Ratapan Dari Bumi Khatulistiwa yang Terbakar

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

SAYA tidak punya keahlian memadamkan karhutla. Yang bisa saya lakukan, menuliskan kondisi Bumi Khatuliswa yang terbakar. Semua tak berdaya. Hanya bisa pasrah. Hanya bisa berdoa, agar Tuhan bisa menurunkan hujan.

Tulisan ini cukup panjang, skip saja bila merasa risih. Ini hanya curhatan dari seorang manusia yang butuh udara segar.

Sebagai warga Kalbar, saya merasakan sendiri betapa sakitnya bernapas hari-hari ini. Begitu pintu rumah dibuka, asap sudah menunggu. Keluar sedikit, mata pedih. Tarik napas, dada terasa berat. Tenggorokan kering. Anak-anak batuk. Orang tua cemas. Masker menjadi benda yang lebih penting dari dompet.

Air ledeng pun payau. Asin. Air bersih semakin sulit. Ironisnya, kita tinggal di Kalimantan, pulau yang disebut sebagai salah satu gudang kekayaan negeri. Tetapi hari ini, untuk mendapatkan udara layak dihirup dan air layak diminum saja, rakyat harus berjuang.

Entah sampai kapan derita pilu ini akan kami rasakan. Kalimantan memang kaya. Katanya. Tanah kami kaya. Hutan kami kaya. Tambang kami kaya. Sawit kami kaya. Batu bara kami kaya. Sumber daya alam kami luar biasa.

Tetapi ketika rakyat sedang tercekik asap, pertanyaan paling sederhana justru menjadi pertanyaan paling menyakitkan, di mana kekayaan itu?

Untuk apa kekayaan itu jika ketika hutan terbakar, rakyat hanya mendapatkan asap? Untuk apa kekayaan itu jika ketika anak-anak sesak, orang tua hanya bisa mengusap dada? Untuk apa kekayaan itu jika air bersih saja semakin sulit?

Tuhanku…Mengapa langit Kalimantan dahulu biru kini seperti kain kafan raksasa? Mengapa matahari hanya tampak sebagai bulatan merah samar di balik asap? Mengapa manusia tidak pernah menyalakan api harus ikut membayar dosa mereka yang membakar?

Di tengah penderitaan itu, datanglah sebuah kabar yang membuat dada semakin sesak. Rp19,1 miliar. Bukan untuk air bersih. Bukan untuk masker. Bukan untuk penanganan karhutla. Bukan untuk menyelamatkan paru-paru rakyat.

Tetapi untuk pembangunan gedung parkir Kejati Kalbar. Hibah dari APBD Pemprov Kalbar. Proyek yang disebut telah diajukan sejak 2023. Tiga tahun. Tiga tahun sebuah rencana dipelihara. Tiga tahun dipikirkan. Tiga tahun disiapkan.

Sementara rakyat menatap langit gelap dan bertanya, “Besok kami bernapas pakai apa?” Syukurlah. Proyek itu ditolak Kejati. Alhamdulillah, Kejati masih punya nurani. Cuma, mau diapakan duit sebanyak itu? Di saat negeri penuh asap, inilah saatnya duit rakyat diperuntukkan untuk rakyat yang sedang menderita.

Sebuah data memperlihatkan, anggaran darurat bencana hanya Rp25 miliar. Dana sebesar itu bisa dibayangkan untuk membantu penanganan karhutla: membeli ribuan masker, menyediakan air bersih, mendukung logistik, membiayai kebutuhan relawan, bahkan memperkuat operasi pemadaman dan water bombing.

Di Kalteng, Indeks Standar Pencemar Udara sempat menyentuh angka 2.200. Kategori berbahaya hanya 300. Dua ribu dua ratus. Bukan salah ketik. Bukan angka dari film kiamat. Tetapi angka menggambarkan betapa brutalnya udara harus dihadapi manusia.

Di Kalbar sendiri saja, 2.434 titik api menyala. Ribuan titik. Seperti mata merah berkedip dari bumi, seakan-akan mengejek manusia terlalu lama membiarkan luka ini berulang.

