Trump Ancam, Iran Menggeram, Sekutu Kabur

FOTO : Ilustrasi (Ai)

Oleh : Rosadi Jamani ( Ketua Satupena Kalbar ) 

HAMPIR setiap hari Donald Trump ngancam Iran. Iran pun selalu siap ditantang. Sebenarnya, jadi ndak sih perang?.

Mari kita ungkap situasi terkini di sana sambil seruput Koptagul, wak!

Tahun 2026 ini dunia serasa warkop raksasa sejagat raya. Meja goyang, kopi pahit, dan obrolan soal perang nuklir dibahas sambil rebut colokan. Episode terbaru sinetron global pun tayang tanpa jeda iklan, Donald Trump versus Iran, duel dua ego yang sama-sama keras.

Satu pakai kapal induk. Satu pakai doa plus misil balistik. Judul sementaranya jelas, siapa duluan kedip, siapa duluan pura-pura bijak.

Trump, pendekar Caps Lock internasional, kembali ke panggung dengan gaya lama. USS Abraham Lincoln digiring ke Teluk Persia, ditemani armada segede satu kecamatan. Trump ngetweet huruf kapital semua, seolah diplomasi itu lomba teriak paling kencang.

Waktu hampir habis. Ayo negosiasi sekarang atau hadapi sesuatu yang jauh lebih buruk. Ini bukan ancaman biasa, wak. Ini ancaman edisi premium, lengkap dengan kapal nuklir dan drama global.

Tapi yang bikin ceritanya makin seru, sekutu-sekutu Arab malah mendadak jadi penonton netral. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menutup ruang udara, menolak pangkalan, dan bilang perang silakan tapi jangan lewat halaman rumah kami.

Trauma kilang minyak diserang drone Iran 2019 masih segar. Armada Amerika pun harus muter jauh, isi bensin berkali-kali, pilotnya mungkin sambil mikir ini misi tempur atau wisata mahal keliling Timur Tengah.

Di tengah ribut-ribut itu, Turki muncul bak ketua RT global. Erdoğan, sang pemain dua kaki, mendadak jadi mediator. Menteri luar negeri Iran mampir ke Ankara, Trump ditelepon, bahkan ada ide video call bertiga, kayak rapat keluarga besar yang ribut tapi malu didengar tetangga.

Erdoğan bilang solusi militer itu salah besar, sambil pasang kuda-kuda karena kalau Iran runtuh, pengungsi dan krisis energi bakal mampir dulu ke Turki. Ironisnya, negara NATO yang sering dimarahi Trump justru jadi penambal diplomasi paling darurat.

Eropa pun tak mau ketinggalan nimbrung. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, bilang para menteri luar negeri Uni Eropa sepakat memasukkan IRGC, Garda Revolusi Iran, ke dalam daftar organisasi teroris Uni Eropa.

Ini seperti menabur bensin ke api sambil bilang, “Kami cinta damai.” Bagi Iran, cap teroris itu bukan cuma simbol, tapi pukulan politik serius. Bagi Eropa, ini cara elegan ikut ribut tanpa kirim kapal perang, cukup pakai stempel dan konferensi pers.

Sementara itu, China dan Rusia tampil sebagai aktor sok dewasa. China di PBB mengecam petualangan militer, sambil tetap beli minyak Iran harga diskon. Beijing realistis. Iran penting buat energi murah, tapi tidak sepenting itu sampai harus adu jotos dengan Amerika.

Rusia pun sama. Kremlin bilang masih ada ruang dialog, latihan militer diumumkan, helikopter dikirim. Tapi semua paham, kalau situasi terlalu panas, solidaritas itu bisa cair lebih cepat dari es batu di kopi panas.

Iran sendiri tetap galak di layar kaca. Pejabatnya bilang tak akan negosiasi di bawah ancaman, TV negara teriak misil tak akan meleset, penasihat Khamenei ancam Israel. Padahal ekonomi megap-megap, protes internal berdarah, dan satu-satunya kartu as yang tersisa ya ancaman perang. Galak di depan, realistis di belakang.

Akhirnya, kita semua duduk di pinggir jurang global, ngopi sambil nonton dua ego besar saling unjuk gigi. Trump bilang semoga tak perlu menyerang, Pentagon siapkan opsi. Iran siap perang sekaligus dialog. Arab tutup pintu. Turki jadi penengah. Eropa cap teroris. China dan Rusia hitung untung. Kita cuma berharap ini semua cuma gertakan paling hiperbolis sepanjang sejarah, bukan awal cerita horor dunia gara-gara satu tweet kepencet Caps Lock.

“Bang, kalau negara kita dikepung Trump macam Iran itu, gimana lah. Apakah melawan atau tunduk saja sama Trump?”

“Harus melawanlah, wak. Pasukan loreng ala-ala tentara itukan banyak. Kalau dikumpulkan semua, Trump pasti ngeper duluan.” Ups.

 

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article
Exit mobile version