Cerpen “Koordinat Cinta yang Hilang”

FOTO : ilustrasi (Ai)

Oleh : Rosadi Jamani ( Ketua Satupena Kalbar) 

INI cerpen pertama saya di tahun 2026. Based on true story. Kisah seorang dara cantik yang mau menikah, namun semua menghilang.

Simak kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!

Pagi itu, langit tidak sekadar biru. Ia terlalu sopan, terlalu rapi, seolah sedang menghadiri pesta pernikahan yang batal tanpa pernah diberi tahu. Angin berhembus dengan santun, awan berjalan pelan, dan dunia sepakat berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa yang akan hilang hari itu.

Pesawat ATR 42-500, tubuh logam kecil dengan umur dua puluh lima tahun dan kelelahan yang disembunyikan, mengangkat sepuluh nyawa dari Yogyakarta. Sepuluh cerita yang masih setengah jalan. Sepuluh rencana yang belum sempat minta izin kepada maut.

Di salah satu kursi, duduk seorang perempuan bernama Florencia Lolita Wibisono. Orang memanggilnya Ollen. Nama yang lembut, seolah diciptakan agar mudah dipanggil pulang.

Ollen menatap jendela. Di pantulannya, ada wajah perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istri. Ia tidak membawa gaun pengantin hari itu, tapi ia membawa bayangan gaun yang putihnya belum sempat kotor oleh realitas.

Di tas kecilnya, mungkin ada ponsel berisi pesan yang belum terkirim, foto cincin yang belum dipamerkan, dan catatan belanja yang terlalu optimistis, bunga, katering, tanggal yang belum berani ditulis. Ollen somo kaweng. Mau nikah. Kalimat yang diucapkan sambil tertawa, karena hidup masih terlihat jinak.

Ia berdarah Manado. Dari ibunya, Kendis, Minahasa, tempat doa-doa tidak pernah disingkat. Doa diucapkan dengan napas panjang, dengan jeda yang memberi waktu bagi Tuhan untuk mendengar. Doa yang hari itu naik lebih cepat dari pesawat, tapi entah mengapa tiba lebih lambat.

Pesawat melaju. Mesin berdengung seperti lagu nina bobo bagi takdir. Lalu, di antara Maros dan Pangkep, langit memutuskan berhenti ramah. Kontak hilang. Kata yang terdengar administratif, dingin, dan kejam. Hilang kontak, seolah manusia adalah sinyal yang bisa disambungkan ulang. Seolah cinta bisa dihubungi kembali jika baterai diganti.

Di darat, waktu retak. Jam di rumah keluarga Ollen berhenti berdetak, bukan karena rusak, melainkan karena tidak sanggup lagi bergerak ke depan. Keluarga bersiap ke Makassar.

Kata bersiap terdengar ringan bagi mereka yang tak ikut mengemas duka. Mereka memasukkan pakaian secukupnya, tapi lupa, atau mungkin tak sanggup, memasukkan air mata, karena air mata tak pernah cukup. Mereka membawa harapan seperti kaca tipis, dijaga, dipeluk, namun tetap melukai.

“Semoga mukjizat,” kata mereka. Kalimat paling rapuh yang dimiliki manusia. Mukjizat selalu diminta ketika semua pintu sudah menutup diri. Mukjizat adalah cara kita menawar kenyataan, meski tahu tawaran itu sering ditolak.

Sementara itu, gunung Bulusaraung berdiri tua dan bisu. Ia telah melihat ratusan tahun manusia datang dan pergi. Hari itu ia kembali menerima rahasia. Badan pesawat ditemukan di puncaknya. Badan, kata yang menyayat. Mengingatkan bahwa yang jatuh bukan hanya logam, tapi juga tubuh-tubuh yang pernah hangat, yang pernah memeluk, yang pernah berjanji.

Bayangkan Ollen pada detik terakhir. Tidak perlu ledakan, tidak perlu teriakan heroik. Cukup sunyi. Sunyi yang berat. Mungkin ia memikirkan ibunya. Mungkin ia memikirkan calon suaminya yang sedang menghitung hari.

Mungkin ia memikirkan satu hal paling sederhana, Aku belum sempat hidup. Tragedi paling kejam bukanlah kematian, melainkan hidup yang baru hendak dimulai lalu dipadamkan.

Di tempat lain, gaun pengantin menunggu di masa depan yang tak jadi datang. Cincin masih bulat, belum pernah menyentuh jari yang seharusnya. Undangan belum dicetak, tapi perpisahan sudah diumumkan oleh alam.

Inilah hidup bekerja sempurna. Pernikahan dibatalkan tanpa pemberitahuan, oleh kekuatan yang tidak bisa diajak bicara.

Tim SAR bekerja, manusia melawan medan, negara melawan cuaca. Mereka mencari bukan hanya korban, tetapi kepastian, karena bagi keluarga, ketidakpastian lebih menyakitkan daripada kabar terburuk. Lebih baik luka yang berdarah daripada harapan yang menggantung.

Lalu kita, yang membaca kisah ini, tiba-tiba tersadar. Betapa sombongnya kita pada rencana. Betapa yakinnya kita pada jadwal tiba. Padahal hidup tidak pernah menjanjikan pendaratan. Ia hanya memberi tiket sekali jalan, lalu menonton dari kejauhan saat kita percaya segalanya akan baik-baik saja.

Florencia Lolita Wibisono. Ollen. Namamu kini bukan sekadar tercatat di manifes. Namamu tinggal di dada orang-orang yang mencintaimu, sebagai lubang yang tak bisa ditutup oleh waktu. Jika tangis jatuh saat membaca ini, biarkan. Itu bukan kelemahan. Itu tanda, di dunia yang sering dingin dan cepat lupa, kita masih manusia.

 

 

 

 

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article
Exit mobile version