Di Kaltim, 18.402 titik panas tercatat dalam sebulan terakhir. Angka yang melampaui kegilaan tahun 2015. Tahun ketika asap Indonesia pernah membuat dunia menoleh. Tetapi dunia memang punya ingatan pendek. Ketika asap hilang, berita hilang. Ketika langit kembali biru, perhatian ikut pergi. Tetapi tubuh manusia tidak semudah itu melupakan.

Lebih dari 16 ribu jiwa menderita gangguan pernapasan. Lebih dari 9 ribu di Kaltim. Di Pontianak, angkanya mencapai 151.966 kasus. Seratus lima puluh satu ribu sembilan ratus enam puluh enam.

Tolong jangan melihat angka itu sebagai angka. Nuan bayangkan 151.966 wajah. 151.966 dada. 151.966 manusia. Ada anak-anak, ibu, ayah, kakek, nenek, dan bayi. Ada keluarga mungkin malam ini memeluk anaknya sambil mendengarkan suara batuk.

Ada orang tua mungkin terjaga sepanjang malam karena takut napas anaknya tiba-tiba semakin pendek. Ada keluarga mungkin tidak punya pendingin udara. Tidak punya alat penyaring udara. Tidak punya banyak uang. Mereka hanya punya jendela. Tetapi jendela pun tidak bisa dibuka. Karena di luar sana, asap sedang menunggu.

Lalu datang ironi berikutnya. Ketika rakyat Kalimantan sedang tercekat menahan napas, pesawat kepresidenan melesat meninggalkan Bumi Nusantara menuju dinginnya negeri para Tsar di ujung utara dunia. Menuju Rusia. Menuju pertemuan dengan Vladimir Putin.

Diplomasi tentu penting. Hubungan antarnegara tentu penting. Dunia memang harus diurus. Tetapi rakyat Kalimantan juga ingin bertanya, siapa yang mengurus napas kami?

Ketika pesawat kepresidenan terbang jauh meninggalkan bumi sedang berkabut asap, rakyat Kalimantan tidak sedang menatap langit karena kagum. Sebagian mungkin sedang menatap langit sambil batuk. Sebagian menatap langit sambil berharap hujan.

Sebagian menatap langit sambil berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan.” Namun Tuhan ternyata belum selesai menguji. Di tengah semua kepedihan itu, masih ada manusia-manusia membuat kita percaya, kemanusiaan belum mati.

Mereka datang. Bukan dengan jas mahal. Bukan dengan rombongan mewah. Bukan dengan pidato panjang. Mereka datang membawa selang, air, masker, makanan, logistik, tenaga, dan keberanian.

Mereka adalah para relawan. Petugas pemadam kebakaran. Personel TNI. Polri. Karang Taruna. Mereka berdiri di tempat yang membuat sebagian orang memilih menjauh. Mereka menghadapi api ketika kita berusaha menghindari asap.

Tubuh mereka lebam. Wajah mereka hitam oleh jelaga. Mata mereka merah. Baju mereka basah oleh keringat. Paru-paru mereka dipenuhi asap. Tetapi mereka tetap bekerja. Siang. Malam.

Hari berganti hari. Mereka mungkin tidak punya banyak uang. Tetapi mereka memberikan sesuatu jauh lebih mahal, tenaga dan keselamatan mereka sendiri.

Bahkan bantuan datang dari negeri Sakura. Jepang. Sekitar 180 personel disiapkan untuk membantu, bersama helikopter CH-47 dan kapal perang, dengan rencana bermarkas di Asrama Haji Pontianak.

Betapa ironisnya. Ketika api membakar rumah kita sendiri, manusia dari negeri jauh datang membawa pertolongan. Mereka datang bukan karena memiliki hutang kepada Kalimantan. Mereka datang karena masih percaya, manusia harus menolong manusia.

Apa saja diperlukan para relawan berjibaku di tengah asap. Mereka tidak peduli siang atau malam. Tidak peduli apakah kamera datang atau tidak. Karena bagi mereka, pahlawan bukan orang menunggu tepuk tangan. Pahlawan adalah orang tetap bekerja ketika tidak ada melihat.

