Giliran Dokter “Biadab” Asal Palembang Menari di Atas Derita Yurizal

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

TIGA dokter sudah kita bejek-bejek sebelumnya. Kali ini giliran dokter “biadab” dari Palembang. Ia menari di atas derita Yurizal lewat komentar yang tidak berperikemanusiaan. Karma is real, ia pun disepak dari rumah sakit.

Simak narasinya sambil seruput Koptagul di malam minggu, wak!

Namanya dr. Tamara Dewi Jasmine, dokter mitra RS Pusri Palembang. Awalnya sederhana. Pada 22 Juli 2026, almarhum Yurizal Tri Chaerawan mengeluhkan sudah sekitar delapan jam menunggu ruang perawatan sebagai pasien BPJS. Keluhan itu baru viral sekitar sepekan kemudian, setelah Yurizal meninggal.

Lalu dr. Tamara muncul melalui akun Threads @tamdjs, meledaklah jagat maya.

“Kalian cuma bayar ke BPJS, bukan bayar ke RS apalagi nakesnya. Jadi, nggak usah songong. Kalau gak suka, ya, gak usah berobat di situ. Tidak ada yang minta kalian berobat.”

Belum selesai.

Ia menulis lagi:

“Mending banyakin duit halal daripada banyakin bacot, biar bisa bayar dan merasakan asuransi swasta.”

Kemudian disusul:

“RS apalagi Nakes TIDAK DIBAYAR oleh BPJS untuk kasus yang TIDAK sesuai ATURAN BPJS. Kalo dikasih tau tuh jangan ngeyel dan sok jadi si paling korban.”

Waduh! Pasien mengeluh soal pelayanan, balasannya malah seperti sedang diusir dari pintu kerajaan. “Tidak ada yang minta kalian berobat.”

Kalimat ini kalau dibaca orang sehat mungkin cuma bikin kesal. Tetapi bayangkan dibaca orang yang sedang sakit. Orang datang ke rumah sakit bukan membawa proposal piknik. Ia datang karena tubuhnya bermasalah dan membutuhkan pertolongan.

Kalau aturan BPJS tidak sesuai, jelaskan. Kalau klaim tidak bisa dibayar, jelaskan. Kalau kamar penuh, jelaskan. Tetapi jangan ubah meja pelayanan menjadi mimbar penghakiman.

BPJS bukan kartu kasta rendah. Pasien BPJS bukan manusia diskon. Mereka bukan warga negara kelas dua harus menunduk setiap kali masuk rumah sakit.

RS Pusri akhirnya bergerak. Humas Diah Dwi Anugrah menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan keluarga Yurizal. Manajemen menegaskan komentar Tamara merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili sikap maupun kebijakan rumah sakit.

Tamara sendiri disebut dokter mitra baru bergabung sejak Mei 2026. Manajemen memanggilnya untuk klarifikasi. Lalu datanglah keputusan membuat cerita berubah dari sekadar keributan digital menjadi konsekuensi nyata.

Kamis, 6 Agustus 2026, kerja sama RS Pusri dengan dr. Tamara Dewi Jasmine resmi diakhiri. Pihak rumah sakit menyebut tindakannya sebagai pelanggaran disiplin dan bagian dari penegakan tata kelola organisasi.

So, kolom komentar akhirnya punya harga. Bukan cuma hujatan. Bukan cuma permintaan maaf. Tetapi pekerjaan profesional ikut dipertaruhkan.

Tamara juga terancam menghadapi proses hukum. Muhammad Dika Perkasa disebut telah menyiapkan tim kuasa hukum terkait pernyataan tersebut.

Dalam video permintaan maaf, Tamara mengakui komentar itu merupakan pendapat pribadi, tidak mewakili institusi mana pun, dan meminta maaf kepada publik serta keluarga Yurizal.

Namun internet punya ingatan panjang. Reputasi digital RS Pusri ikut terseret. Rating Google Review disebut turun hingga 3,9 bintang. Meski demikian, rumah sakit memastikan pelayanan tetap berjalan normal.

Inilah pelajaran paling brutal dari kasus ini. Jas putih bukan jubah kekebalan. Gelar bukan lisensi untuk menghina. Profesi dokter bukan tiket VIP untuk merasa lebih tinggi dari pasien. Media sosial bukan tempat membuang empedu lalu berharap tidak ada konsekuensi.

Dokter boleh lelah. Rumah sakit boleh penuh. Aturan BPJS boleh rumit. Pasien boleh tidak memahami semuanya. Tetapi satu hal tidak boleh hilang, martabat manusia.

Kalau seorang tenaga kesehatan sampai berkata, “Tidak ada yang minta kalian berobat,” maka pertanyaan paling telanjang adalah, untuk siapa sebenarnya rumah sakit itu berdiri? Untuk pasien? Atau untuk ego orang-orang yang bekerja di dalamnya?

Sebab rumah sakit boleh kekurangan kamar. Tetapi jangan sampai kemanusiaan ikut kehabisan tempat tidur.

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version