Abu Lahab & Abu Jahal, Duo Oposisi Abadi yang Takut Kehilangan Kursi

FOTO : ilustrasi [ AI ]

Source : Rilis | Publisher : admin redaksi

TULISAN keenam edisi Ramadan. Sebelumnya kita bahas tokoh protagonis, kali ini antagonis. Sesuai permintaan followers saya, “Bang, bahas juga Abu Jahal dan Abu Lahab, dong.” Inilah kisah duo oposisi sejati, penantang Rasulullah di awal lahirnya Islam.

Sambil menunggu azan salat Jumat, simak narasinya lalu bayangkan seruput Koptagul di tepian Sungai Kapuas, wak!

Abu Jahal dan Abu Lahab ini kalau hidup di zaman sekarang, mungkin sudah punya podcast sendiri, “Ngopi Bareng Elite Quraisy, Membahas Cara Menghadang Perubahan.” Dua nama ini bukan sekadar tokoh antagonis dalam sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah.

Mereka adalah simbol oposisi garis keras, oposisi yang bukan cuma beda pendapat, tapi hobi menyiksa, memfitnah, dan merancang pembunuhan. Kalau ada lomba “Siapa Paling Anti-Tauhid”, mereka juara umum, dapat piala bergilir dari berhala Al-Lat dan Al-Uzza.

Kisah mereka bukan dongeng warung kopi. Tercatat rapi dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Ishaq yang kemudian disunting Ibnu Hisyam, dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir, serta diperkuat hadis sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Bahkan Alquran turun langsung menyebut nama salah satu dari mereka dalam Surah Al-Masad (111). Ente bayangkan, sampai diabadikan dalam wahyu. Ini bukan sekadar haters, ini haters level langit.

Abu Lahab, nama aslinya Abd al-Uzza bin Abd al-Muththalib, paman kandung Nabi sendiri. Dijuluki “Bapak Api” karena wajahnya kemerahan dan tampan. Rumahnya sebelahan dengan Nabi, cuma beda tembok.

Tapi tembok hati? Setebal ego pejabat yang alergi kritik. Ia kaya dari perdagangan dan riba. Ajaran Islam yang menyatakan semua manusia setara di hadapan Allah jelas mengancam kursi empuk elite Quraisy. Mirip elite mana pun yang panik kalau rakyat mulai sadar, kekuasaan bukan warisan turun-temurun.

Saat Nabi mengundang keluarga dalam peristiwa Da’watul ‘Asyirah, Abu Lahab berdiri dan berteriak, “Celakalah kamu sepanjang hari! Untuk ini kamu kumpulkan kami?” Turunlah Surah Al-Masad (111), “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan binasalah ia…” Itu seperti teguran resmi level ilahi. Ketika Quraisy memboikot Bani Hasyim pada tahun ke-7 kenabian, Abu Lahab satu-satunya dari klan sendiri yang tidak membela.

Ia malah ikut menandatangani dokumen boikot. Kalau ini politik modern, mungkin ia dapat jabatan komisaris kehormatan karena berhasil “berseberangan demi stabilitas”.

Ia bahkan memaksa dua anaknya menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum, putri Nabi. Ancaman klasik. “Aku haram melihat kalian kalau tidak menceraikan putri Muhammad!” Istrinya, Ummu Jamil (Arwa binti Harb), setia menyebar duri di jalan Nabi. Alquran menyebutnya “hammalatal hatab” pembawa kayu bakar, yang kelak di neraka memakai tali sabut di lehernya. Satire ilahi yang pedasnya melebihi pidato kampanye.

Akhir hidup Abu Lahab tragis. Setelah Perang Badar (2 H) yang tidak ia ikuti, ia marah mendengar kekalahan Quraisy, memukul hamba sahaya Abbas, lalu dipukul balik hingga kepalanya pecah. Lukanya bernanah, bau busuk. Anak-anaknya takut mendekat karena khawatir tertular. Mayatnya didorong dengan tongkat dan ditimbun batu jauh dari pemakaman biasa. Dari elite terpandang jadi jasad yang dijauhi. Sejarah memang kejam pada kesombongan.

Lalu ada Abu Jahal, nama aslinya Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah. Awalnya dijuluki Abu al-Hakam “Bapak Kebijaksanaan”. Tapi Nabi menjulukinya Abu Jahal, “Bapak Kejahilan”. Ironi tingkat dewa debat. Ia pemimpin Bani Makhzum, klan kuat pesaing Bani Abd Manaf.

Dalam Sirah, ia terang-terangan berkata, persaingan antarklan membuatnya menolak kenabian. “Sekarang mereka mengaku ada nabi dari mereka? Demi Allah, kami tidak akan percaya!” Jadi ini bukan soal kebenaran, ini soal gengsi politik. Familiar, bukan?

Dialah dalang penyiksaan Bilal bin Rabah, batu besar di dada di bawah terik matahari, hingga Bilal hanya mampu berkata, “Ahad… Ahad…” Ia juga membunuh Sumayyah dengan tombak, menjadikannya syahid pertama. Yasir tewas disiksa. Abdullah bin Mas’ud dipukuli karena membaca Alquran. Bahkan, ia pernah melemparkan kotoran unta ke punggung Nabi saat sujud di Ka’bah. Oposisi model begini bukan lagi debat argumen, tapi teror sistematis.

Ia pula yang mengusulkan pembunuhan kolektif Nabi. Setiap klan mengirim satu pemuda agar darahnya tersebar dan Bani Hasyim tak bisa menuntut balas. Strategi “tanggung jawab bersama” konspirasi yang rapi, kalau saja bukan melawan takdir.

Di Perang Badar, ia memimpin sekitar 1.000 pasukan meski kafilah dagang sudah selamat. Ia berdoa di Ka’bah, “Ya Tuhan, siapa yang paling merusak hubungan kekeluargaan, binasakan hari ini.” Ia yakin itu Nabi. Ternyata, doa kadang seperti bumerang politik, salah sasaran, kena diri sendiri.

Abu Lahab dan Abu Jahal mengajarkan satu hal, kebencian yang dibungkus gengsi dan kepentingan hanya akan menulis nama sendiri dalam bab kehinaan. Sejarah tidak pernah ramah pada mereka yang memusuhi kebenaran demi kursi, harta, dan simbol-simbol kosong. Lucunya, pola itu selalu berulang, hanya nama dan kostum yang berbeda.

Kisah Abu Lahab dan Abu Jahal mengajarkan, kesombongan, gengsi kekuasaan, dan ketakutan kehilangan pengaruh dapat membutakan hati hingga kebenaran terasa seperti ancaman. Ketika harta, status sosial, dan persaingan politik dijadikan tuhan kecil dalam dada, nurani pelan-pelan mati, dan manusia rela mengorbankan keluarga, kemanusiaan.

Bahkan, akal sehatnya sendiri. Sejarah menunjukkan, kebencian yang dipelihara demi mempertahankan dominasi hanya akan berujung pada kehinaan. Sementara keteguhan iman dan kesabaran justru meninggikan derajat.

Maka, siapa pun yang hari ini merasa paling kuat, paling pintar, dan paling berkuasa, hendaknya bercermin. Jangan sampai nama yang ingin dikenang sebagai pemimpin justru tercatat sebagai simbol keangkuhan yang ditelan zaman.

Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article
Exit mobile version