Ditemukan Polisi Lidah Panjang di Bengkulu

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

ADA penemuan unik di Bengkulu. Bukan tambang emas, bukan harta karun, bukan Rafflesia arnoldi, bukan pula spesies baru dari hutan Sumatra. Yang ditemukan justru lebih ajaib, polisi lidah panjang. Sambil menunggu hasil RDP Komisi XIII yang sedang membenjek Dirjen Lapas, nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Penemuannya terjadi Kamis, 24 September 2026, di depan Kantor Gubernur Bengkulu. Saat itu Aliansi Rakyat Bersatu yang terdiri dari petani, mahasiswa, dan masyarakat sedang menyampaikan delapan tuntutan agraria. Isunya serius, yakni sengketa lahan, perusahaan tanpa HGU, sampai penolakan terhadap rencana tambang emas Bukit Sanggul di Seluma.

Polisi pun berjajar rapi. Seragam cokelat. Wajah serius. Dada tegap. Kaki siap bergeser. Pokoknya penampilan mereka seperti tembok hidup baru selesai dicor. Tidak ada yang aneh. Semua terlihat profesional.

Sampai kemudian kamera menemukan sesuatu. Seekor… eh, seorang manusia dengan baju safari hitam lengan pendek. Lalu, mendadak suasana berubah menjadi pertunjukan komedi.

Sosok yang ramai disebut netizen sebagai Bripka Agus Ginta Meiro, yang diklaim anggota Ditintelkam Polda Bengkulu. Ia terlihat menjulurkan lidah sepanjang mungkin. Mulut menganga. Mata menyipit. Tangan diangkat ke samping kepala membentuk pose seperti sedang menelepon.

Lengkap. Mulut terbuka, lidah meluncur, tangan menelepon, wajah menyeringai. Kalau sedikit lebih panjang, lidahnya mungkin bisa dipakai mencari sinyal Wi-Fi untuk live streaming Timnas vs Malaysia.

Polisi di sebelahnya berdiri dengan wajah serius. Sementara dia seperti baru menemukan kamera depan ponsel dan langsung memutuskan, “Ini kesempatan saya untuk berkarya.”

Petani membawa tuntutan. Mahasiswa membawa spanduk. Masyarakat membawa keresahan. Dia membawa lidah.

Inilah Indonesia. Ketika persoalan agraria sedang serius-seriusnya, tiba-tiba muncul pemeran pendukung sepertinya salah masuk genre. Yang lain menjaga barisan. Dia menjaga ekspresi. Yang lain mengawal demonstrasi. Dia mengawal karier lidahnya menuju viralitas. Kalau ada musik dangdut tiba-tiba menyala, mungkin tinggal joget dua langkah, lalu demonstrasi berubah menjadi festival hiburan rakyat.

Netizen pun gaspol. Video tersebut beredar luas dan identitas sosok itu ramai diperbincangkan. Namun Polda Bengkulu melalui Kabid Humas Kombes Pol Imam Wijayanto menyatakan tindakan tersebut masih didalami dan dievaluasi.

Nah, kata “didalami” ini menarik. Video sudah ada. Lidah sudah keluar. Pose sudah lengkap. Ekspresi sudah tertangkap kamera. Tetapi tetap perlu didalami. Mungkin yang sedang didalami bukan lagi videonya, melainkan filsafat di balik lidah tersebut.

Apakah bercanda? Apakah spontan? Apakah gestur tertentu? Atau jangan-jangan ada kode rahasia kepolisian yang selama ini belum diketahui publik?

Kita tentu menunggu penjelasan resmi. Jangan sampai ekspresi seseorang langsung dijadikan kesimpulan final sebelum pemeriksaan selesai.

Tetapi publik juga wajar merasa heran. Sebab aksi tersebut berlangsung ketika masyarakat sedang menyampaikan persoalan yang bagi mereka sangat serius. Tanah bukan mainan. Sengketa agraria bukan bahan lawakan. Aspirasi masyarakat bukan panggung talent show.

Nuan bayangkan kalau model begini menjadi tren. Petani berorasi, “Kami minta keadilan!”
Polisi, “Sebentar, ngecek lidah dulu, weeek!” Mahasiswa berteriak, “Tolak tambang!” Polisi, “Tunggu, pose telepon dulu.”

Masyarakat membawa spanduk. Aparat membawa tameng. Satu orang membawa lidah sepanjang jalan tol. Akhirnya yang viral bukan delapan tuntutan agraria, tetapi satu lidah yang mendadak menjadi selebritas.

Bumi Andalas Barat hari itu memberikan pelajaran penting. Demonstrasi boleh serius, pengamanan boleh tegang, tetapi kamera selalu punya selera humor sendiri. Ketika kamera menangkap lidah menjulur di tengah barisan polisi, publik tinggal bertanya, “Ini aparat sedang mengamankan demonstrasi, atau lidahnya sedang melakukan pengamanan terhadap dirinya sendiri?”

“Bang, kok ada polisi model macam itu ya? Mungkin ada guru yang mengajarkannya begitu.”

“Bisa saja ada sosok terhormat pernah menjulurkan lidah menjadi teladannya, wak!”

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version