Cerpen “Konspirasi Empat Jenderal, Raja Wowo Mulai Ketar-Ketir”

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

DI Kerajaan Embegia, pergantian raja tidak selalu berarti pergantian kesetiaan. Ada tetap setia, ada tersingkir, ada pula diam-diam menyimpan dendam sambil pura-pura menikmati masa pensiun.

Begitulah nasib Limtio Sugio, mantan Panglima Polisi kini menjadi penasihat Raja Wowo Prapto. Dulu ia tangan kanan Raja Mulyono. Setelah takhta berpindah, pengaruhnya ikut menyusut seperti kerupuk terkena kuah.

Tiga sahabat lamanya, Ahie Gonta, Eka Yadi, dan Parly Jinayat, mengalami nasib serupa. Mereka mantan petinggi polisi kerajaan posisinya mulai tersingkir. Diam-diam, mereka merancang pertemuan rahasia.

Pukul 01.00 dini hari, di kawasan Ancol, keempatnya berkumpul di sebuah bunker bawah tanah. Pintu masuknya tersembunyi di bawah kios cilok dan batagor. Kios itu dijaga kakek berusia 70 tahun. Dari luar, kios itu tampak biasa. Siapa sangka, di bawahnya terdapat markas rahasia berteknologi antargalaksi.

Untuk menghilangkan jejak, mereka menggunakan sistem fiktif bernama Protokol Kambing Hitam. Ponsel dimatikan, kendaraan ditinggalkan, sopir dipulangkan. Identitas digital masuk ke ruang simulasi. Bahkan satelit Amerika dan Rusia konon tidak mampu mendeteksi bunker tersebut. NASA pernah mencoba, tetapi malah mengira lokasi itu gudang bakso.

Di dalam bunker, Limtio membuka rapat.

“Kita harus mengetahui apa yang dibicarakan Raja Wowo dengan para petinggi partai.”

Eka mengeluarkan perangkat fiktif bernama Quantum Ear of Olympus, teknologi intelijen supercanggih konon bisa membaca gema komunikasi digital.

“Alat ini mampu menembus pertahanan teknologi kerajaan,” katanya.

Ahie bertanya, “Beli di mana?”

“Marketplace.”

“Berapa?”

“Diskon 70 persen.”

Limtio langsung mengurut dada. Konspirasi tingkat dewa ternyata masih mengandalkan gratis ongkir.

Mereka sepakat mengumpulkan informasi melalui simulasi intelijen untuk mengetahui peta politik kerajaan. Informasi itu dianggap penting untuk memahami kemungkinan perubahan kekuasaan.

Tidak sampai 30 menit, rapat selesai. Mereka kembali ke aktivitas masing-masing.

Sayangnya, ada mengikuti pergerakan mereka. Bukan mengetahui rencana, tetapi cukup mencatat pertemuan mencurigakan tersebut.

Beberapa waktu kemudian, ahli hacker istana menemukan anomali komunikasi. Ada indikasi intersep percakapan Raja Wowo dengan para petinggi partai. Sistem keamanan kerajaan mendeteksi pola yang tidak biasa.

Nama Limtio muncul dalam daftar pemeriksaan. Ahie, Eka, dan Parly ikut terseret.

Raja Wowo murka.

“Periksa mereka!”

Keempatnya menjalani interogasi intensif. Pertanyaan datang bertubi-tubi.

“Benarkah kalian bertemu di Ancol?”

Limtio menjawab tenang, “Ancol itu luas, Paduka. Ada pantai, ada kios cilok, ada orang pacaran. Masa semua yang ke sana harus dicurigai?”

Wowo tidak tertawa. Ia mulai memahami, permainan politik di kerajaannya ternyata lebih rumit dari pertandingan catur melawan seribu grandmaster.

Akhirnya, mereka dilepaskan karena belum ada bukti cukup untuk menetapkan kesalahan. Namun, gerak-gerik keempatnya dipantau selama 24 jam.

Bahkan ketika Limtio membeli gorengan, jumlah bakwannya tercatat dalam sistem pengawasan kerajaan.

Suatu malam, Limtio kembali ke kios cilok.

“Kek, cilok satu.”

Kakek itu tersenyum. “Pedas, Tuan?”

“Sedang.”

“Kalau politik?”

Limtio terdiam.

Kakek itu mendekat dan berbisik, “Hati-hati, Tuan. Di kerajaan ini, orang paling berbahaya bukan selalu jenderal. Kadang justru orang yang dekat dengan kita.”

Limtio melotot.

Tiba-tiba layar kecil di bawah gerobak menyala, Proyek Bunker Cilok: Tahap Kedua Dimulai.

Kakek tertawa.

“Selamat datang di permainan sebenarnya, Tuan!”

Bersambung, tunggu kisah berikutnya. Disclaimer, ini hanya fiksi ditulis saat ngopi.

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

TAGGED:
Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version