Lain Polisi, Lain Jaksa, Lain Pula Dua Pengacara di Kasus Febrie

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

TADI siang saya bikin quote, kalau ente merasa telur ayam naik, bertelur sendiri. Warga Koptagul mendidih. Sekarang quote baru, “Kalau merasa hukum tak bisa lagi adil, bikin hukum sendiri.” Quote ngaco jangan disitasi ya!

Kalau Piala Dunia nanti pukul 04.00 pagi mempertemukan Prancis melawan Inggris untuk berebut posisi ketiga, hukum Indonesia sudah lebih dulu memainkan laga perebutan logika. Bedanya, di sepak bola cuma ada satu wasit. Di republik ini, wasitnya banyak, aturannya berubah-ubah, sementara publik disuruh jadi VAR yang layarnya sering mati sendiri.

Babak pertama dibuka Hotman Paris Hutapea. Dengan percaya diri ia memastikan kliennya, Febrie Adriansyah, tidak pernah menerima uang Rp50 miliar dari Tan Kian. Nol. Kosong. Bahkan lebih kosong dari dompet setelah bayar cicilan. Lalu Hotman melepaskan tendangan salto yang bikin stadion hening. “Kalau Tan Kian pemberi suap, kenapa dia tidak jadi tersangka?” Pertanyaan itu melayang tinggi, mungkin masih mengorbit bersama jawaban yang belum menemukan landasan.

Hotman juga mengingatkan perkara Asabri sudah berjalan jauh sebelum Febrie menjabat. Ibarat pemain baru masuk menit ke-89, tetapi begitu laga selesai malah dituduh mencetak gol bunuh diri. Sebagai penutup serangan, Hotman menyebut kliennya ikut mengembalikan uang negara hingga Rp430 triliun. Angka sebesar itu bisa bikin kalkulator minta cuti. Namun, katanya, perlakuannya malah seperti maling ayam. Republik ini memang penuh kejutan.

Masuk babak kedua, giliran Don Ritto. Kalau Febrie masih bisa menikmati kopi di kafe de’Clan yang menurut Hotman bukan miliknya, Don Ritto justru langsung mendapat kartu merah menuju Rutan C7 Kejaksaan Agung. Kuasa hukumnya, Handika Honggowongso, mengaku syok karena proses serah terima berjalan normal, tahu-tahu kliennya langsung ditahan.

Tim Don juga membantah cerita uang 5 juta dolar Singapura yang disebut berasal dari Fery Boboho. Mereka menyebut saksi Norman sudah membantah, tujuh pegawai money changer tidak mengakui transaksi itu, bahkan Fery Boboho disebut belum pernah diperiksa secara resmi. Waduh, ini bukan lagi drama hukum. Ini sinetron mirip Iran vs Amerika, kapan berhenti perang.

Lalu masuk babak paling absurd, perebutan aset. Hotman mengatakan rumah Sentul dan kafe de’Clan bukan milik Febrie, melainkan dikelola Don Ritto sejak 2022. Di sisi lain, Don mengaku uang ratusan miliar dan emas batangan 74 kilogram yang ditemukan di rumah Sentul memang miliknya untuk operasional yayasan dakwah dan pendidikan yang membina sekitar 700 santri Papua dan Maluku.

Publik langsung melongo. Tujuh puluh empat kilogram emas? Itu bukan cadangan yayasan, itu sudah seperti gudang logam mulia yang nyasar ke ruang tamu. Rumah Sentul pun berubah menjadi bola pertandingan. Ditendang ke kubu sini, disundul ke kubu sana. Semua mengaku benar. Sementara rakyat cuma jadi penonton yang bingung siapa sebenarnya pemilik gawang.

Di tengah kekacauan itu, saya jadi teringat ucapan Presiden Prabowo yang sempat viral, “Kalau beras mahal, tanam sendiri.” Semoga jangan sampai lahir versi satirenya, kalau hukum makin tidak jelas, bikin hukum sendiri. Ups. Kalau bingung siapa tersangka, tentukan sendiri. Kalau bingung siapa pemilik aset, klaim sendiri. Jangan sampai republik ini berubah menjadi minimarket hukum swalayan. Ambil pasal di rak kiri, pilih penyidik di lorong tengah, lalu bayar putusan di kasir.

Akhirnya, kalau Prancis dan Inggris nanti masih berebut posisi ketiga dengan aturan FIFA yang jelas, liga hukum republik ini justru lebih seru. Semua berebut bola, tetapi gawangnya pindah setiap lima menit. Yang paling kasihan cuma satu, logika. Sejak peluit pertama berbunyi, dia sudah ditandu keluar lapangan. Gayang ini mirip amplop di kasus Raja Juli vs Bupati Kuansing, tidak tahu apa isinya.

“Pusing saya, Bang. Hukum kok gini amat sih bila berhadapan dengan petinggi hukum.”

“Tenang, wak. Targetnya tercapai, Febrie sudah diamputasi. Soal gimana nanti, akan dilupakan begitu saja. Bagus seruput Koptagul, wak!”

 

 

 

 

Oleh : Rosadi Jamani

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article

You cannot copy content of this page

Exit mobile version