti cita-cita.

Di bawah mereka ada Kota Pontianak 178 poin, Sambas 159 poin, dan tuan rumah Kayong Utara 124 poin di posisi kelima. Kayong Utara patut bangga karena naik dari peringkat ketujuh pada MTQ sebelumnya.

Ketapang berada di posisi keenam dengan 114 poin, sekaligus meraih juara pertama Syarhil Quran Putra. Pontianak juga mencatat prestasi dengan 19 kafilah lolos ke babak final berbagai cabang.

Sementara itu, Kapuas Hulu mengalami penurunan cukup tajam. Dari peringkat keenam tahun sebelumnya, kini terjun ke peringkat ke-13. Ini bukan sekadar turun peringkat. Ini seperti pejabat sebelumnya duduk di barisan depan, tiba-tiba kursinya dipindah dekat pintu keluar.

Bupati Kubu Raya Sujiwo menyambut kemenangan dengan syukur dan haru. Ia berterima kasih kepada qori, qoriah, kafilah, tim seleksi, dan LPTQ yang bekerja keras. Menariknya, sejak awal Kubu Raya tidak memasang target juara umum. Strateginya sederhana, jangan membebani kafilah dengan ekspektasi berlebihan agar mereka tampil lepas dan maksimal.

Hasilnya? Tidak banyak janji, tahu-tahu menang. Dalam politik, biasanya target dipasang setinggi langit, ketika gagal kemudian muncul kalimat, “Yang penting proses.”

Kubu Raya malah tidak banyak bicara soal target. Poin yang bicara. Namun Sujiwo mengingatkan, juara bukan tujuan utama MTQ. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Al-Quran diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab jangan sampai bacaan Al-Quran merdu di panggung, tetapi kejujuran hilang ketika turun ke kantor. Jangan sampai hafal ayat, tetapi lupa menghafal amanah. Jangan sampai fasih membaca Al-Quran, tetapi gagap ketika diminta membaca laporan anggaran. Itu namanya bukan kurang hafalan. Kurang penghayatan.

Sujiwo juga sadar mempertahankan juara akan jauh lebih berat. LPTQ diminta segera menyiapkan pembinaan lebih terencana. Sebagai penghargaan, para peraih medali emas akan diberangkatkan umrah.

Wakil Bupati Mempawah Juli Suryadi Burdadi menerima hasil dengan lapang dada. Ia mengapresiasi seluruh peserta yang telah berjuang maksimal. Runner-up tetap prestasi. Tidak perlu drama.

Kekalahan justru menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pembinaan qari dan qariah agar Mempawah bisa bangkit dan merebut kembali gelar pada MTQ mendatang. Sebab kompetisi memang begitu. Hari ini menang, besok dievaluasi. Hari ini kalah, besok berbenah.

Bukan seperti politik, kalah hari ini, besok pindah koalisi, lusa deklarasi, minggu depan bilang semuanya demi rakyat. MTQ ke-34 akhirnya mencatat sejarah, dominasi Mempawah berakhir, Kubu Raya naik takhta.

Berikutnya, MTQ ke-35 akan digelar di Kota Pontianak pada 2027. Pontianak bukan cuma harus menyiapkan panggung megah. Kafilahnya juga harus megah. Sebab menjadi tuan rumah itu mudah. Yang sulit adalah menjadi tuan rumah sekaligus juara.

Pada akhirnya, MTQ bukan sekadar lomba mencari suara paling merdu atau hafalan paling banyak. Setelah mikrofon dimatikan, Al-Quran harus tetap hidup dalam perilaku. Kalau ayatnya tinggi tetapi akhlaknya rendah, berarti kita semua masih perlu, remedial.

 

 

 

OLeh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version