Prabowo Mulai Nyerah, Anggaran MBG Dipotong Rp 67 Triliun

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

SEMUA orang tahu, program MBG itu bukan sekadar program pemerintah. Itu anak kesayangan Prabowo Subianto.

Program level dewa. Program yang auranya seperti proyek final boss APBN. Anggarannya Rp335 triliun. Angka yang kalau disebut di warung kopi bisa bikin orang mendadak pura-pura ngerti fiskal.

Saking besarnya, banyak kementerian lain kelihatan seperti anak magang minta tambahan uang parkir. Dari awal, publik sudah paham, mau dikritik seperti apa pun, MBG tetap jalan. Mau ekonom marah. Mau oposisi ngamuk. Mau netizen bikin thread sepanjang kitab kuning. Program ini seperti kereta diesel tanpa rem.

Bahkan banyak yang bercanda, “Yang bisa menghentikan MBG cuma kiamat.” Eh ternyata… kiamatnya datang bukan dari asteroid. Tapi dari Realita Ekonomi.

Tiba-tiba pemerintah memangkas anggaran MBG Rp 67 triliun. Dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Satu Indonesia langsung bengong seperti habis lihat harga beras naik sebelum gajian.

Pemerintah bilang ini cuma “efisiensi” dan “optimalisasi tata kelola”. Bahasa pejabat memang luar biasa. Kalau rakyat mengurangi lauk disebut “tanggal tua”. Kalau negara menghilangkan Rp67 triliun disebut “penyesuaian”.

Padahal itu duit segede galaksi. Bisa jadi jutaan porsi makan anak sekolah. Bisa jadi telur, ayam, susu, ikan, sayur, sampai sendok stainless yang tidak bengkok kalau dipakai ngaduk kuah.

Yang lucu sekaligus tragis, dapur-dapur MBG sebenarnya sejak awal sudah hidup dalam mode bertahan hidup. Jatah bahan baku cuma Rp8.000 sampai Rp10.000 per porsi. Dengan duit segitu, pengelola dapur harus jadi pesulap level internasional. Harus ada nasi, lauk, sayur, protein, dan kalau bisa anak-anak jangan sadar sedang makan di tengah badai fiskal.

Saking parahnya badai fiskal ini sampai Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan meminta maaf kepada investor global dan pengusaha manajemen aset di Singapura. Naun bayangkan. Biasanya pejabat kita pidato penuh percaya diri. Ini malah sudah sampai fase “maaf ya keadaan lagi chaos.”

Belum selesai di situ, China Chamber of Commerce in Indonesia resmi melayangkan protes ke Presiden Prabowo soal iklim usaha di Indonesia. Mereka menyoroti kenaikan pajak dan royalti tambang, aturan devisa hasil ekspor alias DHE SDA, sampai penegakan hukum yang dianggap terlalu galak dan mengganggu bisnis.

Kalau investor asing mulai protes, itu tandanya mesin ekonomi mulai bunyi, “kreeeeek…”

Hari ini, Sabtu 23 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp17.761 per USD untuk kurs jual dan Rp17.585 per USD untuk kurs beli menurut Bank Indonesia. Rupiah sekarang nongkrong di level terlemah sepanjang sejarah. Ini bukan melemah lagi. Ini rupiah sudah seperti jaksa mencari Silpester Matutina.

Belum lagi perang Iran versus AS-Israel belum benar-benar damai. Selat Hormuz buka-tutup seperti rolling door ruko mau bangkrut. Padahal jalur itu urat nadi minyak dunia. Kalau Hormuz ngamuk, harga energi global bisa ikut salto. BBM naik. Ongkos distribusi naik. Harga pangan ikut naik sambil joget TikTok.

Siapa yang paling dulu kena? Bukan pejabat rapat di hotel. Tapi dapur MBG. Karena dapur hidup dari harga telur, bukan dari pidato.

Kalau rupiah makin jeblok menuju Rp18 ribu bahkan Rp20 ribu per dolar, Rp10 ribu per porsi nanti mungkin cuma cukup buat nasi, kuah, dan kenangan ayam.

Pengelola dapur bakal mulai panik:
“Bu, telurnya dibelah dua.”
“Ayamnya dipotret saja buat motivasi.”
“Ikannya jangan digoreng dulu, nanti anak-anak terlalu berharap.”

Lama-lama MBG bisa berubah nama jadi, “Makan Bertahan Global.”

Di sinilah ironi terbesar muncul. Program yang dulu digambarkan tak bisa dihentikan akhirnya bertemu musuh paling mematikan di republik ini, matematika APBN. Karena, pidato paling berapi-api pun kadang kalah oleh angka di kalkulator Kementerian Keuangan.

“Bang, harga kopi per gelas sepertinya kena imbas juga ni.”
“Untuk sementara, aman, wak. Koptagul belum naik di Jalan Hijaz.”

Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article
Exit mobile version