Isi Sadapan Belum Bocor, Geng Solo Malah Mencuat

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

REPUBLIK ini memang ajaib. Presiden disadap, menteri disadap, jenderal disadap, politisi disadap. Bahkan kalau daftar targetnya terus bertambah, jangan-jangan tukang parkir Istana ikut masuk radar.

Namun, ada satu hal bikin kepala publik berputar seperti kipas angin rusak, isi percakapan hasil sadapan sampai 6 November 2026 belum ada satu pun yang bocor!

Audio tidak ada, transkrip nihil, potongan percakapan pun tak kelihatan. Yang beredar cuma daftar nama. Mulai dari versi 43 orang sampai berkembang menjadi 64 orang. Isinya seperti daftar undangan pesta perkawinan keluarga kerajaan: Prabowo, SBY, Megawati, Surya Paloh, Dasco, Sjafrie, Hasto, Cak Imin, Bahlil, Zulhas, Ganjar, Rocky Gerung, Haji Isam, AHY, Habib Rizieq, Gatot Nurmantyo, Karni Ilyas, Jusuf Kalla, dan sederet tokoh lainnya.

Hebatnya, semua orang tahu siapa yang disadap, tetapi tak seorang pun tahu apa dibicarakan. Ini penyadapan atau lomba mengumpulkan nomor telepon?

Yusril Ihza Mahendra mengaku baru mendengar soal Presiden, menteri, dan politisi yang menjadi target. Ketika ditanya isi percakapannya, jawabannya sederhana: Wallahu a’lam. Istana melalui Mensesneg Prasetyo Hadi juga mengaku belum mengetahui detail pembicaraan tersebut. Polisi masih sibuk menelusuri jejak digital yang diduga dihapus para tersangka.

Bareskrim telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yakni Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, dan Irjen Eko Hadi Santoso. Mereka diduga memasukkan nomor-nomor target ke server LIMS tanpa prosedur dan memerintahkan penghapusan data pada Oktober 2026.

Tetapi hasil rekamannya masih misterius. Servernya mungkin sedang puasa bicara. Nah, yang membuat cerita ini semakin menarik adalah absennya dua nama: Jokowi dan Gibran. Hampir semua tokoh besar masuk daftar, tetapi bapak dan anak dari Solo itu justru tidak kelihatan. Seperti pesta besar, semua pejabat diundang, tetapi tuan rumahnya malah tidak tercatat.

Mahfud MD ikut melempar dugaan, hasil sadapan mengalir ke Solo, dianalisis di sana, kemudian digunakan untuk mengganggu pihak-pihak tertentu. Kata kuncinya, Solo!

Mendadak Solo menjadi kota paling seksi dalam percakapan politik nasional. Geng Solo pun mencuat. Publik mulai bertanya, mengapa lingkaran tertentu justru tampak steril dari daftar penyadapan?

Apakah ada hubungan dengan kedekatan karier Listyo yang pernah bertugas sebagai Kapolres Solo dan memiliki riwayat kedekatan dengan Jokowi? Apakah ada patron lama diduga masih punya pengaruh? Ini semua masih menjadi pertanyaan dan dugaan yang perlu dibuktikan, bukan kesimpulan hukum.

Guntur Romli mempertanyakan loyalitas Listyo, kepada Presiden yang sah atau kepada sosok dahulu mengantarkannya menjadi Kapolri? Aktivis 98 meminta Jokowi diperiksa dan, jika terbukti memerintahkan, diproses hukum. Gerindra juga mendesak penyelidikan tidak berhenti pada eksekutor, tetapi harus membongkar otak, pemberi perintah, hingga penyandang dana.

Pertanyaannya sederhana, siapa sebenarnya yang menikmati hasil penyadapan ini? Jangan sampai jenderal hanya menjadi tukang pencet tombol, sementara pemilik remote duduk nyaman sambil menyeruput kopi di tempat lain.

Sampai sekarang, publik baru disuguhi daftar nama, tiga tersangka, dan segudang spekulasi. Isi percakapannya tetap terkunci rapat. Kalau memang ada kejahatan, buka semuanya melalui proses hukum yang transparan.

Sebab republik ini bukan ruang karaoke rahasia. Presiden disadap, rakyat penasaran, tetapi rekamannya entah bersembunyi di server mana. Duh, penasaran apa sih yang dibicarakan presiden. Mungkin beliau mau ngajak ngopi dengan Presiden Partai Koptagul, ups.

Jangan-jangan server LIMS sudah pindah alamat ke Solo, lengkap dengan wedangan dan nasi liwet. Seruput Koptagul, wak!

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version