Mengenal Dyastasita WB, Juri LCC 4 Pilar yang Sedang Dicari Netizen

FOTO : Ilustrasi [ Ai ]

PASCA dianggap “menzalimi” SMAN 1 Pontianak di ajang LCC 4 Pilar, sosok Dyastasita WB kini berubah dari pejabat birokrasi menjadi makhluk paling dicari netizen.

Diuber sampai ke lubang cacing sekali pun. Hilang. Betapok. Lenyap. Seperti habis memakai jurus ninja level konstitusi.

Tidak ada klarifikasi. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada video permintaan maaf dengan backsound piano sedih. Yang ada hanya keheningan… keheningan yang membuat netizen Indonesia semakin brutal melakukan pencarian.

Sekarang, nama Dyastasita WB beredar di mana-mana seperti legenda urban. Orang membuka Google bukan lagi untuk cari resep ayam kecap, tapi untuk mengetik penuh emosi: “Dyastasita WB sekarang di mana?”

Siapa sebenarnya pria yang berani merendah budak-budak Pontianak ini? Rupanya ia Kepala Biro Pengkajian Konstitusi di Sekretariat Jenderal MPR RI. Pangkat Pembina Utama IV/e. Pejabat negara berkelas dengan email resminya dyastasita@setjen.mpr.go.id. Punya profil cantik di situs resmi Setjen MPR.

Sarjana S.Sos yang tugasnya sehari-hari mengkaji konstitusi, tapi di lapangan malah mengkaji “artikulasi” siswa SMA sampai minus lima poin. Luar biasa sekali dedikasinya.

Baru-baru ini, tepat pada 9 Mei 2026, Dyastasita WB mencetak rekor nasional sebagai juri yang paling konsisten dalam ketidakkonsistenan.

Ketika tim SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan mekanisme pemilihan anggota BPK dengan kalimat “dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan Presiden”, beliau langsung kasih nilai minus lima.

Alasannya? “Pertimbangan DPD-nya tidak ada” dan artikulasi kurang memuaskan. Padahal jawaban itu secara substansi benar adanya.

Tapi tunggu, cerita belum selesai. Pertanyaan yang persis sama diberikan ke SMAN 1 Sambas. Jawaban mereka hampir identik, intinya sama persis, tapi boom! Dyastasita WB tersenyum manis dan memberikan plus sepuluh. “Intinya sudah benar,” katanya dengan penuh kebijaksanaan.

Satu tim dihukum mati, satu tim diangkat ke surga. Drama lebih epik dari sinetron pukul 19.00.

Netizen langsung heboh. SMAN 1 Pontianak protes sopan di tempat, tapi juri dan MC malah membela diri dengan gaya “keputusan dewan juri final dan tak bisa diganggu gugat”. Hasilnya? Sekolah Pontianak resmi minta klarifikasi terbuka, netizen banjiri akun MPR dengan meme, dan Dyastasita WB mendadak jadi trending topic yang paling dicari orang Indonesia setelah “cara resign dari pekerjaan”.

Padahal kalau dilihat dari track recordnya, beliau bukan orang sembarangan. Pernah jadi Pejabat Pembuat Komitmen di tahun 2020, sempat diperiksa KPK sebagai saksi (bukan tersangka ya, tenang), dan hartanya menurut LHKPN per Maret 2026 tercatat Rp581.220.940 bersih. Ada tanah dan bangunan di Jakarta Pusat plus Jakarta Selatan senilai ratusan juta.

Hidupnya stabil, karirnya moncer, tapi satu momen juri LCC bikin namanya lebih dikenal dari seumur hidup mengkaji konstitusi.

Sekarang Dyastasita WB sedang menjadi buruan netizen. Bukan untuk diwawancara mendalam soal Empat Pilar, tapi untuk dimintai penjelasan kenapa minus lima dan plus sepuluh bisa terjadi di ajang yang katanya mendidik kebangsaan.

Mungkin besok-besok beliau akan keluar dengan pernyataan resmi, atau mungkin juga sibuk mengkaji konstitusi di ruangan ber-AC sambil pura-pura tidak tahu ada badai di dunia maya.

Intinya, selamat datang di era baru, teman-teman. Di mana seorang Kepala Biro Pengkajian Konstitusi bisa lebih viral karena minus lima dari karena karya ilmiahnya.

Dyastasita WB, sang superstar juri yang sedang dicari-cari netizen. Kalau kamu bertemu beliau, tolong sampaikan salam dari tim Pontianak ya. Mereka masih nunggu penjelasan yang artikulasinya jelas dan konsisten.

“Jangan kasih kendor, Bang. Uber terus dapat ketemu tu budak.”

“Siap, wak. Kalau jumpe tak ajak ngopi Koptagul di Asiang.” Ups

Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]

#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Share This Article
Exit mobile version