Lestarikan Kearifan Lokal, MABM Singkawang Wajibkan Penggunaan Bahasa Melayu Tiap Hari Kamis

FOTO : Ketua DPD MABM Kota Singkawang, H. Asmadi, S.Pd., M.Si [ ist ]

Pewarta : Uray Tommy | Editor/publisher : admin radarkalbar.com

SINGKAWANG – Dewan Pengurus Daerah Majelis Adat Budaya Melayu (DPD MABM) Kota Singkawang resmi menerbitkan Surat Edaran (SE) terkait pengutamaan dan pelestarian bahasa daerah.

Melalui surat bernomor 01/MABM-SKW/V/2026, MABM menginstruksikan seluruh satuan pendidikan dan organisasi puak Melayu di Kota Singkawang untuk mulai membiasakan penggunaan bahasa Melayu dalam aktivitas mingguan.

​Ketua DPD MABM Kota Singkawang, H. Asmadi, S.Pd., M.Si, menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan langkah konkret dalam mengimplementasikan prinsip Tri Gatra Bangun Bahasa, yakni: Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing.

​”Surat edaran ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerja sama antara Pemerintah Kota Singkawang, Disdikbud, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, serta Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat,” ujar Asmadi dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).

Poin Utama Instruksi MABM

​Dalam surat edaran tersebut, terdapat empat poin krusial yang ditekankan untuk menjaga eksistensi budaya leluhur :

  • Penerapan di Satuan Pendidikan: Seluruh jenjang pendidikan di Kota Singkawang diwajibkan menerapkan dan membiasakan penggunaan bahasa Melayu setiap hari Kamis.
  • Lingkungan Keluarga dan Sosial: Masyarakat diminta memaksimalkan penggunaan bahasa Melayu, khususnya dialek Melayu Sambas, dalam interaksi keluarga serta kegiatan sosial kemasyarakatan.
  • Edukasi Generasi Muda: Orang tua dan wali murid diimbau untuk menuntun serta mengajarkan penggunaan kata dan kalimat bahasa Melayu yang benar kepada anak cucu.
  • Peran Tokoh Adat: Tokoh masyarakat dan organisasi puak Melayu didorong untuk terus menyosialisasikan pentingnya bahasa daerah sebagai simbol identitas dan jati diri agar tidak punah ditelan zaman.

​Asmadi menegaskan langkah ini diambil untuk memastikan kekayaan keanekaragaman budaya di Singkawang tetap terpelihara. Ia menutup arahannya dengan pepatah adat yang kuat sebagai pengingat akar budaya Melayu.

​”Adat bersandikan sara’, sara’ bersandikan kitabullah. Melayu ada karne karya,” pungkasnya. [ red ]

Share This Article
Exit mobile version