Aneh, Media Internasional seperti Berebut Beritakan Keracunan MBG

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

Ada yang aneh dengan Indonesia hari-hari ini. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai proyek besar untuk memberi makan anak bangsa tiba-tiba menjadi tontonan dunia. Bukan karena semua anak kenyang lalu tumbuh menjadi manusia perkasa, tetapi karena berita keracunan massalnya seperti dikejar-kejar media internasional.

Dalam tiga hari saja, lebih dari 1.700 orang mengalami mual, muntah, dan diare di Sidoarjo, Nganjuk, Agam, hingga Rembang-Lasem. Lalu dunia menoleh.

Reuters memberitakan. The Guardian memberitakan. Al Jazeera ikut mengangkat. Channel NewsAsia masuk. Arab News ikut memberitakan. Media Vietnam Tuổi Trẻ pun tidak mau ketinggalan.

Waduh! Ini sudah seperti final Piala Dunia pemberitaan. Bedanya, yang diperebutkan bukan trofi. Yang diperebutkan adalah cerita tentang anak-anak Indonesia tumbang setelah menyantap makanan program pemerintah.

Media internasional biasanya sibuk memberitakan perang, ekonomi global, geopolitik, dan drama para pemimpin dunia, mendadak ikut menyorot dapur SPPG. Indonesia mendunia.

Sayangnya, kali ini bukan karena rendang. Bukan karena Bali. Bukan karena batik. Melainkan karena pertanyaan sederhana. “Mengapa makanan bergizi gratis bisa berujung ke rumah sakit?”

Di Sidoarjo, ratusan santri dan siswa dilarikan ke rumah sakit. Dapur SPPG ditangguhkan selama 30 hari. Pejabat sibuk menjelaskan evaluasi, penyimpanan, distribusi, dan berbagai kemungkinan penyebab.

Sementara angka kasus terus bergulir seperti odometer mobil tua. Network for Education Watch mencatat 37.600 kasus keracunan terkait program ini per 8 Agustus 2026. Ada angka 40.759, kemudian 43.838, bahkan seorang legislator menyebut jumlahnya mendekati 50.000 kasus.

Ini bukan lagi angka. Ini sudah seperti rombongan. Kalau angkanya terus bertambah, sebentar lagi spreadsheet-nya mungkin perlu pakai map. Yang membuat semuanya semakin sinematik adalah waktunya. Ketika pemberitaan keracunan berputar di media internasional, Presiden Prabowo Subianto justru berada di Vladivostok, Rusia, menghadiri Eastern Economic Forum.

Di hadapan Vladimir Putin dan para delegasi dunia, Presiden dengan penuh keyakinan menjelaskan, pembangunan sejati harus diukur dari meja makan rakyat. Kemudian keluarlah kalimat kebanggaan itu:

“Inilah sebabnya mengapa Indonesia menyediakan makanan bergizi gratis bagi semua anak-anak kita dan bagi ibu hamil.”

Igor bayangkan adegannya. Di satu layar, Presiden berbicara tentang makanan bergizi. Di layar lain, media dunia memberitakan anak-anak Indonesia keracunan. Satu layar berisi diplomasi. Satu lagi berisi IGD. Ini baru sinema Indonesia.

Program MBG memang luar biasa besar. Porsinya disebut sudah melampaui McDonald’s dalam jumlah porsi harian, menjangkau puluhan juta orang. Bahkan, disebut telah dipelajari banyak negara.

Tetapi media internasional tampaknya menemukan sisi lain yang juga menarik. Bagaimana sebuah program makanan gratis berskala raksasa bisa menghadapi persoalan keamanan pangan sampai diberitakan ke berbagai penjuru dunia?

Kalau mau dibuat super-hiperbolis, mungkin Putin sedang berpikir, “Indonesia hebat. Program makannya bukan cuma sampai meja rakyat. Beritanya sampai meja media dunia.”

Tentu ini satire. Sebab di balik tawa ada anak-anak benar-benar sakit. Ada orang tua panik. Ada guru cemas. Ada tenaga medis bekerja. Persoalannya sebenarnya sederhana. Makan bergizi harus membuat anak sehat, bukan membuat rumah sakit sibuk.

Kalau media internasional sudah seperti berebut memberitakan keracunan MBG, yang seharusnya membuat kita malu bukan karena dunia melihat. Yang lebih menakutkan adalah kalau dunia melihat, sementara kita sendiri pura-pura tidak melihat.

Program boleh raksasa. Porsi boleh puluhan juta. Pidato boleh sampai Vladivostok. Tetapi ukuran paling sederhana tetap sama. Anak makan, kenyang, sehat, lalu pulang tersenyum. Bukan makan gratis, kemudian bonus tur menuju IGD.

“Hebat MBG sampai mendunia ya, Bang.”

“Tak salah bisa negeri kita sering disebut negeri MBG. Habis Jumat kita seruput Koptagul, wak!” Ups

 

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version