Demi Febrie, Hotman Tega Lecehkan Profesi Wartawan, Eh..Malah Mundur

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

HOTMAN Paris kembali membuat sensasi. Dengan alasan saraf kejepit, dia memutuskan tidak lagi menjadi pengacara Febrie. Dia lebih memilih berobat.

Benarkah demikian? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, lae!

Baru kemarin publik menyaksikan Hotman Paris tampil bak pahlawan super membela mantan Jampidsus Febrie Adriansyah. Demi membela kliennya, Hotman tega melecehkan profesi wartawan. Para jurnalis tak terima. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pun melapor ke polisi. Netizen sudah menyiapkan kursi lipat, kopi hitam, dan kuota internet untuk menikmati drama berjilid-jilid.

Razman Nasution juga dikabarkan geregetan. Eh, tahu-tahu episode terakhir muncul lebih cepat dari pulangnya Argentina.

Hotman resmi mundur. Musuh yang mengalahkannya bukan jaksa. Bukan penyidik. Bukan hakim. Bukan pula netizen dengan jempol sekeras baja. Lawannya adalah ruas tulang belakang yang memutuskan melakukan demonstrasi.

Pada 9 Juli 2026, Hotman menjalani operasi saraf kejepit di Singapura. Dokter sudah memberi resep paling sederhana di dunia, istirahat dua minggu. Kalimat itu mestinya sesederhana, “Jangan hujan-hujanan.” Namun rupanya bekerja bagi Hotman sudah seperti bernapas. Dokter menyuruh rebahan, tubuhnya malah membuka berkas perkara. Akibatnya, nyeri pinggang datang lagi seperti mantan yang tahu tanggal gajian.

Dokter Singapura sampai dikabarkan marah karena pasiennya tetap bekerja. Bisa dibayangkan ekspresi sang dokter. Mungkin dalam hati ia berkata, “Saya memperbaiki saraf, bukan memperbaiki keras kepala.”

Pada 21 Juli 2026, Hotman memberi tahu Febrie, dirinya ingin mundur. Febrie kabarnya meminta keputusan itu ditunda. Sayangnya saraf tidak mengenal lobi. Tulang belakang juga bukan anggota DPR yang bisa diajak rapat.

Dua hari kemudian, tepat 23 Juli 2026, Hotman mengumumkan pengunduran dirinya dalam konferensi pers di RS Medistra, Jakarta Selatan. Ia hadir menggunakan kursi roda dan menyatakan akan kembali ke Singapura untuk pemeriksaan lanjutan. Ia menegaskan alasan mundur murni kesehatan, bukan tekanan politik ataupun tekanan hukum. Jika dipaksakan terus bekerja, risikonya bisa lumpuh.

Publik langsung mendadak menjadi dokter spesialis saraf. Timeline media sosial berubah menjadi ruang praktik neurologi. Ada menjelaskan MRI, ada membahas tulang belakang, ada pula mendadak hafal anatomi lebih cepat dari hafal isi dompet sendiri.

Padahal sebelumnya panggung politik sedang panas. Saat menerima kuasa pada 17 Juli 2026, Hotman menyebut kasus Febrie sebagai bentuk kriminalisasi terhadap jaksa berprestasi. Ia membawa nama Presiden Prabowo Subianto dalam pembelaannya dengan menyatakan Febrie berjasa menyelamatkan aset negara. Pernyataan itu memancing polemik ke mana-mana, ditambah kontroversi ucapannya yang dianggap melecehkan profesi wartawan hingga berujung laporan PWI ke polisi.

Drama sudah lengkap. Tinggal menunggu soundtrack. Namun semesta ternyata memilih genre komedi. Semua perdebatan raksasa itu akhirnya tumbang oleh sesuatu yang ukurannya tidak sebesar kabel charger, yaitu saraf yang kejepit.

Kasus Febrie sendiri tetap berjalan. Mantan Jampidsus itu masih berstatus tersangka dalam perkara dugaan korupsi PT Asabri dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Mundurnya Hotman tidak menghentikan proses hukum. Posisi pengacara kini diteruskan oleh Farisi. Masa pendampingan Hotman pun hanya sekitar sepekan sejak menerima kuasa pada 17 Juli hingga resmi mundur pada 23 Juli 2026.

Negeri ini memang sulit ditebak. Kita mengira bab berikutnya adalah perang argumen hukum. Ternyata yang tampil sebagai tokoh utama justru tulang belakang. Mungkin inilah satu-satunya negara di dunia yang membuat saraf kejepit sukses mengalahkan rating drama politik nasional. Netflix saja kalau melihat alurnya mungkin memilih menyerah lalu membuka warung bakso.

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

 

 

Ruang Gagasan & Penyangkalan :

TULISAN ini adalah hamparan pemikiran mandiri dan refleksi personal dari sang penulis. Redaksi hadir sebagai wadah yang merawat keberagaman perspektif, tanpa memiliki atau mendikte arah pemikiran di dalamnya. Oleh karena itu, setiap argumen, sudut pandang, dan implikasi dari tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab intelektual sang penulis.

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version