Krisis Habitat Kayong Utara: Bangkai Orangutan Ditemukan di Area Karhutla, Yayasan Sesalkan Perbedaan Narasi Penanganan

FOTO : Penampakan bangkai orangutan yang ditemukan warga di Desa Penjalaan, Kayong Utara [ ist ]

Ulasan utama berita : 

  • Penemuan Tulang Belulang : Warga menemukan sisa tulang orangutan di area bekas karhutla Desa Penjalaan, Kayong Utara, Jumat (30/10/2026), yang kemudian dilaporkan ke Yayasan Palung.
  • ​Penyebab Belum Pasti : Penyebab kematian satwa masih menunggu pemeriksaan lanjutan dari pihak berwenang.
  • ​Krisis Satwa : Peristiwa ini menambah daftar suram dampak karhutla, menyusul catatan evakuasi 51 orangutan dari wilayah Ketapang dan Kayong Utara akibat terdesak api sejak Agustus hingga Oktober 2026.
  • ​Sorotan Narasi : Muncul sorotan tajam yang menyayangkan perbedaan narasi antar-lembaga dalam penanganan dampak karhutla terhadap satwa liar.

Pewarta/editor : redaksi

KAYONG UTARA [ radarkalbar.com ] – Ancaman nyata terhadap kelangsungan hidup satwa dilindungi kembali mencuat. Seekor orangutan ditemukan dalam kondisi tinggal tulang belulang di tengah area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Penjalaan, Kabupaten Kayong Utara, Jumat (30/10/2026).

​Temuan tragis ini tidak hanya memperpanjang daftar suram dampak karhutla terhadap satwa liar, tetapi juga memicu keprihatinan mendalam setelah munculnya sorotan tajam terhadap perbedaan narasi serta lambatnya koordinasi antar-pihak dalam merespons krisis di lapangan.

​Tulang belulang satwa endemik tersebut pertama kali ditemukan oleh Fery, seorang warga yang tengah bekerja di perkebunan setempat. Ia awalnya mencurigai bau menyengat yang mengarah ke lokasi bekas kebakaran.

​”Saya mencari, takutnya bangkai manusia, rupanya bau bangkai orangutan. Untuk saat ini posisi bangkainya masih di tempat yang sama,” ujar Fery, Jumat (30/10/2026).

​Menyadari temuan tersebut berkaitan dengan satwa dilindungi, Fery segera melaporkannya kepada Yayasan Palung, lembaga konservasi lokal yang kemudian menurunkan tim untuk melakukan peninjauan awal di lokasi kejadian.

Kendati demikian, hingga saat ini penyebab pasti kematian satwa tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah dan masih menunggu investigasi lanjutan dari pihak berwenang.

​Tragedi ini menggarisbawahi betapa masifnya dampak karhutla terhadap populasi orangutan di Kalimantan Barat. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan per 23 Oktober 2026, sebanyak 51 individu orangutan tercatat berhasil diselamatkan dari kawasan terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara sepanjang periode 6 Agustus hingga pertengahan Oktober 2026.

​Sebagian besar satwa tersebut dievakuasi dalam kondisi memprihatinkan—mulai dari dehidrasi, kelaparan, gangguan pernapasan akibat asap pekat, hingga menderita luka bakar serius. Sebelumnya, pada 12 September 2026, tim gabungan BKSDA Kalbar bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Yayasan Palung juga sempat mengevakuasi tiga orangutan, termasuk seekor induk bernama Mama Penja bersama anaknya yang mengalami luka bakar di tangan dan kaki.

​​Di balik temuan tulang belulang ini, muncul reaksi keras dari berbagai kalangan yang menyayangkan adanya perbedaan narasi yang disampaikan oleh sejumlah pihak berwenang dan lembaga konservasi dalam menangani krisis karhutla serta dampaknya terhadap satwa.

​Perbedaan sudut pandang dalam menyampaikan informasi kepada publik dinilai berpotensi mengaburkan urgensi penanganan darurat di tingkat tapak. Sejumlah pihak mendesak agar instansi terkait, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan lembaga konservasi, bersikap lebih transparan, akurat, dan satu suara dalam memaparkan data serta fakta di lapangan.

​Hingga berita ini diturunkan, publik dan pegiat lingkungan masih menanti keterangan resmi serta hasil uji forensik lanjutan dari BKSDA Kalbar dan Yayasan Palung guna mengungkap secara transparan penyebab kematian orangutan tersebut serta memastikan langkah mitigasi konkret agar tragedi serupa tidak kembali terulang. [ Red ]

Publisher : Admin radarakalbar.com

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version