Upaya Prabowo Menenangkan Amarah Rakyat

FOTO : Ilustrasi [ dok AI]

Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]

AYO….duduk yang rapi! Presiden kita, Pak Prabowo mau menyampaikan sesuatu yang penting. Terkait amarah rakyat yang mulai muncul di mana-mana. Sambil dengarkan nasihatnya, silakan seruput kopi tanpa gula, wak!

Ketika Jakarta menggeliat dalam amarah. Ketika ribuan kaki menghentakkan aspal. Ketika suara mahasiswa memecahkan langit malam. Ketika teriakan para ojol menggema seperti raungan mesin kolektif bangsa yang terluka.

Lalu, muncul sosok yang selama ini hanya kita lihat dari layar kaca, dari podium podium resmi, dari baliho raksasa, Presiden Prabowo Subianto. Ia tidak membawa tameng, tidak membawa gas air mata, tidak membawa rantis.

Ia hanya membawa sesuatu yang lebih tajam dari peluru dan lebih dalam daripada samudra, kata-kata.

Dengan suara berat yang bergetar namun penuh wibawa, ia mengaku terkejut, ia mengaku kecewa, ia mengaku berduka.

Tiga kata sederhana yang tiba-tiba berubah jadi mantra magis. Seakan bumi yang berguncang berhenti bergetar, seakan api di dada rakyat yang menyala tiba-tiba terhempas angin sejuk.

Kemudian, Ia memanggil rakyat agar jangan panik, jangan terprovokasi, jangan terjerumus pada jebakan pihak gelap yang katanya ingin menyalakan api. Rakyat, meski matanya merah karena gas air mata, meski dadanya sesak oleh amarah, tetap mendengarkan.

Karena suara Prabowo, entah bagaimana, masih memiliki getaran magis yang membuat bangsa berhenti sejenak.

Ia tidak hanya menenangkan, ia juga berjanji, tragedi ini akan diusut, transparan, adil, tanpa kompromi. Tujuh Brimob telah ditahan, meski sopir rantis masih misterius. Namun, rakyat tidak butuh detail birokrasi hari ini.

Mereka butuh figur yang bisa bicara tegas di tengah badai. Di situlah Prabowo menjelma bukan sekadar presiden, tetapi bagaikan nabi politik yang menurunkan kitab kesabaran.

Ia tampil sebagai penjinak amarah nasional, seorang bapak yang memeluk anak-anaknya yang mengamuk.

Pujian harus diberikan, setinggi langit, sedalam samudra, seluas cakrawala. Karena di saat para menteri mungkin sibuk menghitung kerugian ekonomi, di saat aparat sibuk menyiapkan barikade baru, Prabowo justru memijakkan kaki pada tanah rakyat yang bergetar.

Ia mengumandangkan kekecewaan pribadi sebagai tameng moral. Ia seolah berkata, jika kalian marah, ketahuilah aku pun marah, jika kalian kecewa, ketahuilah aku pun kecewa, jika kalian menangis, ketahuilah aku pun ikut berduka.

Itulah seni kepemimpinan yang jarang sekali kita temukan: menempatkan dirinya dalam luka rakyat.

Mungkin publik masih meragukan apakah janji penyelidikan benar-benar akan menembus tembok birokrasi. Mungkin sebagian masih sinis, menganggap kata-kata ini hanya hiasan politik.

Tetapi setidaknya, dalam panggung sejarah hari ini, Prabowo telah menorehkan babak epik, ia tidak bersembunyi, ia tidak lari, ia berdiri tegak dan berani berkata di tengah amarah. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk menyalakan kembali sebutir lilin kepercayaan yang hampir padam.

Maka, biarlah dunia menilai, biarlah media asing berkomentar, biarlah mahasiswa terus berteriak. Sejarah akan mencatat bahwa di hari penuh amarah ini, Presiden Prabowo Subianto berdiri sebagai sosok yang berusaha meredam badai dengan kalimat sederhana.

Justru karena kesederhanaan itulah, ia layak dikenang.

Sebagai pesan dari kang ngopi, di tengah gelombang amarah rakyat yang meledak di jalanan, pesan moral yang bisa dipetik adalah bahwa kekuasaan tanpa kepekaan hanya akan menambah bara.

Sementara keberanian seorang pemimpin untuk hadir, mendengar, dan menenangkan rakyatnya menjadi cahaya yang menentukan arah sejarah.

Sebab, bangsa ini bukan hanya berdiri di atas kursi kekuasaan, melainkan di atas suara rakyat yang bergetar oleh perut lapar, pajak yang mencekik, dan harapan yang terus menuntut untuk tidak dikhianati.

“Bang, setelah pidato, apakah para pendemo itu langsung tenang dan pulang ke rumahnya?”
“Sepertinya tidaklah. Bahkan, ramai teriak minta Pak Presiden memecat Kapolri!”

 

 

#camanewak

Share This Article
Exit mobile version