Maka malam ini…Izinkan kami mengucapkan sesuatu yang mungkin terlalu sederhana dibandingkan pengorbanan kalian.

Terima kasih. Terima kasih kepada seluruh relawan, petugas pemadam kebakaran, personel TNI dan Polri, pasukan Jepang, semua pihak datang membantu.

Di saat kami tidur pulas, kalian masih bekerja. Di saat kami mengeluh karena asap masuk rumah, kalian justru masuk lebih jauh ke dalam asap. Di saat kami menutup pintu dan jendela, kalian membuka jalan menuju sumber api.

Di saat kami takut paru-paru kami rusak, kalian mempertaruhkan paru-paru kalian demi menyelamatkan kami. Kalian adalah manusia menjaga napas manusia lain. Kelak mungkin nama kalian tidak tertulis di buku sejarah. Mungkin tidak ada patung untuk kalian. Mungkin tidak ada karpet merah. Mungkin tidak ada panggung. Mungkin tidak ada penghargaan.

Tetapi percayalah…Ada sesuatu yang jauh lebih abadi dari penghargaan. Doa seorang ibu dan anak. Doa seorang warga yang malam ini masih bisa bernapas karena kalian.

Jika suatu hari nanti hujan turun deras di Kalimantan…Jika langit kembali biru…Jika anak-anak kembali bermain tanpa masker…Jika ibu-ibu kembali membuka jendela tanpa takut asap…Jika matahari kembali bersinar tanpa selubung kelabu…

Jangan pernah lupa. Ada orang-orang berdiri di depan api agar semua itu terjadi. Ada orang-orang yang tubuhnya terbakar panas agar rumah orang lain tidak terbakar. Ada orang-orang yang paru-parunya dicekik asap agar kita bisa mendapatkan kesempatan bernapas.

Maka kepada kalian yang masih berada di garis depan, jangan menyerah. Tetapi satu hal lebih penting, pulanglah dengan selamat. Kami menunggu kepulangan kalian. Keluarga kalian menunggu. Anak-anak kalian menunggu. Kalimantan menunggu. Pulanglah. Jangan biarkan perjuangan kalian berakhir di tengah asap. Sebab kami tidak hanya membutuhkan keberanian kalian. Kami membutuhkan kalian tetap hidup.

Kalimantan mungkin sedang terbakar. Hutan-hutan kami mungkin sedang menjadi abu. Langit kami mungkin sedang menangis. Paru-paru kami mungkin sedang menjerit. Tetapi harapan belum mati.

Harapan itu bernama relawan. Harapan itu bernama setiap manusia masih memiliki hati untuk datang ketika orang lain sedang menderita.

Kalimantan boleh terbakar. Tetapi jangan biarkan kemanusiaan ikut menjadi abu. Suatu hari nanti, ketika anak-anak bertanya, “Mengapa dulu langit Kalimantan berwarna kelabu?”

Kita mungkin akan menjawab dengan suara bergetar, “Karena pernah ada masa ketika hutan terbakar, rakyat kehilangan udara, air bersih menjadi sulit, dan manusia harus berjuang hanya untuk bernapas.”

Lalu ketika mereka bertanya, “Siapa yang menyelamatkan kami?” Semoga kita bisa menjawab, “Banyak orang.”

Orang-orang biasa. Dengan seragam lusuh. Dengan masker penuh debu. Dengan mata merah. Dengan tubuh lelah. Dengan tangan gemetar. Tetapi dengan hati yang luar biasa besar.

Mereka tidak menyelamatkan Kalimantan dengan kata-kata. Mereka menyelamatkannya dengan keringat. Dengan air, keberanian, pengorbanan, kemanusiaan. Untuk kalian, para petarung di garis depan:

Salam hormat dari kami yang masih bisa bernapas karena kalian tidak berhenti berjuang. Tetap bertahan. Tetap kuat. Jaga diri. Jaga sesama. Pulanglah dengan selamat.

Karena di rumah sana, ada orang-orang yang mencintai kalian. Di seluruh Bumi Khatulistiwa ini, ada jutaan dada diam-diam sedang berdoa, “Tuhan, selamatkan mereka yang sedang menyelamatkan kami.”

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version